Ketika Aku Diremehkan

Pasti pernah ngerasain donk gimana rasanya kalau ada satu orang, atau bahkan mungkin lebih dari satu orang, yang meremehkan kita? Rasanya nggak enak kan? Kalau bisa digambarkan, mungkin seperti ini, di dalam dada ini rasanya ada yang meletup-letup seperti gunung vulkanik yang siap menyemburkan magma panasnya… hati jadi dongkol dan pengen ngegampar tuh orang, bener nggak?

Saya juga pernah merasakan hal itu, dan tidak hanya sekali saya merasakannya!

Ok, saya akan menceritakan satu-persatu apa saja yang orang remehkan tentang saya.

USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB)

Pertama kali saya diremehkan yaitu saat saya kelas tiga SMA. Saat itu saya ingin mendaftar PMDK di salah satu perguruan tinggi negeri yang ada di Indonesia. Melihat nilai rapor saya dari kelas satu hingga kelas tiga SMA, guru BK saya menyarankan saya untuk mendaftar ke IPB. Dan saya menuruti saran beliau. Saya mendaftarkan diri ke IPB melalui jalur USMI.

Ada salah satu guru (yang pasti bukan guru BK) yang mengetahui bahwa saya mendaftar USMI dan secara implisit dia berkata pada saya bahwa kemungkinan saya untuk diterima di IPB kecil. Guru tersebut hanya tahu sebatas mana kemampuan kognitif saya di dalam kelas. Memang saya bukan siswa terbaik di kelas, masuk tiga besar di kelas pun tidak pernah, namun nilai rapor saya selalu stabil tiap semesternya. Setidaknya saya masih bisa masuk lima besar dikelas walaupun kegiatan ekstrakurikuler yang saya ikuti lumayan banyak (OSIS, KIR, dan Paskibra). Saya tidak mempedulikan perkataan guru itu, saya tetap mencoba untuk mendaftar di IPB melalui jalur USMI. And, the result is… Dari beberapa orang yang mendaftar USMI, hanya dua orang yang diterima. Saya salah satunya.

BUA (Beasiswa Unggulan Aktivis)

Beasiswa ini merupakan salah satu program beasiswa yang ditawarkan oleh Diknas. Hanya diperuntukkan bagi mahasiswa yang menjabat sebagai ketua, sekretaris dan bendahara di suatu organisasi kampus. Walaupun saya tetap jadi salah satu aktivis kampus, tapi saat itu, jabatan saya hanya Kadiv. Infokom himpunan profesi jurusan. Tentunya, saya sudah tidak lolos persyaratan pertama donk…?

Tapi saya nggak nyerah, saya nekad mengirimkan semua berkas yang dibutuhkan untuk ikut seleksi beasiswa unggulan aktivis di detik-detik terakhir penerimaan aplikasi beasiswa.

Salah satu teman saya sempat mengingatkan saya untuk ”tahu diri” dengan jabatan saya, dia bilang kalau saya pasti tidak akan lolos seleksi pertama karena saya bukan ketua, sekretaris atau bendahara. Tapi saya tidak menghiraukannya. Saya hanya bilang sama dia ”apa salahnya usaha, kalo udah rejeki, nggak bakalan kemana kok…”.

Saya masih ingat, satu malam di bulan Ramadhan, saya dapat sms dari pihak kemahasiswaan IPB yang mengabarkan kalo saya lolos seleksi IPB untuk program beasiswa unggulan aktivis dan saya berhak ikut seleksi selanjutnya di Diknas. Saya juga diminta untuk secepatnya melengkapi berkas aplikasi beasiswa saya yang kurang lengkap. Awalnya saya nggak percaya, takut ada orang iseng yang ingin ngerjain saya dengan ”melambungkan saya sampai ke langit ke tujuh, setelah itu menghempaskan saya lagi sampai ke dasar sumur”… (hahaha, lebay yah??)

Untuk memastikan, sms itu benar, saya menelepon nomor yang meng-sms saya itu, mendengar yang berbicara di seberang sana adalah pak Parta (salah satu staf kemahasiswaan IPB yang cukup saya kenal) saya jadi yakin kalau sms tadi bukan dari orang iseng.

Saya memperbaharui aplikasi dan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk selanjutnya dikirim ke Diknas dan diseleksi oleh Diknas lalu ditentukan apakah saya layak mendapatkan beasiswa itu atau tidak.

And, the result is… eng, ing, eng…

Malam ketiga menjelang Idul Fitri tahun 2007, saat saya sudah mudik lebaran ke kampung halaman di salah satu desa di Jawa Timur, dosen saya mengirim sms pada saya. Isinya singkat, padat dan jelas. ”Selamat Vina, kamu lolos seleksi Diknas untuk Beasiswa Unggulan Aktivis”

Saya lolos seleksi Diknas! Saya lolos Seleksi Diknas! Sekali lagi, saya LOLOS seleksi Diknas!!!

Selesai membaca sms itu, saya langsung lompat-lompat, sambil teriak-teriak kegirangan. Saya langsung menemui ibu saya lalu memeluknya dan memberitahunya dengan agak belepetan karena terlalu banyak kata yang ingin keluar dari mulut saya secara bersamaan. Ibu saya bangga pada saya.

Saya memperoleh beasiswa unggulan aktivis yang salah satu programnya adalah student exchange ke negara Asean.

Akhirnya… mengikuti jejak beberapa teman yang lain, saya ke luar negeri juga (ini untuk pertama kalinya saya ke luar negeri)… dan yang lebih penting adalah membuktikan bahwa keputusan saya kali ini untuk “nggak tahu diri” adalah benar!

To be a Secretary

Irvan Setya Adjie, saat saya kenal dia, dia baru diangkat jadi Menteri Kominfo BEM KM IPB. Saya kenal dia tanggal 25 Desember 2007 di salah satu rumah teman saya. Hari itu juga ia menawarkan saya untuk jadi sekretarisnya di Departemen Kominfo BEM KM IPB. Saya nggak tahu apa alasan Irvan langsung menawari saya untuk jadi sekretarisnya, padahal baru hari itu kami kenal dan dia masih belum tahu kualitas saya. Saya tidak langsung mengiyakan tawaran Irvan. Saya bilang sama Irvan kalau saya butuh waktu untuk mempertimbangkannya.

Yang paling memberatkan saya untuk menerima tawaran Irvan itu karena saya sebelumnya tidak pernah jadi sekretaris dan saya paling menghindari posisi itu. Saya kurang terlatih untuk mengerjakan tugas administrasi. Terlebih lagi karena saya saat itu masih jadi Kadiv di Himaiko (Himpunan Mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen).

Irvan butuh jawaban secepatnya. Saya masih bingung. Akhirnya saya bicara pada Ketua Himaiko tentang tawaran untuk menjadi sekretaris menteri Kominfo di BEM KM. Ketua Himaiko tidak mencegah saya untuk menerima tawaran itu.

Tapi saya masih bimbang. Saya menceritakan tentang hal ini pada beberapa teman saya. Salah satu dari mereka bilang “Kamu tuh kurang cocok jadi sekretaris Vin. Kamu itu orang lapangan, bukan orang administrasi. Nggak bakalan bisa lah ngerjain tugas-tugas sekretaris…”.

Saya hanya diam mendengar komentarnya, tapi tahu apa yang terjadi di hati ini? Hati saya sepertinya mau meledak mendengar komentarnya. Dan saat itu juga saya langsung memantapkan diri, oke aku terima tawaran Irvan untuk jadi sekretarisnya.

Satu tahun saya jadi sekretaris menteri Kominfo BEM KM IPB.

Tolak ukur apakah saya bisa jadi sekretaris atau tidak memang bukan dari bertahannya saya selama satu tahun di posisi itu. Saya mengukurnya ketika LPJ Departemen Kominfo diterima oleh DPM. Salah satu pertimbangan DPM menerima LPJ Kominfo karena administrasi yang bagus. Sekali lagi saya membuktikan kalau komentar teman saya itu salah!!

Saya bisa juga ya jadi sekretaris yang baik?🙂 *senyum puas dan penuh kemenangan*

Cooking something

Banyak yang meragukan apa saya bisa masak atau tidak. Oke, memang rasa masakan saya kadang nggak karu-karuan. But, at least untuk masakan yang simpel-simpel seperti tumis, sayur asam, sayur bening, lodeh, sup dan bumbu-bumbu untuk masak ayam goreng dan lain-lain yang digoreng-goreng, saya sudah hapal. Dan saya juga seringkali bereksperimen dengan resep bikinan sendiri.

Biarkan anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu.

Biarkan orang-orang meragukan kemampuan memasak saya, saya akan tetap memasak.

Pembuktiannya, pada saat libur lebaran kemarin. Saat di rumah saya sengaja ”memensiunkan” sebentar nenek saya untuk memasak. Saya yang memasak, dan hasil masakan saya juga sengaja saya foto.

Saya nggak puas hanya dengan memasak, saya juga mencoba untuk bikin kue. Saya nekat mencoba tiga resep kue. Saya bereksperimen sendiri. Saya kurang mematuhi apa yang dituliskan di resep karena ada beberapa peralatan yang kurang. Saya main kira-kira aja dengan bahan-bahan yang tersedia.

Waktu kue saya jadi, saya langsung mencicipinya. Saya girang bukan main waktu tahu kalau kue bikinan saya ternyata cukup enak untuk ukuran beginner seperti saya ini. Sekali lagi saya membuktikan kalau saya bukan orang yang bisa diremehkan!

To be a Violist??

Saya merasa ada satu hal yang kurang dari diri saya. Apa itu? Saya tidak bisa memainkan satu alat musikpun! Saya ingin bisa memainkan paling nggak satu alat musik aja…

Pikiran itu muncul di tahun 2007. Saat itu saya langsung berpikir kira-kira alat musik apa yang akan saya pelajari? Lalu pilihan saya jatuh pada biola. Saya akan belajar main biola.

Seperti biasa, saya menceritakan tentang apa yang saya rasakan dan apa yang ingin saya lakukan ini pada teman saya. Dan seperti biasa juga, akan selalu ada orang yang meremehkan saya. Dan pada tahap ini lebih dari sekedar meremehkan, tapi sudah pada tahap memperolok-olok saya. Saya gerah dong mendengar perkataannya. Saya langsung membeli biola dan les di Purwacaraka Music Studio. Tapi sayang, hal ini tidak bertahan lama karena waktu yang saya miliki kurang untuk menjalani semua aktivitas saya. Akhirnya saya mengorbankan les biola.

Sampai saat ini saya belum belajar biola lagi… Saya masih belum bisa membuktikan kalau perkataan kawan saya itu salah… Tapi saya sudah bertekad kalau saya pasti bisa memainkan biola. Memang saya tidak berani bermimpi untuk sama seperti Mayla Faiza atau Vanessa Mae, atau violist di Bond. Tapi paling nggak saya bisa memainkan satu lagu dengan biola di hari wisuda & hari pernikahan saya nanti dan saya juga ingin bisa mengajari anak saya main biola nantinya. Itu aja… Well, tinggal kita lihat apakah saya bisa membuktikannya??

Jangan Remehkan Saya

Saya memang bukan orang yang bisa diremehkan. Saya paling nggak suka jika ada orang yang meragukan kemampuan saya. Saya tahu kemampuan saya dan sampai dimana kemampuan lain yang bisa saya kembangkan. Saya tidak akan melakukan hal yang saya sendiri merasa tidak mampu untuk melakukannya, dan saya pasti jujur mengakuinya (contohnya: naik gunung, melakukan hal-hal yang menantang ketingggian seperti paralayang, flying fox etc., dan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan horror dan kekerasan).

Jangan pedulikan apapun yang orang lain katakan pada kita, hanya diri kita sendirilah yang paling tahu tentang kemampuan yang kita miliki.

Jangan down hanya karena perkataan orang lain yang meremehkan kita, justru kata-kata itulah yang harusnya kita jadikan titik tolak untuk membuktikan bahwa hal itu tidak benar…

Dan… Nggak ada yang nggak mungkin terjadi di dunia ini… Semuanya bisa terjadi jika kita mau berusaha untuk mewujudkannya…

~Okvina Nur Alvita

3 Komentar

  1. anggra waskito

    salut dik,
    maju terus. memang harus begitu. lakukan yang terbaik biar kelak gak menyesal jika memandang apa-apa saja yang sudah dan bisa kita lakukan dan apa-apa saja yang tidak kita lakukan…

  2. ayo…ka vina terus maju…
    saya ingin sekali mengikuti jejak ka vina..
    sari doakan agar apa yang diharapkan oleh ka vina tercapai dengan hasil yang baik..
    selalu berpikir dan bertindak positif selalu
    yang penting berusaha dan ada niat..tulll??
    ^___^

  3. sama buk, saya juga. Mungkin semua orang juga

    Tapi dengan begitu mudahnya kita berkata, kadang tak sengaja ^_^

    salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: