Keterbatasan bukan Alasan

Baru kemaren saya nonton Sang Pemimpi. Semangat benar-benar terbakar setelah nonton film itu. Saya ingin doing something yang tidak hanya bisa dirasakan oleh saya sendiri, tapi juga oleh orang lain. Yah, apa lagi kalau bukan dengan menulis. Dengan menulis saya bisa berbagi dengan orang lain. Berbagi pengalaman, berbagi cerita, berbagi hikmah hidup, berbagi perasaan dan yang terpenting adalah berbagi pemikiran. Ini yang paling penting. Nggak semua orang kenal saya. Dan yang kenal pun, nggak banyak yang menjalin komunikasi sangat intens sama saya. Maka selain karena hobi, menulis adalah salah satu cara saya untuk memprovokasi orang lain. Saya tidak akan berhenti menulis. Saya nggak peduli apakah tulisan saya disukai atau tidak oleh orang lain. Yang pasti, saya hanya ingin melakukan hal yang saya anggap benar.

Oke, mumpung masih fresh from my brain, saya ingin kembali berbagi dengan tulisan, tetang apa yang ada dalam otak saya setelah saya nonton film Sang Pemimpi.

Ikal & Arai

Ikal dan Arai adalah anak dari buruh miskin di pedalaman Belitong. Mereka tidak memiliki apa-apa. Yang mereka miliki hanyalah mimpi dan kerja keras. Dua modal itulah yang mengantarkan mereka mencapai apa yang mereka inginkan.

Pendidikan, satu-satunya kunci untuk mengubah nasib.

Pernah dengar atau baca tentang apa hal pertama yang dilakukan oleh Jepang setelah Sekutu meluluh lantakkan Hiroshima dan Nagasaki? Kaisar Jepang mengambil kebijakan untuk memperbaiki semua sarana pendidikan dan menyiapkan guru serta sistem pendidikan yang berkualitas. Kaisar Jepang saat itu berpikir hanya dengan pendidikanlah negaranya mampu menaklukkan dunia. Dan memang benar adanya, Jepang cepat sekali bangkit setelah diporak-porandakan Sekutu. Jepang duduk dalam jajaran negara maju dan menjadi salah satu negara yang duperhitungkan di dunia.

Balik ke Ikal dan Arai. Dua mahluk (yang menurut saya) luar biasa itu juga memandang bahwa hanya dengan pendidikanlah nasib mereka bisa berubah. Miskin bukan alasan bagi mereka untuk tidak melanjutkan pendidikan.

Ikal dan Arai menempuh pendidikan SMA-nya di Manggar, jauh dari rumah mereka yang ada di Gantong. Mereka hidup terpisah dari orang tuanya. Mereka melanjutkan pendidikan tanpa support finansial dari orang tua. Mereka belajar sambil bekerja. Pagi-pagi buta mereka bekerja, lalu berangkat ke sekolah, pulang sekolah pun masih bekerja juga. Mereka harus bekerja untuk bisa tetap bertahan hidup tanpa mengharap belas kasihan dari siapapun.

Walaupun harus bekerja mencari uang untuk bertahan hidup dan menabung, mereka masih bisa belajar dan meraih prestasi yang cukup membanggakan di sekolahnya. Sungguh luar biasa…

Keadaan hidup mereka merupakan potret Indonesia yang sebenarnya. Tapi jiwa mereka, tidak semua orang Indonesia memilikinya. Keterbatasan bukan alasan bagi mereka untuk mewujudkan mimpi jadi kenyataan…

Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri

Saya jadi ingat sama beberapa mahasiswa Indonesia yang saya temui di Jerman. Saat berada di sana, saya berkenalan dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi S1-nya.

Nggak semua dari mereka berasal dari keluarga yang cukup mampu. Mereka memilih untuk kuliah di luar negeri karena biaya kuliah di sana lebih murah dari di Indonesia. Ada sebagian dari mereka yang hidup tanpa beasiswa dan tanpa kiriman uang dari orang tua. Mereka harus tetap survive di negeri orang. Sungguh, survive di negeri sendiri sangat berbeda dengan survive di negeri orang. Di negeri orang, apalagi di negara-negara maju yang sebagian besar orang-orang yang ada disana sangat individual, kita tidak mungkin mengharapkan belas kasihan dari orang lain. Kita harus bisa survive dengan diri kita sendiri.

Salah satu mahasiswa bercerita pada saya tentang masa-masa sulit yang pernah dihadapinya. Ketika itu, ia sedang tidak memiliki pekerjaan part time dan uang di kantong sudah tidak ada lagi. Persediaan makanan pun juga sudah habis. Yang tersisa hanyalah beras dan teh. Cacing-cacing yang ada di perut tidak mau tahu dengan kondisinya. Akhirnya apa yang ia lakukan? Ia makan nasi dengan kuah teh!! Kebayang nggak, makan nasi dengan kuah teh?? Saya nggak kebayang gimana rasanya… Tapi setelah itu Allah membuktikan janjinya, Ia tidak akan membiarkan umatnya kelaparan. Nggak lama setelah ia makan nasi pakai kuah teh, ada seorang mahasiswa Indonesia lain yang berkunjung ke flatnya. Mengetahui keadaan teman setanah airnya sangat memprihatinkan, ia meminjaminya uang yang bisa dipakai untuk bertahan hidup beberapa hari.

Kalau saya lihat, ada sebagian mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di luar negeri sebenarnya sama kasusnya dengan Ikal dan Arai. Mereka harus kuliah, belajar,  bekerja dan juga berpikir gimana caranya untuk tetap bisa bertahan hidup. Mereka bekerja mencari uang tidak peduli apapun pekerjaannya, yang penting masih dalam kategori halah. Ada yang bekerja sambilan jadi tukang cat, security di airport, waitress di cafe, penyanyi cafe, sampai jadi OB pun ada. Yang penting dapat uang, bisa makan, memenuhi kebutuhan sehari-hari dan tentunya bisa tetap kuliah.

Satu hal lagi yang saya pelajari dari mereka, mereka sangat pandai mengatur waktu dan mereka juga multitalent. Mereka harus pandai-pandai bagi waktu antara kuliah, belajar dan bekerja. Disamping keahlian manage waktu, pastinya mereka smart dong… Urusan otak udah nggak perlu diragukan lagi. Tapi ternyata mereka nggak cuman pinter kognitif aja, mereka juga serba bisa! Mereka bisa ini-itu. main musik? oke, nari tradisional di acara-acara pagelaran budaya Indonesia yang diadakan oleh kedutaan setempat? juga bisa! Mereka juga pada jago masak karena di luar negeri kalau beli makan di luar itu mahal, jadi mereka prefer untuk masak sendiri supaya bisa mengurangi pengeluaran. Bener-bener extraordinary deh… Makanya saya masih sering berpikir kalau diri saya nggak ada apa-apanya dibanding mereka. Masih banyak yang harus saya gali dari dalam diri saya…

Yang pasti, walaupun mereka hidup di luar negeri tanpa beasiswa dan tanpa kiriman dari orang tua, mereka masih bisa bertahan hidup dan terus kuliah kok… Asal ada kemauan aja… Sekali lagi, keterbatasan bukanlah penghalang.

Jangan Jadikan Keterbatasan sebagai Alasan

Tahu kenapa sebagian besar orang miskin semakin miskin di Indonesia? Jangan terus-terusan menyalahkan pemerintah! Walaupun memang masih banyak sistem yang harus dibenahi, tapi kita juga tidak bisa menyalahkan pemerintah terus-terusan. Orang miskin di Indonesia semakin miskin dan mewariskan kemiskinannya ke anaknya karena mereka selalu menjadikan keterbatasan yang mereka miliki sebagai alasan.

Coba jika kita lihat kasus Ikal dan Arai atau kasus mahasiswa Indonesia yang ada di luar negeri (yang nggak semuanya berasal dari keluarga kaya atau mendapat beasiswa), mereka tetap bisa kan menaklukkan hidup dan mengubah nasib??

Sebenarnya semua itu tergantung pada kemauan kita. Jika kemauan kita cukup kuat mengakar dalam jiwa kita, apa sih yang nggak mungkin di dunia ini? Bukankah dalam kitab suci kita juga telah dijelaskan yang intinya bahwa Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, tanpa usaha dari kaum itu sendiri?

So, menurut saya, keterbatasan yang ada di diri kita jangan dijadikan alasan untuk tidak mencapai apa yang kita inginkan

Lebih dari Ikal dan Arai

Ikal dan Arai, anak-anak dari keluarga miskin di pedalaman Belitong aja bisa ngewujudin mimpinya dengan semua keterbatasan (terutama finansial) yang mereka miliki. Sekarang tanyakan pada diri Anda, apa Anda sedang menghadapi keterbatasan yang mereka alami? Saya yakin tidak.

Sebagian besar dari Anda mungkin berasal dari keluarga yang cukup berada. Nggak perlu mikir lagi yang namanya ”aduh, besok uang dari mana ya untuk makan?”. Semua kebutuhan kita telah dipenuhi oleh orang tua. Apa yang kita inginkan pun selalu disediakan oleh orang tua kita. Yah, walopun nggak semua keinginan kita di penuhi sih, tapi at least, kita nggak perlu mikir lagi kan uang dari mana untuk bisa tetap makan?

Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita telah mampu mencapai apa yang telah Ikal dan Arai capai? Kalau belum, harusnya Anda malu. Ikal dan Arai, dan beberapa mahasiswa Indonesia di luar negeri, dengan semua keterbatasan yang mereka miliki, dengan harus pinter-pinter bagi waktu antara kuliah, belajar dan bekerja, mereka bisa mencapai mimpi mereka, apa yang mereka inginkan. Nah, kita? Kita yang enak-enak hidupnya, masa kalah sih sama mereka? Malah seharusnya, kita bisa mencapai jauh melebihi mereka. Please, think about it deeply!!

Jangan berkecil hati jika kita masih belum bisa melebihi mereka, atau paling nggak, sama lah dengan apa yang telah mereka capai. Mungkin belum saatnya dan nggak sekarang. Mungkin Anda saat ini sedang berjuang untuk mencapai kesana, it doesn’t matter… Tapi yang harus tertanam di benak kita adalah, kita yang selalu hidup enak, harusnya bisa melebihi apa yang telah mereka capai…

Kuncinya cuman satu, JANGAN PERNAH MENYERAH!!

Bogor, 18 Desember 2009 11:23

~Okvina Nur Alvita

3 Komentar

  1. Setuju banget,

    btw ksh tw dong gimana cara nambahin widget yg Who’s Viewed Me?’, k
    blog punayku http://www.hndika.wordpress.com. Makasih ya.. kalo mau jawab

    • kamu harus punya account dulu di Who’s Viewed Me?
      trus tambahin deh di widget kamu… nambahinnya di Teks.

  2. Selama ini keterbatasan financial banyak menjadi kendala beberapa pendidik pendidik TK dan Paud untuk mengembangkan sekolahnya. Namun ternyata ada beberapa pendidik anak usia dini yang bisa mensiasati kendala tersebut. Kebanyakan dari mereka berprinsip,”Bila ada usaha pasti ada jalan”, dan ada pula yang bersemboyan,”Kreatifitas akan muncul dalam situasi kepepet”.
    Saya telah mencoba mendiskusikan hal ini dengan beberapa penndidik anak usia dini yang memiliki PAUD atau TK yang sederhana. Justru di dalam diri mereka banyak yang memiliki kreatifitas yang tinggi dan lebih bisa melakukan pekerjaan mereka dengan hati. Dari beberapa masukan saya mendapatkan tiga cirri khas atau keistimewaan yang paling penting. Keistimewaan tersebuat antara lain.

    1. Kekeluargaan
    Sifat kekeluargaan biasanya menjadi satu kekuatan bagi para pendidik Paud yang sederhana. Mereka akan lebih mengutamakan kekompakan anatara pendidik yang satu dengan pendidik yang lain. Batas antara kepala sekolah dan guru hampir tidak ada, sehingga dari situ muncul keterbukaan. Dan dari keterbukaan inilah akan muncul ide-ide kreatif, yang akan dikembangkan secara bersama menjadi sebuah keistimewaan dan bisa membangun sebuah cirri khas dari Paud atau TK yang didirikan. Sikap kekeluargaan ini tidak hanya ada antara guru dengan guru, atau guru dengan kepala sekolah (kepala sekolah), namun juga akan menular kepada hubungan guru dengan orang tua. Banyak sekali sekolah yang kurang memiliki faktor ini di sekolah mereka. Biasanya malah ada jarak antara guru dan orang tua, demi menjaga nama baik guru itu sendiri dan nama baik sekolah. Namun di sebuah Paud / TK yang kecil dan sederhana, biasanya hal ini justru menjadi suatu kelebihan bagi mereka. Para pendidik bisa lebih akrab dengan orang tua, tanpa takut gengsi mereka akan turun atau nama baik mereka akan tercemar, karena suatu kesalahan. Dan dengan keakraban dan keterbukaan inilah, pihak orang tua dan guru bisa saling belajar dalam membangun anak didik agar mereka tidak hanya pandai dalam akademis, melainkan juga memiliki moral dan akhlak yang baik dan mulia.

    2. Kreatif
    Sekolah yang tidak memiliki keterbatasan financial, biasanya akan langsung memanfaatkan peralatan yang ada dan sudah tersedia di sekolah. Sehingga guru kurang terlatih untuk mengembangkan kreatifitas. Dari pelajaran yang saya dapat lewat sebuah diskusi, para pendidik yang bekerja di PAUD dan TK yang sederhana, biasanya lebih kreatif dalam memanfaatkan alam sekitar, misalnya memanfaatkan kebun jagung, memanfaatkan daun-daunan, hewan-hewan kecil, sehingga selain ilmu yang mereka ajarkan, para pendidik juga bisa mengajarkan pentingnya menghargai alam ciptaan Tuhan dan mensyukurinya. (Kak Zepe)

    Sebenarnya mash ada 3 poin lagi. Yaitu Moral, Prestasi Non-akademis, dan Jaringan…
    Hmm… apa itu ya? Kalau penasaran klik saja link di bawah ini:
    http://lagu2anak.blogspot.com/2010/11/cara-paud-dan-tk-sederhana-mensiasati.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: