Antara Cinta dan Keinginan untuk Memiliki

Cinta… rasanya nggak bakalan ada habisnya membahas satu kata ini. Ada banyak cinta dalam kehidupan kita. Cinta seorang muslim pada Allah. Cinta orang tua pada anaknya. Cinta seorang muslim pada sesamanya. Dan masih banyak lagi cinta-cinta yang lain…

Yah… begitu banyak cinta di sekitar kita. Tapi dari sekian banyak itu, mungkin ada satu yang paling menarik perhatian. Kita jatuh cinta pada seseorang.

Saat kita jatuh cinta pada seseorang, kita akan berusaha untuk menarik perhatiannya, berharap ia akan memperhatikan kita, memberi perhatian lebih juga pada kita dan pada akhirnya kita berharap ia akan memberikan hatinya pada kita. Nah, kalo sudah begini tinggal tunggu waktu aja. Ia pasti akan mengungkapkan perasaannya. Ia bisa jadi milik kita.

Wajar jika kita berusaha mendapatkan dan memiliki orang yang kita suka, orang yang kita cintai. Tapi ada beda antara cinta dan keinginan untuk memiliki.

Jika kita benar-benar mencintai seseorang, kita harus siap dengan apapun yang akan terjadi, walaupun hal itu akan sangat menyakitkan kita. Hanya kebahagiaan orang itu yang kita harapkan. Kalaupun memang kebahagiaannya bukan bersama kita. Kita akan ikhlas menerimanya. Kecewa sih niscaya. Tapi apalah arti kekecewaan itu jika dibandingkan dengan melihat senyum dan tawa bahagia dari orang yang kita cintai?

Filosofi cinta nomor satu menurut sahabat saya, sakit melihat orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain, tapi lebih sakit lagi jika melihat orang yang kita cintai itu tidak bahagia dengan kita.

Disinilah letak perbedaan yang sangat menonjol antara mencintai dengan keinginan untuk memiliki. Orang yang hanya ingin memiliki akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Untuk mencapai tujuannya ini, mungkin saja ia melakukan hal-hal yang tidak seharusnya. Ia tidak peduli dengan apapun, asal ia bisa memiliki orang yang (menurutnya) dicintainya. Ia bisa saja sampai tega menyakiti hati orang lain agar bisa memiliki orang yang ia inginkan. Menurut saya, orang seperti ini, sebenarnya dia belum tentu benar-benar mencintai orang itu (yang ingin dimilikinya). Egois menurut saya orang yang demikian ini. Ia hanya memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri. Asal ia bisa memiliki orang yang dianggapnya ia cintai, selesai perkara. Nggak peduli apakah ada hati lain yang terluka karena apa yang ia perbuat.

Di sisi lain, orang yang benar-benar mencintai orang lain, akan melakukan semua hal (asal tidak diluar koridor agama dan norma yang berlaku) untuk membahagiakan orang yang dicintainya. Ia mungkin sampai rela sakit hati, asal orang yang dicintainya bahagia. Mungkin orang lain yang lebih bisa untuk membahagiakan orang yang dicintainya, ia pasti akan dengan ikhlas melepaskan orang itu dari genggamannya. Ia tak lagi memiliki orang yang benar-benar dicintainya. Bukan masalah bagi orang seperti ini. Karena yang terpenting baginya hanyalah kebahagiaan orang yang dicintainya.

So, sudah mengerti kan perbedaan antara mencintai dengan keinginan untuk memiliki? Sekarang tanyakan pada diri Anda, apakah Anda telah benar-benar mencintai ataukah hanya ingin memiliki saja?

This article fully dedicated to my mom

Bogor, 27 Desember 2009 18:14

~Okvina Nur Alvita

4 Komentar

  1. no-One

    cinta sesungguhnya adalah menerima pasangan dgn apa adanya, baik semua yg terjadi saat ini, yg pernah/telah terjadi, yg akan terjadi, dan yg tidak akan terjadi.

  2. NAYA

    hmmmmm,
    Tuhan dekatkanlah aku pada seorang pria yang dimana ia cinta aku karenaMU..

  3. tulisan yang bagus…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: