Mang Deden

15 Juni 2009 adalah ulang tahun kakak saya tersayang (di facebook, Ninda Fadlillah) yang ke 25. Untuk merayakan ulang tahunnya tersebut saya sengaja merencana kan suatu kejutan untuknya. Tentunya saya tidak sendirian dalam merealisasikan kejutan itu. Kejutan untuk kakak saya itu fully funded by her husband (bahkan ada lebihnya lho… hehehe…🙂 ).

Akan tetapi, suami kakak saya tidak ikut membantu dalam menyiapkan segala sesuatunya. Ia mempercayakan penuh pada saya. So, jadilah saya merangkap beberapa posisi penting demi suksesnya acara tersebut, yakni ketua panitia, bendahara, seksi acara, seksi konsumsi sekaligus logtrans. Eh, ada satu lagi, seksi dekorasi juga… namun, untuk dekorasi ini saya dibantu oleh seseorang yang bekerja membantu pekerjaan rumah tangga kakak saya, namanya mang Deden.

Pukul 17.00 WIB saya sampai di rumah kakak saya setelah sebelumnya berbelanja beberapa keperluan yang dibutuhkan untuk membuat kejutan dan menembus derasnya hujan di Bogor… (halah, lebay bgt sih,, naik taksi juga… FYI sopir taksinya baik bgt deh. Waktu itu kan biaya taksi cuman Rp16.000, karena jarak botani square-bantar kemang yang dekat. Tapi tarif minimal adalah Rp.20.000, ya saya memberikan saja Rp.20.000 pada sopir taksi itu dan tidak mengharapkan kembalian, but you know what he did? Dia ngembaliin Rp.4000! jarang-jarang banget kan ada sopir taksi kayak gitu??). Ok, balik lagi ke cerita persiapan kasih kejutan untuk kakak saya.

Setelah sampai di rumah kakak saya, saya langsung mempersiapkan kamarnya untuk dihias. Saya menghias kamar kakak saya dengan satu buket bunga, balon, kertas krep dan tulisan Happy Birthday besar-besar (persis perayaan ulang tahun anak-anak deh pokoknya! Hehehe… :P). Nah, dibagian inilah saya dibantu mang Deden.

Mang Deden orangnya cerewet sekali. Ia nanya ini itu sama saya. Padahal waktu itu, ia hanya saya tugaskan untuk meniup beberapa balon. Tapi yang ditanyakannya sampai ke masalah pacar saya segala… (hadoohh,, mang deden-mang deden, capernya emang ampun-ampunan dah!). waktu itu saya agak sedikit bête juga sama mang deden karena pekerjaan meniup balon tidak selesai-selesai karena ia terlalu cerewet. Akhirnya saya turun tangan untuk meniup balon mengingat masih ada balkon yang harus saya sulap menjadi tempat candle light dinner dadakan untuk kakak saya bersama suaminya.

Disaat balon yang harus ditiup tinggal sedikit, mang Deden tanya sama saya “balonnya saya minta satu ya yang warna pink?”

“Buat apa?”, saya balik nanya dengan sedikit sewot.

“untuk anak saya”, jawab mang Deden.

Deg, saya tertegun mendengar perkataan mang Deden saat itu, simple but so touch… Dibalik kecerewetannya (yang seringkali membuat saya kesal) dan ke-caperannya, mang Deden ternyata seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya dan selalu ingat pada putrinya, walaupun saat itu ia sedang berjauhan dengan keluarganya.

Mang Deden, lelaki cerewet yang tidak lulus pendidikan dasar dan ngomongnya pun kurang begitu jelas dan seringkali diulang-ulang. Mang Deden juga tidak lebih dari seorang pembantu. Ia harus rela berjauhan dengan keluarganya dan juga buah hati tercintanya demi memperoleh penghasilan dan memberikan kehidupan yang layak untuk keluarganya. Dibalik semua kekurangan dan keterbatasan yang dimiliki oleh mang Deden, ternyata ia adalah seorang ayah yang sangat penyayang…

~Okvina Nur Alvita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: