Laki – Laki dan Superioritas

Laki-laki, dari jaman Nabi Adam sampai jaman Presiden SBY, yang namanya laki – laki selalu ingin lebih daripada wanita. Udah kodrat kali ya? Karena wanita kan terbuat dari tulang rusuk laki – laki, jadi wanita terbuat dari bagian laki – laki. Artinya, laki – laki merasa lebih kuat dari wanita karena ia terbuat dari bagian yang utuh, tidak hanya sebagian.

Yah, karena laki – laki terbuat dari bagian yang utuh, laki – laki merasa lebih superior dari wanita. Laki – laki merasa lebih hebat dari wanita. Dan laki – laki juga akan berusaha untuk terlihat lebih superior dan lebih hebat dari wanita, terutama dari pasangannya.

Saya jadi ingat obrolan saya dan teman – teman IKK. Yah, apa lagi yang para cewek obrolin kalo bukan masalah pasangan hidup. Saya dan teman – teman saya sepakat kalau kami (para cewek) sudah harus memperoleh pasangan hidup dan menikah paling lambat setelah memperoleh gelar S2 (kalo dari segi pendidikan, dan kalo emang mau ngejar pendidikan tinggi) dan sebelum umur 30 tahun (kalo dari segi umur). Mengapa demikian? Ada penjelasan yang ilmiah dan make sense pastinya.

Umur

Kita bahas dulu dari segi umur ya.

Kenapa wanita disarankan untuk menikah sebelum umur 30 tahun? Begini ya, biasanya pasangan kita (laki – laki) kan pastinya yang lebih tua dari kita. Nah, kalo kitanya aja usianya udah lebih dari 30 tahun, pasangan kita mau setua apa lagi? Kan seperti saya bilang sebelumnya, kalo laki – laki selalu ingin lebih superior dari pasangannya. Jarang ada laki – laki yang mau menikah dengan wanita yang lebih tua usianya dari dia. Terus kalo misalnya usia kita udah diatas 30an, cari cowok yang lebih tua dari usia kita dan masih single kan susah banget… Ada sih yang masih single, tapi duda, emang mau??

Penjelasan yang lebih mendalam lagi kenapa kita harus sudah menikah sebelum umur 30 tahun terkait dengan masalah anak. Udah pada tahu khan kalo hamil diatas umur 30an itu beresiko tinggi pada kesehatan dan keselamatan kita? Ini dia, kita nggak mau kan anak yang kita kandung kenapa-kenapa?

Selain itu, memiliki anak pertama diatas usia 30an, nantinya berpengaruh juga pada biaya pendidikan anak kita nantinya. Kenapa begini? Karena, saat anak kita nanti butuh biaya pendidikan yang besar, kita sudah tidak termasuk dalam usia produktif yang optimal lagi. Asumsinya begini, kalo kita menikah di usia 30 tahun, dan usia suami kita (anggep aja sama) 30 tahun juga, lalu kita melahirkan setahun setelahnya (itupun kalo langsung hamil, yah, anggep aja tok cer lah… hehehe… :P). Berarti umur kita 31 tahun saat melahirkan. Saat anak kita butuh biaya pendidikan yang besar untuk kuliah, usia kita udah berapa? 50an kan? Menurut saya, di usia segitu, produktifitas kita pasti sudah sangat menurun. Kita nggak mau kan di hari tua kita, kita masih pusing cari uang untuk nambah – nambah biaya pendidikan anak kita. Sekarang aja biaya pendidikan udah mahalnya minta ampun, Apalagi nanti waktu jamannya anak kita?? (bagian ini juga penting diperhatikan oleh para cowok).

Pendidikan

Masuk ke pembahasan bagian kedua, wanita harus sudah menikah maksimal setelah ia lulus S2 (ini bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi).

Seperti telah saya tulis pada paragraf sebelumnya kalo laki – laki itu selalu ingin merasa lebih superior dari pasangannya, begitupun juga dari segi pendidikan. Banyak penelitian telah membuktikan kalau tingkat pendidikan suami itu berkorelasi positif dengan tingkat pendidikan istri. Begini teman – teman ya, kalau misalnya wanita berpendidikan tinggi, pastinya ia akan cari pasangan yang selevel dong dengan dia, biar kalo diajak ngobrol nyambung dan pola pikirnya setara sama kita.

Nah, kalo pendidikan kita tinggi, apalagi sampai S3, dan kita belum menikah, kita mau pasangan yang udah S3 juga? Banyak sih, tapi masalahnya udah jadi suami orang semua… Jarang banget ada orang yang pendidikannya udah S3, tapi masih single. Dan kalaupun ada, ya itu tadi, paling – paling udah duda…

Terus, kalo pendidikan kita terlalu tinggi, laki – laki yang mau datang ngelamar kita juga pastinya mikir – mikir lah, dan bisa jadi keder duluan dengan gelar Ph.D kita… Karena mereka (laki – laki) selalu ingin lebih superior dari kita. Hadooohhh, susahnya cari pasangan hidup…

Intinya teman – temanku yang sangat kusayang, pendidikan tinggi boleh aja, malah harus kalo menurut saya. Tapi jangan lupa juga tentang batas maksimal kita harus menikah. Kalo misalnya kita akan melanjutkan pendidikan setelah menikah, nggak masalah menurut saya. Asal bisa bagi waktu antara kuliah, kerja dan keluarga aja.

Bisa dimengerti kan penjelasan saya?

Tulisan ini terinspirasi dari obrolan saya dengan teman – teman IKK dan melihat fenomena di sekitar saya bahwa semakin tinggi pendidikan wanita, maka semakin susah ia mendapatkan pasangan hidup. Karena, sekali lagi, laki – laki selalu ingin lebih superior dari pasangannya. Semoga bermanfaat.🙂

Bogor, 1 Januari 2010 13:30

~Okvina Nur Alvita

1 Komentar

  1. anonymous

    Mbak,

    Jadi apakah kita sebagai perempuan harus compromise pendidikan, achievement, dll dengan “mencari pasangan”? Dan sampai sbrp jauh kompromi itu dilakukan? Terima ksh

    Trima ksh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: