Musafir dan Keringanan untuk Tidak Berpuasa

Seminggu yang lalu saya mudik. Saya mudik menggunakan sarana transportasi kereta api. Saya sangat berharap tidak ada orang yang duduk di sebelah saya di kereta api. Saya berani berharap demikian karena saya mudik 10 hari sebelum lebaran dan jumlah pemudik masih belum padat.

Harapan saya tidak terkabulkan, saya harus mendapati seorang laki-laki setengah baya duduk di sebelah saya dalam perjalanan kereta Jakarta-Surabaya. Namun saya, tak berhenti berharap, saya berharap laki-laki ini tidak bawel dan mengajak saya mengobrol, karena saya saat itu sedang letih sekali dan tidak ingin mengobrol dengan orang yang tidak saya kenal. Alhamdulillah, harapan saya yang kedua dikabulkan Yang Maha Kuasa. Laki-laki itu tidak bawel, dia menghabiskan perjalanan dengan membaca buku dan tidur. Dia tidak mengajak saya untuk ngobrol kecuali saat menanyakan saya turun dimana. Saya jawab ”di Surabaya” dan saya balik bertanya padanya, dia menjawab dia turun di Semarang. Alhamdulillah, saya mendapat ”bonus”! Saya sudah mendapatkan teman duduk yang tidak bawel dan setengah perjalanan Jakarta-Surabaya (Semarang-Surabaya) saya tempuh dengan tidak memikili teman duduk di sebelah saya (kecuali kalau ada orang yang nanti naik kereta ini di Semarang danmenggantikan posisinya, saya berharap tidak ada dan memang tidak ada orang yang menggantikannya, senangnya…🙂 ).

Perjalanan Jakarta-Surabaya dengan kereta malam tidak terlalu terasa. Saya sampai di Surabaya pukul tujuh pagi. Saya harus melanjutkan perjalanan Surabaya-Jember dengan kereta yang berbeda. Seperti harapan saya sebelumya, saya sangat berharap tidak ada orang duduk di sebelah saya nantinya.

Saya naik kereta Surabaya-Jember dari salah satu stasiun utama yang ada di Surabaya (Gubeng Baru). Dari stasiun tersebut, tidak ada orang yang duduk di sebelah saya, saya agak sedikit lega. Namun saya lupa, bahwa kereta ini akan berhenti di beberapa stasiun berikutnya untuk menjemput penumpang yang lain. Di stasiun Wonokromo, tidak ada orang yang mengisi kursi di sebelah saya, saya lega. Stasiun selanjutnya adalah stasiun Sidoarjo.

Di stasiun Sidoarjo, ada banyak penumpang yang naik dari stasiun ini karena stasiun ini dekat dengan bandara Juanda (jadi orang yang ingin melanjutkan perjalanannya ke daerah timur Jawa Timur dengan kereta api setelah menggunakan pesawat biasanya naik dari stasiun ini). Ada beberapa orang yang mencari nomor kursinya di gerbong kereta saya, tapi tidak ada yang melirik nomor kursi saya, saya lega.

Akan tetapi tak lama setelah kereta bergerak maju, ada bapak-bapak gendut yang jalan tergopoh-gopoh melihat nomor kursi saya, lalu menjatuhkan pantatnya di kursi sebelah saya. Oh my God!! Saya meneriakkan kata itu di dalam hati. Saya agak sedikit kesal karena harapan saya tidak terpenuhi saat itu, namun yang lebih membuat saya kesal lagi plus ilfil adalah bapak-bapak ini bau mulutnya ampun dah… dan tahu bau mulutnya mengeluarkan aroma apa? Indomie goreng!! Saya langsung mual mencium bau tersebut! Ditambah lagi dengan kalau dia bernafas mengeluarkan bunyi seperti orang yang sedang ngorok halus. Walaupun bunyi nafasnya seperti orang yang ngorok halus, bagi saya yang namanya ngorok ya tetap saja ngorok! Saya paling tidak suka dengan bunyi tersebut! Pastinya saya sangat terganggu saat itu! Apalagi bau indomie goreng tidak hilang-hilang.

Harapan saya tidak dikabulkan saat itu, tapi saya masih berani berharap lagi. Saya berharap bapak-bapak ini tidak mengajak saya untuk mengobrol. Tapi harapan hanya tinggal harapan, ia mungkin termasuk orang yang ”sangat ramah”. Dia mengajak saya mengobrol. Saya menanggapi sekenanya saja. Sungguh saya sangat mual mencium bau indomie goreng keluar dari mulutnya. Tidak berhenti hanya disitu, dia mohon maaf pada saya untuk minum dan makan kue karena ia memutuskan untuk tidak puasa saat itu. Ia berkata bahwa ia telah melewati lebih dari seribu kilometer, menurutnya ia seorang musafir. Saya hanya bisa memalingkan muka menatap hektaran sawah yang terhampar diluar kaca jendela kereta api sambil tetap menahan mual dalam perut saya yang mungkin sebentar lagi akan berlanjut pada bunyi ”huek-huek”, tapi Alhamdulillah saya tidak mengeluarkan bunyi tersebut dari mulut saya. Sungguh cobaan berpuasa dihari itu…

Bapak-bapak tersebut menyebut dirinya sebagai seorang musafir. Memang benar ia telah melewati lebih dari seribu kilometer, tapi apakah masih pantas jika ia disebut sebagai seorang musafir jika seribu kilometer yang ia lalui hanya ditempuh dalam waktu satu jam menggunakan pesawat? Terlebih lagi ia hanya duduk diam di dalam pesawat, atau mungkin ia juga tertidur di dalam pesawat? Sungguh perjalanan yang sangat singkat bukan? Kalau memang pengen nggak puasa mah bilang nggak pengen puasa aja, jangan bawa-bawa musafir sebagai alasan!

Saya tidak mengerti apakah di jaman sekarang ini masihkah orang yang menempuh seribu kilometer dalam jangka waktu hanya satu jam (dan itupun tidak melelahkan) masih bisa dikatakan sebagai musafir sehingga diberi keringanan untuk tidak berpuasa?

Allah memang memberi keringanan bagi musafir untuk tidak berpuasa pada bulan Ramadhan dan harus menggantinya di waktu lain. Hal penting yang perlu dibahas adalah definisi dari musafir itu sendiri. Definisi yang sesuai dengan perubahan zaman saat ini.

Pada zaman dahulu memang menjadi seorang musafir mungkin sangatlah berat. Kita harus berjalan atau berkuda melewati padang pasir atau padang rumput, atau hutan, atau whatever! Hal itu jelas membutuhkan tenaga ekstra dan wajar jika kita tidak berpuasa. Namun saat ini? Dengan pesawat, kita hanya membutuhkan waktu satu jam untuk menempuh lebih dari seribu kilometer! Mungkin akan lebih melelahkan jika kita beraktifitas seharian melakukan pekerjaan sehari-hari dibandingkan dengan harus menempuh ribuan kilometer hanya dengan duduk diam dan bahkan kita juga bisa tidur dalam perjalanan itu. Maka apakah masih pantas kita mendapatkan keringanan untuk tidak berpuasa?

Jember, 17 September 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: