Ibu: Manusia Berhati Malaikat

Jika ada orang yang paling berperan di kehidupan kita, pasti sebagian besar orang akan menjawab ibu. Memang benar, ibu adalah orang yang paling berperan di hidup kita. Ibu yang mengandung kita selama sembilan bulan. Setelah itu, ibu juga harus berjuang mempertaruhkan nyawanya hanya supaya kita bisa melihat dunia. Lalu, ibu juga dengan suka rela menyusui kita selama kurang lebih dua tahun. Belum cukup sampai disitu, ibu juga terkadang masih harus terjaga sepanjang malam ketika kita sakit. Dan ibu juga tak pernah lelah untuk mendoakan kita pada yang Maha Kuasa. Sungguh, ibu orang yang paling berperan dalam hidup kita…

Kesabaran Mama

Mama saya, wanita dengan kesabaran yang luar biasa. Seberapapun seringnya anak-anaknya menyakiti hatinya, tapi sesering itu juga hatinya selalu memaafkan. Tak terhitung berapa kali hatinya harus terluka karena ulah saya dan kakak-kakak saya. Saya nggak mau berbohong, saya-tiga bersaudara, saya rasa semua dari kami pernah menyakiti hati mama. Dan parahnya, terkadang kami tidak menyadari kalau kami telah menyakiti hati mama.

Tapi bukan mama namanya kalau tidak ada kata maaf. Mama melupakan begitu saja perbuatan kami yang telah menyakiti hatinya. Mama tidak pernah marah-marah. Bahkan, saat papa marah pada kami, mama adalah orang yang selalu di depan kami, membela kami walaupun sebenarnya kami salah.

Pernah suatu waktu saya menyakiti hati mama, mama hanya bisa nangis saat tahu kenyataan itu. Saya tidak tahu harus bagaimana lagi. Saya hanya bisa diam seribu bahasa. Rasanya kata maaf sudah tak cukup untuk mengobati rasa sakit hati mama. Saya bingung harus bagaimana lagi. Tapi tahu, apa yang mama lakukan? Saat saya akan tidur, mama menghampiri kamar saya. Mama berbaring di sebelah saya. Mama memeluk saya dari belakang. Lalu mama berbisik minta maaf. Maaf untuk kesalahan yang tidak dilakukannya… Maaf karena tidak bisa mendidik saya dengan baik… Saya menangis saat mendengarnya… saat itu juga, saya berjanji dalam hati kalau saya nggak akan ngecewain mama lagi.

Awal tahun ini, kakak saya menikah. Menjelang hari pernikahannya, emosi kakak saya jadi labil. Dia jadi sering marah-marah dan menganggap apa yang dilakukan oleh orang lain salah. Dan parahnya, dia merasa dirinyalah yang jadi korban. Dia nggak nyadar kalau sebenarnya dia telah menyakiti beberapa orang dengan omongannya, termasuk mama. Tapi mama selalu ingin menjaga hati orang lain. Mama nggak mau hati orang lain terluka, apalagi hati anaknya. Mama tetap sabar dan menerima dengan ikhlas apapun yang diperbuat anaknya, walaupun saya tahu, hatinya sebenarnya sakit…

Keyakinan Mama

Kalau seluruh orang di dunia ini sudah tidak percaya lagi sama saya atau kakak-kakak saya, saya yakin, masih ada satu orang yang masih mau percaya sama kami, dan orang itu adalah mama. Mama sangat percaya sama anak-anaknya. Bagi mama, jika anak diberi kepercayaan, maka ia akan belajar bertanggung jawab. Hal inilah yang diterapkan mama saya. Makanya, kalau kami melakukan kesalahan, mama justru akan semakin percaya pada kami. Mama tidak melarang kami melakukan hal itu lagi, karena mama tahu kami telah belajar untuk tidak melakukan kesalahan lagi. Terlebih lagi, karena mama ingin mengajari kami bertanggung jawab.

Berkali-kali kami bertiga menyakiti mama, malakukan hal yang tidak seharusnya. Bukan masalah bagi mama. Karena mama selalu yakin kalau suatu saat nanti anak-anaknya pasti akan berubah. Berubah menjadi baik. Menjadi khusnul khotimah. Mama selalu yakin akan hal ini.

Nasihat Mama

Saat itu saya sedang kalut, saya bingung menentukan masa depan saya, saya bingung antara kodrat dan keinginan untuk terus berkreasi (dalam hal ini berkarier). Lalu ibu saya menasihati saya.

“Vina, hidup itu yang penting bisa bermanfaat. Kalau mama sekarang ini sudah tidak ada keinginan untuk dilihat orang seperti dulu. Dengan keadaan mama yang seperti sekarang ini, mama cuman ingin bisa bermanfaat di rumah ini. Dengan mama kerja jadi penjahit, Alhamdulillah bisa membantu perekonomian keluarga kita, walaupun uang hasil kerja mama cuman cukup untuk bayar listrik, telepon dan belanja sehari-hari, tapi mama sudah bersyukur karena mama nggak nyusahin orang lain”

Saya ingin menangis saat ibu saya mengucapkan kata demi kata itu. Beliau sudah tidak muda lagi, usianya sudah setengah abad, tapi ibu saya masih bersemangat melakukan hal yang kecil, tapi bisa bermanfaat walaupun hanya untuk keluarganya. Saya berkaca dengan diri saya yang terlalu banyak keinginan sampai kadang dibuat pusing dengan target-target hidup saya. Dalam kesederhanaan pemikiran ibu saya yang hanya tinggal di kampung tapi beliau mampu menunjukkan ikhlas dan tulusnya hati seorang wanita yang mengabdi hanya untuk keluarganya.

This article fully dedicated to my mom. A woman with angel’s heart… I always love you mom…

Bogor, 28 Desember 2009 10:22

~Okvina Nur Alvita

1 Komentar

  1. indri

    Senangnya punya mama spt itu,andaikan ibuku pun spt itu…kadang ingin sekali punya ibu yg selalu berhati dan berkata yg menyejukkan hati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: