Saya Ingin Seperti Ayah

Written by: Ratna Megawangi, Ph.D.

Suatu hari suami saya rapat dengan beberapa rekan bisnisnya yang kebetulan mereka sudah mendekati usia 60 tahun dan dikaruniai beberapa orang cucu. Di sela-sela pembicaraan serius tentang bisnis, para kakek yang masih aktif ini sempat juga berbagi pengalaman tentang kehidupan keluarga dimasa senja usia. Suami saya yang kebetulan paling muda dan masih mempunyai anak balita, mendapatkan pelajaran yang sangat berharga, dan untuk ini saya merasa berterima kasih kepada rekan-rekan bisnisnya tersebut. Mengapa? Ini kira-kira kisah mereka.

Salah satu dari mereka kebetulan akan ke Bali untuk urusan bisnis, dan minta tolong diatur tiket kepulangannya melalui Surabaya karena akan singgah ke rumah anaknya yang bekerja di sana. Disinilah awal pembicaraan “menyimpang” dimulai. Ia mengeluh, “Susah anak saya ini, masak sih untuk bertemu bapaknya saja sulitnya bukan main”. “Kalau saya telepon dulu, pasti nanti dia akan berkata jangan datang sekarang, karena masih banyak urusan. Lebih baik datang saja tiba-tiba, yang penting saya bisa lihat cucu.”

Kemudian ini ditimpali oleh rekan yang lain. “Kalau anda jarang bertemu dengan anak karena beda kota, itu masih dapat dimengerti”, katanya. “Anak saya yang tinggal satu kota saja, harus pakai perjanjian segala kalau ingin bertemu”. “Saya dan istri kadang-kadang merasa begitu kesepian, karena kedua anak saya jarang berkunjung, paling-paling hanya menelepon saja”.

Ada lagi yang berbagi kesedihannya, ketika ia dan istrinya menengok anak laki-lakinya yang istrinya baru melahirkan di salah satu kota di Amerika. Ketika sampai dan baru saja memasuki rumah anaknya, sang anak sudah bertanya, “ Kapan ayah dan ibu kembali ke Indonesia?”. “Bayangkan! Kami menempuh perjalanan hampir 2 hari, belum sempat istirahat sudah ditanya kapan pulang.”

Apa yang digambarkan suami saya tentang mereka, adalah rasa kegetiran dan kesepian yang melanda mereka di hari tua. Padahal mereka adalah para professional yang begitu berhasil dalam karirnya. Suami saya bertanya, “Apakah suatu saat nanti kita juga akan mengalami hidup seperti mereka?”. Untuk menjawab ini, saya sodorkan kepada suami saya sebuah syair lagu yang berjudul “Cat’s In the Cradle” karya Harry Chapin. Beberapa cuplikan syair tersebut saya terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia agar relevan untuk konteks Indonesia.

Serasa kemarin ketika anakku lahir dengan penuh berkah

Aku harus siap untuknya, sehingga sibuk aku mencari nafkah

Sampai ‘tak ingat kapan pertama kali ia belajar melangkah

Pun kapan ia belajar bicara dan mulai lucu bertingkah

Namun aku tahu betul ia pernah berkata,

“Aku ingin menjadi seperti Ayah kelak”

“Ya betul aku ingin seperti Ayah kelak”

Reff:

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘nak, tetapi kita akan punya waktu untuk bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Ketika saat anakku ulang tahun yang ke sepuluh:

Ia berkata, “Terima kasih atas hadiah bolanya ayah, wah fi kita bisa main bola bersama. Ajari aku bagaimana cara melempar bola”

“Tentu saja ‘nak, tetapi jangan sekarang, ayah banyak pekerjaan sekarang”

Ia hanya berkata, “Oh…”. Ia melangkah pergi tetapi senyumnya tidak hilang, seraya berkata, “Aku akan seperti ayahku”. “Ya, betul aku akan sepertinya”

Reff:

“Ayah, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘nak, tetapi kita akan punya waktu untuk bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Suatu saat anakku pulang ke rumah dari kuliah;

Begitu gagahnya ia, dan aku memanggilnya,

”Nak, aku bangga sekali denganmu, duduklah sebentar dengan ayah”

Dia menengok sebentar sambil tersenyum,

”Ayah, yang aku perlu sekarang adalah meminjam mobil, mana kuncinya?”

”Sampai bertemu nanti ayah, aku ada janji dengan kawan”

Reff:

“Nak, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘yah, tetapi kita akan punya waktu untuk bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Aku sudah lama pensiun, dan anakku sudah lama pergi dari rumah;

Suatu saat aku meneleponnya.

”Aku ingin bertemu denganmunak”

Ia bilang, ”Tentu saja aku senang bertemu ayah, tetapi sekarang aku tidak ada waktu.

Ayah tahu, pekerjaanku begitu menyita waktu, dan anak-anak sekarang sedang flu.

Tetapi senang bisa berbicara dengan ayah, betul aku senang mendengar suara ayah”

Ketika ia menutu teleponnya, aku sekarang menyadari;

Ya betul, ternyata anakku persis seperti aku.

Reff:

“Nak, jam berapa nanti pulang?”

“Aku tak tahu ‘yah, tetapi kita akan punya waktu untuk bersama nanti, dan tentu saja kita akan mempunyai waktu indah bersama”

Rupanya prinsip investasi berlaku pula pada keluarga dan anak, dimana seorang investor yang berhasil mendapatkan return yang tinggi, adalah yang selalu peduli dan menjaga apa yang diinvestasikannya. Saya sering melantunkan cuplikan syair tersebut dalam bahasa aslinya, ”I’m gonna be like you, Dad. You know I’m gonna be like you”, kapan saja ketika suami saya sudah mulai melampaui batas kesibukannya. Ternyata cukup manjur. “Lutfi… ayo kita kasih makan kelinci”, katanya pada anak kami yang berusia 3 tahun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: