TKW ohhh… TKW

Saya tadi baru saja jadi pembahas seminar skripsi salah satu temen di IKK, Nisun. Skripsi dia tentang TKW (Tenaga Kerja Wanita). Seperti biasa, di akhir seminar, pembimbing akan memberi pembahasan singkat dan menjelaskan lebih lanjut tentang penelitian anak bimbingnya. Oh iya, pembimbing skripsi Nisun namanya Bu Herien.

Bu Herien menjelaskan salah satu penyebab negara lain meremehkan Indonesia dan memandang rendah Indonesia adalah karena TKW. Sejak Indonesia mengekspor tenaga kerja kasar ke luar negeri, citra Indonesia di mata dunia langsung merosot tajam. Termasuk di mata negara tetangga kita, Malaysia dan Singapura. Pemerintah tidak dapat melakukan apapun, karena TKW adalah salah satu penyumbang devisa di Indonesia.

Well, saya tidak akan menjelaskan tentang hal itu. Yang saya ingin bahas adalah bagaimana suami ketika ditinggal istri mencari nafkah di luar negeri.

Primary Bread Winner?

Ditinggal istri, saya sangat yakin ini bukan hal yang mudah bagi para suami. Suami harus mengambil alih semua peran istri selama istri mencari nafkah di luar negeri. Suami harus mengurus anak dan juga mengurus pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan yang umumnya dilakukan oleh wanita, dengan terpaksa harus dikerjakan oleh laki – laki. Stress?? pastinya… tapi menurut saya, ini adalah konsekuensi dari pilihan yang telah mereka sepakati bersama.

Ditinggal istri bekerja di luar negeri, menjadi TKW adalah pilihan. Pilihan yang harus diambil karena si suami tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup dengan layak. Dari hasil penelitian, sekitar 70 persen TKW menyumbang sebanyak 60 – 80 persen dari total pendapatan keluarga. Oh My God, berarti suami cuman nyumbang 20 – 40 persen aja dong dari pendapatan keluarga??? Kontribusi suami hanya kurang dari separuh pendapatan keluarga? Miris sekali ketika tahu kenyataan ini, mengingat fungsi suami sebagai pencari nafkah keluarga.

Suami, saya yakin dalam kitab suci manapun, pasti berperan sebagai pencari nafkah. Dan istri yang mengerjakan pekerjaan domestik di rumah. Tapi tak bisa dipungkiri kalau perkembangan zaman menyebabkan pergeseran nilai, istri juga mencari nafkah untuk keluarga. Suami sih emang tetep jadi pencari nafkah, tapi pencari nafkah utama (primary bread winner) dan bisa dibantu oleh istri sebagai secondary bread winner.

Namun kenyataannya??? Dari data penelitian Nisun, istri yang bertindak sebagai primary bread winner untuk keluarga!

Wanita Lain

Saat suami mengambil keputusan untuk memperbolehkan istrinya menjadi TKW, harusnya ia sudah tahu dan mengantisipasi semua konsekuensi yang akan datang ketika istri tidak berada di rumah, termasuk konsekuensi ”kesepian”. Nggak bisa dipungkiri kalau kebutuhan biologis termasuk dalam basic need manusia. Sama seperti halnya makan, kebutuhan biologis termasuk dalam kategori kebutuhan primer (ini saya peroleh ketika sedang mengambil mata kuliah Pengantar Ekologi Keluarga).

Dari hasil penelitian kawan saya yang lain, Shely, yang juga meneliti tentang TKW, ditemukan bahwa 5 dari 10 suami yang istrinya TKW memiliki WIL (Wanita Idaman Lain). Ya Tuhan…

Mereka (para suami TKW) memiliki WIL untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya! Yang punya WIL kan cuman separuh tuh, trus yang separuhnya lagi gimana dunks untuk menuhin kebutuhan biologisnya?? Ya ”jajan” di luar!! Ampuuunnnn!!! Geregetan saya saat tahu data itu!

Laki – laki model begini nih yang menurut saya, teramat sangat sangat sangat kurang ajar sekali banget!

Ya Allah, jauhkanlah saya, keluarga saya dan sahabat – sahabat saya dari laki – laki semacam itu…

Kurang ajar banget khan?? Istri bekerja, membanting tulang di luar negeri, jauh dari keluarga, hanya untuk menggantikan suami yang tidak mampu menjalankan peran sebagaimana seharusnya. Bahkan mungkin, saat bekerja sebagai TKW, tak jarang mereka memperoleh perlakuan tidak baik dari majikannya (dicaci maki lah, dipukul lah, diperkosa lah, sampai pada penganiayaan). Tapi apa yang dilakukan suami di rumah? Menghabiskan sebagian uang kiriman istri dengan wanita lain! Sebeeelllll!!!

Alasan mereka (para suami), nggak bisa nahan kebutuhan biologis. Itu konsekuensi. Emang nggak bisa ya, merangsang diri sendiri aja? Kenapa harus pake wanita lain?

Malangnya TKW

Gaji yang tinggi walaupun hanya bermodalkan pendidikan yang pas – pasan. Ini alasan utama mengapa sampai saat ini masih banyak wanita Indonesia yang bersedia menjadi TKW. Mereka rela meninggalkan keluarganya demi memperoleh gaji yang tinggi. Semua resiko mereka hadapi sendiri. Mereka butuh support dari keluarganya, terutama suami. Tapi, disaat yang bersamaan, suami malah hanya memenuhi kesenangan pribadinya. Kepentingan dirinya sendiri… tidak peduli akan perasaan sang istri di luar sana…

Bogor, 5 Januari 2010 14:33

~Okvina Nur Alvita

2 Komentar

  1. rodiyah

    iya emang memprihatinkan banget nasib kita tkw indonesia raya merdeka..merdeka.. punya banyak penelitian ttg tkw ya? bagi dong…

    • coba datang saja ke perpustakaan Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia-IPB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: