Terbaik Untukku?

Pernah nggak sih ngerasa…

“Kok cuman segini sih??” atau…

”Padahal kan gue udah ngelakuin semaksimal mungkin, tapi kok hasilnya gak sama seperti usaha gue ya??” atau…

”Gila, gue udah bela-belain buat begadang-begadang, hasilnya cuman segini doang???”

Well, itu semua reaksi kita saat baru saja mengetahui hasil dari usaha yang udah kita lakuin. Menurut saya, itu merupakan reaksi pertama yang wajar. Sangat wajar malah. Kita nggak bisa menghindari yang namanya kekecewaan. Merasa kalau hasil yang diperoleh tidak sesuai dengan usaha atau kerja keras yang telah kita lakukan. Tapi yang terpenting adalah, bagaimana kita menyikapi hasil yang tidak sesuai itu dengan selalu berpikir positif. Sayapun pernah beberapa kali mengalami hal itu. Hasil yang diperoleh tidak seperti yang saya harapkan. Tidak sesuai dengan usaha yang sudah saya lakukan. Tapi saya selalu melihat dari sisi positifnya. Saya yakin hasil itu adalah yang terbaik untuk saya.

Seleksi Paskibra yang Nyesekin Banget

Saat saya masih duduk di bangku SMA, salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti adalah Paskibra (pasukan pengibar bendera). Setiap tahunnya selalu dilakukan seleksi Paskibra untuk dikirim sampai ke tingkat Nasional (ngibarin bendera pas 17-an di Istana Negara). Untuk bisa sampai ke tingkat nasional, diadakan seleksi mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi dan terakhir adalah nasional. Seleksinya juga nggak asal sekedar seleksi biasa. Calon paskibra ini harus melewati beberapa macam seleksi yang tentunya sangat, sangat dan sangat melelahkan.

Sebagai salah satu anggota paskibra, tentunya saya mengikuti seleksi-seleksi ini, mulai dari seleksi sekolah. Saya lolos seleksi sekolah. Saya berhak untuk mengikuti seleksi selanjutnya, yaitu seleksi di tingkat Kabupaten. Teman-teman dan senior saya menjagokan saya untuk bisa lolos, at least sampai di tingkat Kabupaten, bahkan ada beberapa dari mereka yang yakin kalau saya bisa sampai pada tingkat Provinsi. Keyakinan mereka dan semangat yang mereka berikan pada saya sangat memompa diri saya untuk memberikan yang terbaik saat seleksi tingkat kabupaten.

Seleksi tingkat kabupaten diselenggarakan selama dua hari. Dari semua peserta yang ikut seleksi di hari pertama, dipilih beberapa (kalo nggak salah 45 orang deh) untuk mengikuti seleksi di hari kedua. Nah, di hari kedua ini baru ditentukan siapa yang terpilih untuk menjadi paskibra kabupaten, lalu satu pasang (cewek-cowok) akan dipilih untuk dikirim menjadi paskibra di tingkat provinsi. Jangan dikira seleksinya gampang ya. Saya harus melewati tes fisik (lari, push-up, sit-up, back-up), tes tulis, tes wawancara, tes baris-berbaris, tes kemampuan akademik, tes kepribadian, dll.

Saya lolos di seleksi hari pertama. Saya bahagia. Tapi perjuangan belum usai karena keesokan harinya saya masih harus melanjutkan seleksi yang akan menentukan apakah saya berhasil untuk jadi paskibra kabupaten atau tidak.

Seleksi hari kedua ini sebenarnya tidak seberat seleksi hari pertama. Semua peserta hanya diseleksi kemampuan baris-berbarisnya dan penampilan fisiknya (tinggi badan dan raut muka). Dari penampilan fisik, saya jelas nggak ada masalah donk… badan tinggi dan muka cantik gini, masa masih bermasalah juga sih?? Hehehe… *narsis mode:on*. Nah, masalahnya adalah di bagian baris-berbarisnya. Saya baru tahu kalau ternyata lengan saya itu agak bengkok. Jadi kalo lagi langkah tegap, tangan saya nggak bisa lurus. Kalo misalnya barisan dilihat dari depan, tangan saya keluar dari garis lurus, dan itu annoying banget untuk suatu barisan… Hiks Hiks Hiks… T_T

Saya nggak lolos seleksi di hari kedua yang artinya saya juga nggak lolos jadi paskibra kabupaten. Paskibra kabupaten aja nggak lolos, apalagi paskibra Provinsi. Tapi tahu nggak sih apa yang paling bikin nyesek? Ternyata nilai keseluruhan saya ada di urutan pertama setelah kuota Paskibra terpenuhi… Ya Tuhan… Kurang sedikiiiittt saja sebenernya… Gimana nggak nyesek banget tuh kalo harus ngalamin kejadian yang seperti itu??

Kecewa? Pastinya… tapi kekecewaan itu hanya berlangsung beberapa hari saja. Karena di hari-hari berikutnya pikiran positif mau mampir lagi di benak saya. Saya berpikir, kalau misalnya saya lolos seleksi paskibra Kabupaten, tentunya akan menyita waktu belajar saya (latihannya di jam-jam sekolah). Terus, kegiatan saya yang lain juga pasti akan terganggu (saya pegang posisi penting di OSIS dan KIR saat itu). Terus pastinya kesibukan saya juga akan bertambah dengan masuk dalam PPI (Purna Pakibra Indonesia). Terus lagi, saya nggak yakin apa fisik saya sanggup untuk ikut latihan paskibra di tingkat Kabupaten…

Allah selalu paling tahu yang terbaik untuk saya…

PKM yang nggak lolos

Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan salah satu ajang untuk menampilkan kreativitas mahasiswa. Sebagai salah satu mahasiswa yang kreatif (menurut saya sendiri), saya juga ikut berpartisipasi di kegiatan ini dong…

Jadi alur kegiatan ini tuh begini, mahasiswa mengusulkan suatu proposal kegiatan ke Dikti. Dari proposal yang masuk ke Dikti itu akan diseleksi oleh mereka. proposal yang lolos seleksi akan didanai, dan mahasiswa bersangkutan harus menjalankan kegiatan sesuai dengan yang tertuang di proposal. Kegiatan yang sudah terlaksana, dilaporkan ke Dikti dan Dikti akan menyeleksi lagi beberapa kegiatan yang dianggap sukses untuk bisa ikut dalam Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional). Pimnas merupakan salah satu ajang bergengsi di kalangan mahasiswa.

Saya bersama beberapa teman saya mengusulkan suatu proposal yang berjudul ”Combating Dating Violence” (melawan kekerasan dalam berpacaran). Judulnya “seksi” banget khan?? Program yang kami susun juga oke banget. Sampai dosen pembimbing saya memuji waktu membaca draft proposal saya, beliau bilang ”Wow, saya nggak kebayang kalo misalnya kegiatan ini bener-bener terlaksana, pasti bagus banget… Kegiatan yang kalian susun keren…”. Seneng dong dibilang seperti itu dan pastinya ningkatin optimisme saya kalau proposal saya bakalan diterima Dikti.

Tapi kenyataan berkata lain. Saya nggak tahu apa yang kurang dari proposal yang saya usulkan. Yang pasti proposal saya ditolak oleh Dikti. Dosen pembimbing saya juga heran kenapa proposal saya nggak diterima Dikti. Dari beberapa mahasiswa yang juga dibimbingnya untuk pengajuan PKM, beliau paling yakin dengan proposal saya, tapi malah proposal saya yang nggak lolos.

Setelah saya pikir-pikir lagi, kenapa proposal saya nggak lolos, akhirnya saya sampai lagi pada kesimpulan bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk saya.

Jika PKM saya lolos, saya harus menjalankan semua program yang telah saya dan kawan-kawan saya susun. Artinya, saya harus spend beberapa waktu saya untuk hal ini. Padahal saya waktu itu juga sedang menjalankan tugas sebagai Sekretaris Menkominfo BEM KM IPB yang tentunya harus mengerjakan beberapa kewajiban yang cukup menyita waktu. Saya harus amanah pada posisi yang telah dipercayakan pada saya. Mungkin jika PKM saya lolos, saya akan kurang mampu untuk total di dua kegiatan itu. Makanya Allah hanya mengijinkan salah satunya aja. Allah selalu paling tahu yang terbaik untuk saya.

Gagal Jadi Mahasiswa Berprestasi

Setiap tahun selalu diadakan pemilihan mahasiswa berprestasi (Mapres). Alur pemilihannya seperti ini, mahasiswa yang menganggap dirinya cukup berprestasi dan memenuhi persyaratan boleh mengikuti pemilihan Mapres yang diadakan di tingkat Departemen. Mahasiswa-mahasiswa yang mendaftarkan diri itu diseleksi di tingkat Departemen dan selanjutnya akan dipilih dua orang untuk mengikuti seleksi tingkat Fakultas. Di tingkat Fakultas, dipilih satu orang mahasiswa untuk mengikuti seleksi tingkat universitas. Dari seleksi yang diadakan di tingkat Universitas, dipilih satu orang mahasiswa yang akan dikirim ke seleksi Mapres tingkat Nasional. Mahasiswa yang menduduki urutan pertama di tingkat nasional akan dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi.

Salah satu dosen saya menjagokan saya untuk pemilihan Mapres ini. Menuruti kata-kata beliau, saya mengajukan diri untuk ikut dalam seleksi Mapres. Pasti udah bisa nebak khan kalo saya gagal jadi Mapres? Ya iyalah, lha wong udah saya tulis di sub judul ini… Ya, saya gagal jadi Mapres. Saya sih sebenernya nggak berharap yang muluk-muluk, cukup dengan jadi Mapres Nasional udah cukup buat saya (lho, salah ya??😛 ). Saya udah cukup bersyukur jika bisa sampai jadi Mapres Fakultas.

Tapi ternyata kenyataan berkata lain. Di tingkat departemen saja, saya sudah gagal. Saya berada pada urutan ketiga di Departemen. Dan itupun, selisih dengan yang urutan kedua nggak terlalu jauh. Cuman beda 0, (sekian…), nyesek banget…

Lagi-lagi saya harus kecewa, saya sudah berusaha. Tapi hasil yang saya peroleh tidak sesuai harapan…

Tapi tahu nggak apa rencana Allah sebenernya buat saya? Saya memang nggak lolos seleksi Mapres, tapi ternyata makalah yang saya kirim untuk LKTM (Lomba Karya Tulis Mahasiswa) bidang Pendidikan lolos. Saya jadi salah satu finalis. Saya jadi juara dua untuk lomba ini. Dari prestasi ini saya dinobatkan IPB melalui SK Rektor untuk jadi salah satu mahasiswa berprestasi di bidang ekstrakurikuler.🙂

Saya jadi berpikir, ternyata ini toh maksudnya kenapa saya nggak lolos seleksi Mapres. Ada hal lain yang juga nggak kalah indahnya untuk saya. Saya jadi finalis LKTM. Waktu untuk mempresentasikan makalah saya ternyata bersamaan dengan seleksi Mapres tingkat Fakultas. Allah memilihkan salah satu untuk saya. Allah selalu tahu yang terbaik untuk saya…

Konferensi-Konferensi itu…

Selama kuliah di Bogor, Alhamdulillahnya saya berada di lingkungan yang sangat kondusif untuk mengembangkan diri. Saya dikelilingi orang-orang yang sangat extraordinary. Teman-teman saya memiliki keunikan masing-masing. Saya banyak belajar dari mereka.

Teman-teman saya semuanya berprestasi, berprestasi dalam bidangnya masing-masing. Inilah yang melecut saya untuk mengikuti jejak mereka. Beberapa teman saya memiliki prestasi sampai pada tingkat international. Bisa dikatakan mereka jadi duta Indonesia di kegiatan-kegiatan bertaraf internasional. Saya juga ingin mengikuti jejak mereka. Saya juga ingin merasakan gimana rasanya mewakili Indonesia, membawa nama Indonesia di dunia internasional dan juga merasakan pengalaman pernah tinggal di negeri orang.

Akhirnya saya mencari beberapa informasi untuk bisa ikut kegiatan-kegiatan yang berskala internasional. Saya coba untuk apply beasiswa belajar bahasa inggris selama dua minggu di Amerika, IELSP (International English Language Study Program), tapi saya nggak berhasil. Saya juga mencoba peruntungan dengan apply di beberapa konferensi mahasiswa tingkat dunia. Yang pertama saya coba adalah ISFiT (International Student Festival in Trondheim) di Norwegia, tapi hasilnya gagal, saya ditolak untuk jadi salah satu peserta konferensi ini. Terus, yang kedua saya apply untuk EWB (Education Without Border), dan lagi-lagi ditolak. Cerita kegagalan saya untuk ikut kegiatan di luar negeri bisa dibaca di artikel saya yang berjudul Never Give Up. Dan yang ketiga, saya coba apply ISWI (International Student Week in Ilmenau) di Jerman. Nah, yang terakhir ini baru diterima… Masa gagal terus sih??🙂

Lagi-lagi, kalo kita sabar dan nggak pernah nyerah untuk tetap berusaha, Allah bakalan kasih yang terbaik untuk kita…

Yang Penting itu Proses, Bukan Hasil

Mungkin semua orang tahu kalau proses itu lebih penting daripada hasil, tapi apakah semua orang benar-benar menyadari akan pentingnya proses dibanding dengan hasil? Hanya sebagian saja saya rasa.

Saya sudah melewati begitu banyak kegagalan. Tapi saya bersyukur pernah melewatinya. Mungkin jika saya tidak pernah melewati kegagalan-kegagalan itu, saya nggak bakalan punya mental “tahan banting” seperti ini. Kalau saya terus-terusan dapet apa yang saya inginkan dengan tanpa melewati kegagalan, mungkin saat sekali saja saya gagal, saya udah nyerah dan nggak mau mencoba lagi…

Kita belajar dari proses. Saat kita gagal, kita jadi tahu apa yang salah dari proses yang telah kita lewati. Dan selanjutnya, kita akan memperbaiki proses supaya hasil yang diperoleh memuaskan. Kita telah belajar sesuatu hal dari proses. Tanpa sadar, kita juga telah memperbaiki diri dari proses itu.

Terbaik untuk Kita

Seringkali kita protes pada Allah.

”Kenapa hasilnya nggak sesuai harapan?”

”Kenapa hasilnya nggak seperti usaha yang telah dilakukan?”

Wajar sih menurut saya kalau terbersit pikiran seperti itu. Itu salah satu ungkapan kekecewaan kita. Tapi akan semakin memperburuk kekecewaan jika kita terlarut dalam pikiran itu dan parahnya, kita nggak bakalan bisa melihat hikmah dibalik kegagalan yang terjadi pada kita. Akan selalu ada hikmah dibalik suatu kejadian, seburuk apapun dan semenyakitkan apapun kejadian itu. Mungkin hikmahnya belum terasa saat ini juga, tapi yakinlah kalau suatu saat akan ada hal indah yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk kita dan itu adalah yang terbaik untuk kita.

Suatu ketika saya mengantar adik kelas saya ke Jakarta karena ada urusan yang harus diselesaikan di sana. Dalam perjalanan, kami ngobrol. Di tengah-tengah perbincangan kami yang seru tentang masa depan masing-masing, saya terkejut saat dia bilang…

”Aku salut deh sama teteh. Teteh itu nggak pernah malu sama kegagalan-kegagalan teteh. Dan teteh nggak pernah mau nyerah dengan kegagalan. Dikit lho orang yang yang punya mental seperti itu. Aku aja kayaknya masih belum siap kalo harus ngadepin kegagalan-kegagalan seperti yang teteh alami itu…”.

Saya nggak pernah membayangkan sebelumnya kalau bakalan ada orang yang bilang seperti itu sama saya… Bagi saya, apa yang dia katakan merupakan apresiasi dari usaha yang sudah saya lakukan selama ini. Yang tak jarang usaha yang saya lakukan itu seringkali menemui, tidak hanya kerikil kecil, tapi juga batu kali yang segede-gede gaban kali ya… hehehe…😛. Karena saya selalu yakin, sebesar apapun usaha yang saya lakukan, tetaplah Allah yang jadi penentunya. Dan saya juga selalu yakin kalau Allah selalu memberikan yang terbaik untuk saya…

Sedikit orang yang punya mental “tahan banting” pada kegagalan. Tapi jauh lebih sedikit lagi orang yang punya mental untuk bisa bangkit setelah mengalami kegagalan-kegagalan itu serta tetap berpikir positif dan mencoba mencari hikmah dibaliknya.

Yakinlah kalau apapun yang terjadi dalam hidup kita, selain karena usaha yang telah kita lakukan, juga ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Walaupun menyakitkan, itu adalah yang terbaik untuk kita yang diberikan olehNya. So, terima kenyataan, tapi tetaplah berusaha semaksimal mungkin dan jangan lupa untuk bersyukur…🙂

Bogor, 15 Desember 2009 12:16

~Okvina Nur Alvita

1 Komentar

  1. Bagus kok udah berusaha… hehehe…

    saya malah asal2an klo ikut kegiatan😛

    main2 ke blog saya ya!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: