Andai Dunia Tanpa Keluarga

Andai dunia tanpa keluarga. Suatu kondisi yang tidak dapat saya bayangkan. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Keluarga membentuk suatu komunitas yang disebut masyarakat. Jika tidak ada keluarga, mungkin saja masyarakat terbentuk, namun dapat dipastikan bahwa tidak akan terjadi suatu tatanan yang harmonis dalam masyarakat. Mengapa demikian? Karena keluarga adalah tempat pertama seorang individu belajar bahwa dirinya adalah mahluk social yang tidak pernah bisa lepas dari orang lain serta tempat pertama seorang anak belajar mengenai system kehidupan yang ada di dunia ini. Apabila tidak ada keluarga artinya tidak ada orang tua, akibatnya tidak ada pula orang yang mengasuh anak, membesarkannya dengan penuh kasih sayang, memberikan perlindungan padanya, serta memenuhi segala sesuatu yang dibutuhkannya selama masa pertumbuhan dan perkembangannya. Bila hal tersebut benar-benar terjadi, dampak lain yang dapat ditimbulkan adalah anak tumbuh dengan sendirinya dan tidak ada yang mengontrol tingkah lakunya sehingga dia akan berlaku seenaknya sendiri dan tidak berkarakter. Apabila hal tersebut terjadi maka masyarakat yang terbentuk adalah masyarakat yang bertindak “masa bodoh” dengan apa yang dilakukannya, maka generasi penerus bangsa di masa yang akan datang pasti akan hancur, akibatnya tidak akan ada lagi harmonisasi kehidupan di muka bumi.

Makna keluarga bagi saya sangatlah penting karena keluarga terutama orang tua adalah satu-satunya tempat yang masih mau menerima kita apapun keadaan kita. Sebagai seorang wanita dan ibu nantinya, saya ingin semua yang terbaik untuk keluarga, terutama anak saya. Saya rela melepaskan semua yang sudah saya capai (seperti karier dan jabatan misalnya), kalau anak saya membutuhkan saya. Satu hal yang pasti, saya tidak akan bekerja saat hamil tua (mulai memasuki usia kehamilan 7 bulan) hingga anak saya masuk sekolah. Saya benar-benar tidak ingin melewatkan masa-masa kritis ataupun the golden age anak saya. Saya ingin mencurahkan semua yang saya punya untuk anak saya. Saya akan mengasuh anak saya secara demokratis dengan menanamkan prinsip-prinsip good character pada anak saya. Saya tidak hanya ingin mencerdaskan anak saya secara kognisi, namun saya ingin menggali semua potensi yang ada pada anak saya nanti. Saya baru ingin bekerja kembali saat anak saya sudah masuk usia sekolah atau prasekolah. Dan pekerjaannya pun harus setengah hari, jadi saat anak saya pulang ke rumah setelah sekolah, saya juga ada di rumah. Saya benar-benar hanya menginginkan yang terbaik untuk keluarga saya, terutama anak saya nanti.

Keluarga yang ideal menurut saya adalah keluarga yang harmonis dimana tiap-tiap orang yang ada dalam keluarga tersebut tahu peran dan fungsinya masing-masing. Di dalam keluarga yang harmonis akan terbentuk lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak, sehingga anak-anak yang tumbuh di dalamnya dapat berkembang secara optimal.

Keadaan keluarga saat ini terutama di Indonesia menurut saya sudah cukup memprihatinkan. Banyak diberitakan baik di media cetak atau televisi tentang terjadinya kasus-kasus perceraian, kekerasan dalam rumah tangga (terjadi pada anak atau pada pasangan), remaja yang terlibat narkoba, dan lain sebagainya. Berita-berita tersebut adalah gambaran dari adanya penurunan fungsi-fungsi keluarga. Jika penurunan fungsi keluarga tersebut tidak diatasi, maka bukan tidak mungkin kalau suatu saat keluarga sudah tidak berfungsi lagi dalam membentuk generasi baru yang berkualitas karena nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan dalam keluarga tidak berjalan sebagaimana mestinya. Apabila hal tersebut terjadi, maka tatanan masyarakat pun akan rusak, dan apabila tidak ada tatanan yang benar dalam masyarakat maka suatu bangsa akan hancur, seperti yang diucapkan oleh vice president USA Dan Quayle (Mei, 1992): “… The failure of our families is hurting America deeply. When families fail, society fail. The lack of structure in our inner cities testament to how quickly civilization falls a part when the family foundation cracks. Children need love and discipline. They need mothers and fathers…”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: