Seen the Unseen

Seminggu yang lalu saya berlibur bersama keluarga kakak saya ke Anyer. Karena waktu itu hanya mengisi waktu luang selama week end, jadi kami memutuskan untuk tidak menginap. Jadi berangkat pagi buta dan baru pulang sore hari.

Pas nyampe di Anyer, kami nyewa satu saung yang bisa dipakai selama sehari penuh. Harga sewa saungnya hanya Rp.70.000 selama sehari penuh, dari pagi sampai sore. Harga sewa ini termasuk murah jika dibandingkan dengan harga sewa saung pelabuhan ratu, Rp.25.000/jam!

Anyway, saya nggak akan cerita tentang gimana liburan saya di Anyer karena ya cuman gitu-gitu aja, main ombak, main banana boat dan menikmati suasana pantai yang cukup ramai dengan pengunjung. Saya akan menceritakan pengalaman “Seen the Unseen” saya. Maksudnya? Iya, jadi saya akan menceritakan apa yang saya lihat dan belum tentu terlihat oleh orang lain. Whoho… jangan serem dulu. Ini nggak ada kaitannya sama hal-hal yang berbau mistis, tapi sesuatu yang sangat dekat dengan kita dan seringkali kita abaikan karena terlalu dekatnya.

Saat itu, keluarga kakak saya sedang bersenang-senang di pantai dan saya hanya duduk-duduk di pinggir saung. Saya menyapu pandangan saya ke pantai dan laut yang terhampar luas di depan saya. Saat saya sedikit menoleh ke kiri, ekor mata saya melihat suatu bayangan renta yang sedang mengais-ngais tempat sampah. Saya pun langsung menoleh untuk memperhatikan dengan lebih seksama. Saya awalnya berpikir kalau bapak tua itu seorang pemulung yang biasanya mengumpulkan plastik. Tapi ada yang aneh, kalau biasanya pemulung membawa karung besar untuk membawa hasil pulungannya, dia hanya membawa kantong keresek ukuran sedang. Lalu saya memperhatikan apa yang dia ambil dari tempat sampah. Miris hati ini saat melihat apa yag dia lakukan di tempat sampah itu. Dia membuka satu persatu kotak sisa makanan yang dibawa oleh beberapa keluarga yang juga sedang berlibur, lalu dia mengambil sisa makanan (seperti sisa nasi, tulang ayam, dll) yang ada di dalamnya dan memindahkan sisa makanan itu ke dalam kantong kereseknya.

Ya Tuhan… Hati saya seperti diremas sebuah tangan yang tak terlihat. Saya hanya bisa memejamkan mata saat itu. Saya tidak kuasa memandang bapak tua yang kurus dan bungkuk mengorek-ngorek satu tempat sampah ke tempat sampah lainnya hanya untuk mencari sisa-sisa makanan. Tidak terbayangkan oleh saya ia harus memakan sisa-sisa makanan orang yang menurut saya teramat sangat tidak layak untuk dimakan. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Ia harus melakukan itu agar bisa bertahan hidup.

Hidup memang kejam. Terkadang juga tidak adil. Mungkin kita pernah merasakan kekejaman dan ketidak adilan hidup. Tapi apa yang saya lihat itu sungguh kekejaman dan ketidakadilan hidup yang sebenarnya. Disaat semua orang yang ada di Anyer (mungkin) sedang bersenang-senang dan makan dengan layak, tapi ada sesosok renta yang hanya bisa melihat canda, tawa serta senyum yang mengembang dan hanya boleh puas dengan memakan sisa-sisa makanan orang.

Tuhan, semoga Engkau meringankan timbangan bapak renta itu dan berkenan untuk memberikan tempat terbaik baginya di surga-Mu kelak. Agar dia bisa merasakan keadilan yang hakiki. Amien…

Bogor, 11 April 2010 20:59

~Okvina Nur Alvita

4 Komentar

  1. Walah! Parah juga ya.. Hmm.. Kenapa bapak itu gak mulung aja? Siapa tau uangnya bisa buat beli makanan kan? Salam kenal ya!🙂 ~random-blogwalking~

    • setiap orang pasti memili alasan tersendiri atas semua tindakannya, begitupun juga dengan bapak itu…
      Salam kenal juga…🙂

      • Hmm, sepertinya sih begitu… apa karena susah cari penadah kali ya di daerah wisata seperti itu? mungkin aja kaan…

      • Yup, bisa jadi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: