Untuk Para Calon Ayah

Setelah sebelumnya menulis tentang sekolah untuk menjadi seorang ibu, saya tergelitik untuk menulis tentang pasangan ibu. Ya, siapa lagi kalau bukan ayah.

Tak bisa dipungkiri kalau ayah memiliki peranan yang sama pentingnya dalam proses pengasuhan anak.

Tapi, sebelum masuk ke inti, saya ingin cerita terlebih dahulu.

Papa di mata saya

Papa, hanya ada satu kata untuk menggambarkan papa saya. Otoriter.

Saat saya berumur belasan tahun dan mulai memasuki dunia remaja, sifat papa ini semakin menjadi. Apapun yang diinginkan, tidak serta merta dikabulkan oleh papa.

Nggak boleh melakukan ini dan dilarang melakukan itu, tanpa ada penjelasan yang tuntas.

Kalaupun boleh, pasti ada beberapa kondisi (syarat) yang mengikutinya.

Kebebasan dikekang.

Di sisi lain, remaja selalu merasa bahwa dirinya sudah besar, sudah dewasa. Tidak seharusnya orang tua masih memperlakukan remaja seperti anak kecil yang harus selalu diatur.

Itu juga yang saya alami. Sifat ini mendorong saya untuk berontak. Saya melawan jika berbeda pendapat dengan papa. Tak jarang papa geram pada saya.

Masih segar dalam ingatan saya bagaimana papa mengusir teman laki-laki saya ataupun teman laki-laki kakak saya yang mencoba untuk berkunjung (baca: ngapel) ke rumah. Pastinya kami bener-bener nggak enak hati dong sama teman kami itu… dan kejadian pengusiran itu pasti berujung dengan kedongkolan hati yang luar biasa pada papa.

Pernah suatu waktu di hari minggu, saya keluar bersama teman-teman saya. Dan saat saya pulang ke rumah (waktu itu jam 5 sore), betapa kagetnya saya mendapati pintu rumah terkunci rapat (padahal biasanya nggak pernah dikunci sebelum ba’da isya). Saya pencet bel rumah dari luar dan beberapa saat kemudian nenek saya membukakan pintu untuk saya. Terus nenek langsung cerita kalau papa tadi marah-marah karena saya keluar rumah terlalu lama (dari pagi sampai hampir maghrib). Dan semalaman itu papa mengurung diri di dalam kamarnya. Saya cuek aja. Besok juga biasanya udah bisa baik lagi. Malam itu saya nggak ambil pusing dengan aksi diam papa.

Keesokan harinya, senin pagi biasanya papa yang mengantar saya berangkat ke sekolah. Tapi saat itu, bukan papa yang mengantar saya. Saya shock. Papa lagi ada di rumah, tapi kenapa nggak mau nganter saya ke sekolah? Saat saya mengetuk pintu kamarnya untuk pamit berangkat ke sekolah, papa juga tidak menjawab. Saya menangis saat dalam perjalanan menuju ke sekolah. Saya merasa benar-benar dihukum oleh papa. Sungguh, didiemin itu jauh lebih nggak enak daripada diomelin atau dimarahin sekalipun!

Cerita diatas kan yang nyebelin tuh, tapi saya juga punya cerita yang lumayan ”dalem” sama papa. Oke, ini ceritanya…

Ketika saya sudah kuliah, saya selalu mudik saat lebaran. Untuk menghemat biaya mudik, saya biasanya naik kereta api. Lebaran tahun lalu saya juga mudik naik kereta api. Tapi saya nggak langsung beli tiket untuk balik ke Bogor karena udah kehabisan. Akhirnya saya memutuskan untuk naik bus saja, dan baru akan beli tiket bus saat sudah di Jember. Trus, waktu mau beli tiket bus, papa bilang sama saya ”Naik pesawat aja ya, nanti kamu kecape’an kalo naik bus…”. Oh my God, that’s so touch for me… bukan naik pesawatnya yang jadi point utama, tapi ”nanti kamu kecape’an”-nya yang jadi point utama… Papa nggak peduli mahalnya tiket pesawat, asalkan putri tersayangnya ini nggak kecape’an… T_T

Just Want to Protect His Child

Tau nggak apa inti cerita saya itu?

Yah, sama seperti sub judul ini, just want to protect his child…

Dimana-mana yang namanya ayah selalu ingin melindungi anaknya. Ia nggak mau hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada anaknya. Kalaupun ayah sampai (dalam pandangan kita) jadi over protective, itu karena saking takutnya ayah melihat kita terluka…

Cuman mungkin caranya aja yang kebanyakan para ayah nggak tahu gimana cara yang tepat untuk mem-protect anaknya tanpa harus tarik urat dulu dengan anak.

Kuncinya: Komunikasi

Melindungi anak memang sudah menjadi tugas ayah (ibu juga sih). Brooks kan bilang kalo tugas orang tua itu nourishing, protecting and guiding for life. Untuk yang protecting, kebanyakan ayahlah yang pegang kendali. Tapi kebanyakan juga nggak tahu gimana cara yang tepat dalam melindungi anaknya, apalagi untuk anak yang sudah meninggalkan masa kanak-kanaknya.

Cuman ada satu kuncinya, komunikasi.

Jangan sekali-kali mengira anak sudah mengerti maksud kita tanpa kita memberitahunya, kecuali kalau kita dan anak kita sudah bergabung dalam dunia ilmu kebatinan… hehehe…😛.

Semuanya butuh komunikasi, semuanya butuh untuk disampaikan supaya orang lain tahu apa yang kita inginkan.

Tidak ada yang salah dengan melindungi anak. Yang salah sebagian besarnya hanyalah pada cara para ayah menyampaikannya. Dan saya akui kalau ayah saya salah satu orang yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik dengan anak-anaknya.

Butuh komunikasi yang baik antara anak dan ayah. Dan komunikasi yang baik itu tidak secara instant terjadi. Butuh waktu untuk mewujudkannya.

Banyak faktor juga yang menyebabkan komunikasi tidak berjalan dengan baik, selain dari sisi si individunya itu sendiri, lingkungan juga ikut berpengaruh.

Personal traits atau sifat yang ada pada diri kita menurut saya memegang peranan penting dalam membentuk komunikasi yang baik dengan orang lain. Orang yang ekstovert mungkin lebih mudah dalam berkomunikasi dengan orang lain daripada orang yang intovert. Orang ekstrovert tahu bagaimana caranya menyampaikan apa yang ia inginkan pada orang lain. Yang mungkin perlu diperbaiki adalah cara berkomunikasinya. Cobalah untuk melihat dari sisi si anak, tempatkan diri kita pada diri si anak, pahami apa yang sedang mereka rasakan, pahami perkembangan mereka dan cobalah untuk memahami dunia anak jaman sekarang. Mungkin dengan ini akan lebih memudahkan kita dalam menyampaikan apa yang kita harapkan dari anak kita nanti.

Di luar personal traits, apa yang ikut berpengaruh dalam membentuk komunikasi yang baik? Keersamaan ayah-anak. Bekerja bukanlah menjadi alasan untuk tidak memiliki waktu bersama dengan anak.

Yang penting itu kualitas bukan kuantitas.

Secapek apapun kondisi kita dan sesedikit apapun waktu kita dengan anak, usahakan waktu yang sedikit itu benar-benar kita manfaatkan sebaik-baiknya dengan anak (ini juga berlaku bagi ibu yang bekerja). Jalinlah kedekatan (yang dalam bahasa psikologinya, emotional bonding) dengan anak dalam waktu yang sedikit itu. Caranya?

Usahakan untuk makan malam bersama keluarga. Saat makan malam itu kita bisa sambil ngobrol dengan anak tentang apapun, mulai dari kegiatan mereka selama seharian sampai pada (mungkin jika perlu) membahas isyu-isyu yang sedang berkembang saat ini.

Saat anak kita masih kecil, usahakan untuk bermain bersama mereka. Bagaimanapun, bermain dengan ayah akan memberikan pengalaman yang berbeda bagi anak daripada bermain dengan play station.

Jika anak kita sudah beranjak remaja, kita bisa mengajak mereka nonton film bareng yang diakhiri dengan mebahas pesan dari film itu. Terus kalau di dalam film itu ada adegan yang diatas 17 tahun, itulah saatnya kita untuk memasukkan pesan moral pada anak bahwa hal itu tidak pantas untuk dilakukan dan tidak sesuai dengan agama, budaya dan norma yang kita anut.

Usahakan untuk jadi sahabat anak. Biasakan untuk saling curhat dengan anak. Biasanya orang lain akan lebih terbuka dengan kita jika kita membuka diri terlebih dahulu. Ini bisa juga diterapkan pada anak. Tentunya curhat pada anak berbeda dong dengan curhat pada istri. Usahakan curhatan kita ke anak disesuaikan dengan usianya. Yang pasti ini hanya untuk memancingnya supaya ia mau curhat pada kita dan menjadikan kita orang yang paling dipercaya oleh anak kita.

Semoga dengan cara-cara itu, komunikasi yang baik dengan anak akan lebih mudah terjalin dan lebih memudahkan kita juga dalam memproteksi anak kita nanti… Semoga…🙂

Untuk Papaku

Papa, maaf kalau dulu aku sering membantah

Maaf kalau dulu aku lebih sering melanggar daripada menuruti

Maaf kalau dulu beberapa kali aku terpaksa membohongimu

Maaf kalau dulu aku sering nyakitin hati papa

Tapi memang seperti itulah dunia remaja

Sekarang baru kumengerti makna dari semua larangan-laranganmu

Papa hanya ingin melindungiku

Papa tidak mau hal-hal yang buruk terjadi padaku

Papa hanya ingin aku bahagia

Sekarang baru kusadar tentang semua itu

Papa, I love you… I love you, with all the way you are…

Okvina Nur Alvita

2 Komentar

  1. Your daddy must be proud for having a great daughter like you🙂

    • thank you very much sist…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: