Differences Point of View of Golden Generation

Tulisan saya yang berjudul Golden Generation banyak mendapatkan tanggapan dari para pembaca, baik itu yang dikirimkan melalui email ataupun blog saya. Jujur, saya sangat senang dengan kritikan, masukan dan juga dukungan yang masuk karena semua itu memberikan kontribusi pada saya untuk lebih mengasah pemikiran dan mengembangkan diri.

Kalau boleh saya jujur dan berbagi dengan semua yang telah membaca artikel saya tersebut. Saat saya menulis artikel itu, yang ada dalam pikiran saya adalah saya ingin anak-anak yang lahir pada tahun 80an yang saat ini mungkin sedang kuliah (baik itu S1 ataupun S2), baru masuk dunia kerja, ataupun yang masih duduk dalam bangku sekolah dan yang capable untuk akses internet (sebagian besar yang bisa akses internet adalah orang dengan status sosial ekonomi menengah keatas dan juga memiliki pendidikan yang memadai, walaupun tidak menutup kemungkinan orang yang diluar kategori itu juga bisa akses internet, bukankah informasi saat ini terbuka bagi siapapun ditambah lagi dengan mudahnya menemukan warung-warung internet, namun sekali lagi sepertinya saya perlu ulangi kata sebagian besar, biar nantinya tidak menuai salah persepsi pada para pembaca) agar memperoleh informasi tentang golden generation dan lebih mau memikirkan problematika bangsa dan sedikit aware dengan keadaan bangsa saat ini.

Hal tersebut tercetus dalam pemikiran saya karena ketika memperhatikan teman-teman dan beberapa perilaku warga Negara Indonesia saat ini lebih cenderung hanya memikirkan aspek ekonomi dan lebih mengutamakan dirinya sendiri. Sangat kontras dengan keadaan bangsa kita. Saya hanya ingin orang yang membaca artikel saya bisa tumbuh awareness dalam hatinya untuk lebih melihat realita sosial dan turut memikirkan permasalahan bangsa serta memberikan kontribusi untuk bangsa ini sesuai dengan kemampuannya. Just it, nothing else.

Kritikan, masukan, dan juga dukungan yang masuk pada email dan blog saya, saya anggap sebagai perbedaan yang ada diantara kita. Setiap orang memiliki point of view yang berbeda dalam melihat suatu hal. Ada yang melihat dari kacamata positif atau pun sebaliknya. Menurut saya hal itu wajar karena kita tidak mungkin memaksakan semua orang untuk memiliki pemikiran yang sama dengan kita dan tidak semua orang memiliki persepsi yang sama dalam memandang suatu hal.

Namun saya hanya ingin meluruskan kritikan-kritikan yang masuk tersebut supaya semua pihak bisa merasa lega.

Komentar sugeng di blog saya:

1. Golden Generation? mari kita lihat sekitar, moral kaum muda semakin jauh dari norma, apalagi nilai2 agama. apakah hanya dikarenakan 80an swasembada pangan kemudian dapat disebut generasi emas? kualitas manusia tidak hanya dipupuk dengan pangan, tapi dengan pendidikan yang bermoral, agama, dan berkarakter

2. contoh lain baru-baru ini anak2 SD indonesia meraih 3 emas dlm ajang matematika.

Tanggapan saya:

Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya karena telah ada interest pada diri anda untuk membaca artikel saya. dan anda juga seorang yang sangat kritis.

saya tahu tulisan saya pasti akan banyak menuai pro dan kontra dan saya sangat senang anda telah memberikan beberapa kritikan serta masukan yang membangun dan saya banyak belajar dari situ terutama bagaimana menulis yang baik.


Jawaban saya pada komentar segeng yang pertama adalah:

betul, oleh karena itu saya tulis pada tulisan diblog saya dan juga di email bahwa “pertanyaannya sekarang adalah, apakah anak-anak GG mampu membawa bangsa ini lepas dari semua permasalahan yang selama ini membelit bangsa Indonesia tercinta kita? jawabannya it’s depend on their character (good character), their motivation n their optimism. anak-anak GG haruslah memiliki karakter yang kuat dan motivasi serta optimisme yang tinggi dalam diri mereka.”. Sepertinya saya telah menjelaskan sebelumnya bagaimana keterkaitan antara gizi, kesehatan, modal dasar bangsa, dan tentang bagaimana seharusnya kita berperilaku untuk dapat membangun bangsa ini. Anak-anak yang lahir tahun 80an memperoleh luxury treatment (beberapa orang tua yang saya wawancara mengatakan bahwa pada tahun 80an pemenuhan akan kebutuhan sehari-hari sangat mudah dan terjangkau, memang wawancara saya tersebut tidak dapat mewakili data yang sesungguhnya namun sudah cukup memberikan gambaran pada saya akan keadaan Indonesia saat itu, dan ini mungkin bisa menjadi salah satu topic penelitian yang menarik) berupa pemenuhan terhadap segala kebutuhannya. Anda mengatakan bahwa “mari kita lihat sekitar, moral kaum muda semakin jauh dari norma, apalagi nilai2 agama”, itu juga salah satu hal yang menjadi keprihatinan saya dengan realitas sosial yang ada saat ini. Oleh sebab itu saya menulis artikel Golden Generation agar anak-anak yang lahir tahun 80an dan yang saat ini memiliki nasib yang baik (memperoleh kehidupan dan pendidikan yang layak sehingga ia mampu akses internet dan kebetulan membaca artikel saya) mengetahui bahwa sebenarnya ia adalah tumpuan bangsa. Setelah itu syukur Alhamdulillah jika tumbuh dalam hati mereka awareness terhadap permasalahan bangsa dan mau melakukan sesuatu untuk bangsa ini. Saya telah jelaskan pada bagian sebelumnya bahwa niatan saya menulis artikel Golden Generation adalah dikarenakan oleh keprihatinan saya pada kualitas generasi muda saat ini.

Jawaban saya pada komentar segeng yang kedua adalah:

Memang ada beberapa anak-anak yang lahir pada tahun setelah era 90an yang juga memiliki kecerdasan yang luar biasa. Namun jika kita bandingkan dengan seluruh anak yang lahir pada tahun setelah era 80an, apakah anda dapat membuktikan bahwa anak-anak tersebut telah mampu mewakili generasi keseluruhannya? Merela hanyalah seper-sekian juta dari keseluruhan anak yang lahir pada tahun 90an.

Komentar burjunasution@yahoo.com di blog dan email saya:

Tanggapan saya:

Ada yang bilang “jangan kau tanyakan apa yang sudah negaramu berikan untukmu tapi tanyakanlah apa yang telah kau berikan untuk negaramu”. So, saya sekarang ingin bertanya pada anda (walaupun ini sebetulnya tidak etis) “Apa yang sudah anda berikan untuk Negara selama ini?”, tapi saya sangat yakin telah banyak yang sudah anda berikan untuk Negara mengingat sepak terjang anda terutama dalam dunia pertanian.

“No action, talk only” atau orang sering menyingkatnya dengan NATO, mungkin itu yang ada dalam mindset anda saat membaca tulisan-tulisan saya. Kembali lagi dengan the difference point of view seseorang dalam memandang sesuatu. Dalam pandangan saya, dengan menulis artikel saya telah melakukan hal kecil yang elegan dalam memberikan kontribusi untuk mencoba membantu mengatasi permasalahan bangsa. Dan sebisa mungkin saya akan berusaha untuk lebih melakukan hal yang riil yang langsung menyentuh pada kalangan yang membutuhkan bantuan saya dan hal tersebut mungkin bisa dimulai dari Raya Darmaga 19, thank’s atas masukannya.

Golden Generation bukan hanya sekedar wacana, rekan saya telah menulis hal yang serupa untuk lomba essay, namun sayang masih belum berkesempatan untuk mempresentasikan hasil analisisnya. Dan saya akan menghubungi ia untuk meminta bahan-bahan atau data-data yang akurat terkait dengan Golden Generation (karena yang saya tulis saat ini adalah hanya sekedar hasil pemikiran saya).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: