Pembelajaran Hidup yang Berharga dari Seorang Pesuruh Kantor

Saya baru saja mendapat tugas mewawancarai salah satu pegawai di tempat saya menimba ilmu saat ini. Pegawai tersebut merupakan salah satu staf tata usaha. Amanah yang diembannya setiap hari adalah menyiapkan LCD di tiap-tiap jadwal kuliah. Dalam menjalankan amanah tersebut ia tidak mendapat bantuan dari siapapun.

Sejak saya mulai masuk di tempat dimana saya saat ini menimba ilmu, saya sudah menyadari bahwa beliau merupakan salah satu pegawai yang cukup rajin serta tidak banyak omong. Memang benar adanya, beliau adalah salah satu tipe orang yang “sedikit bicara, banyak bekerja”. Bahkan beberapa kali ketika hari sabtu dan minggu jika saya ada kegiatan di kampus, atau malam hari ketika ada rapat-rapat organisasi saya seringkali melihat beliau masih melakukan beberapa pekerjaan yang lain (seperti mengurus taman kampus, menyapu kelas, dll). Awalnya yang terbersit dalam benak saya, beliau merupakan salah satu dari sekian banyak pegawai yang memiliki tanggung jawab serta dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Namun ketika tadi saya sedikit mengobrol dengan beliau (sebelumnya saya belum pernah mengobrol kecuali jika diperlukan dan mendesak, bahkan menyapa pun jarang karena beliau termasuk tipe orang pendiam), saya akui saya kagum dengan beliau.

Beliau memiliki keikhlasan yang luar biasa. Beliau ikhlas melakukakn pekerjaannya walaupun imbalan yang diterimanya tidak seberapa. Beliau memiliki dedikasi tinggi terhadap tanggung jawab yang diembannya, sekecil apapun itu. Selain itu beliau juga memiliki inisiatif untuk melakukan sesuatu hal, inisiatif inilah yang saat ini memudar dari karakter yang dimiliki sebagian besar generasi muda saat ini yang bisanya hanya mengkritik tanpa tindakan yang nyata (NATO-No Action Talk Only).

Setiap pukul enam pagi beliau telah berangkat dari rumahnya ke tempat dimana ia dapat memperoleh sumber penghasilan untuk menghidupi keluarganya. Dengan sabar beliau menyiapkan beberapa peralatan yang dibutuhkan untuk mendukung kegiatan perkuliahan. Jika dalam satu waktu ada lebih dari satu mata kuliah, maka kadangkala beliau agak terlambat menyiapkan peralatan tersebut sehingga tak jarang beliau mendapat teguran yang agak keras dari staf pengajar. Walaupun mendapat teguran, walaupun orang yang menegur tersebut tidak mau tahu dengan kondisinya yang menyebabkan ia terlambat menyiapkan LCD, walaupun tidak ada yang membantunya menyiapkan LCD, walaupun ia tidak dapat membela diri karena sadar akan posisinya yang hanya sebagai “tukang suruh”, dibandingkan dengan gelar Doktor dari orang yang menegurnya, ia tetap sabar menghadapi semua itu. Ia tak mengeluh sedikitpun pada siapapun. Ia tetap menekuni pekerjaannya dengan penuh tulus ikhlas. Baginya, dimarahi adalah konsekuensi dari pekerjaannya. Ia harus menerima konsekuensi itu sebagai suatu risiko pekerjaan. Ia menekuni pekerjaanya tanpa pamrih, bahkan seringkali ia membantu pekerjaan teman sejawatnya karena ia ingin suasana tempat kerja dan tempat belajar mengajar menjadi menyenangkan. Sungguh luar biasa…

Mungkin tidak sekali dua kali beliau mendapat perlakuan yang menyenangkan dari atasannya yang telah mengenyam pendidikan sampai ke mancanegara. Namun, sungguh perlakuan seperti itu tidaklah pantas dilakukan oleh kaum intelektual . Sampai saya berpikir apakah ada korelasi positif antara pendidikan tinggi dengan ego? Sampai-sampai tidak dapat memposisikan diri di dalam diri orang lain? Menurut saya, seharusnya semakin tinggi pendidikan seseorang dan semakin tinggi tingkat intelektualitas seseorang, maka seharusnya ia menjadi lebih rendah hati dan lebih mampu untuk memahami posisi orang lain. Apalagi jika orang tersebut menekuni ilmu yang erat kaitannya dengan psikologi. Namun yang terjadi sebaliknya. Mungkin maksud “Doktor” tersebut baik, supaya pesuruh dapat menjadi lebih disiplin dalam hal waktu. Tapi tidakkah sebagai orang yang berpendidikan dan sangat memahami ilmu psikologi ia seharusnya mencari tahu penyebabnya terlebih dahulu, baru melakukan tindakan yang tepat. Wajar jika ia terlambat menyiapkan peralatan karena hanya ia seorang diri yang mengemban tugas tersebut. Namun, apapun perlakuan yang kurang menyenangkan yang diterimanya dari atasannya, beliau menerima semua itu dengan lapang dada…

Dalam kasus ini, saya melihat bahwa seseorang yang tidak lulus SD (ijazah SD dan SMPnya melalui ujian persamaan) lebih mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan tentang kepribadian dan karakter manusia daripada seseorang yang bergelar Doktor di bidang tersebut. Sungguh saya banyak mendapat pelajaran dari wawancara yang berdurasi tidak lebih dari satu jam. Semoga apapun gelar saya nanti dan setinggi apapun pendidikan saya nanti, Allah tetap melindungi saya dari berbagai macam penyakit mendasar bawaan manusia jika ia merasa “lebih” dan semoga Allah tetap menjaga hati saya agar tetap memiliki sifat rendah hati… Amien…

3 Komentar

  1. pak gandi emang cool kak!
    waktu itu kan mlm2, pa gandi lagi nungguin yg pinjm ruangan, trus dia curhat gitu ke eike. katanya kmarn2 ada yg nyolokin organ ke colokan LH, trus korslet, eh tu bocah pindah ke colokan kantin gmsk, korslet lagi, jadi pa gandi dapet job tambahan.

    semoga Allah membalas jasanya dengan pahala yg berlipat ganda, & semoga dosa2 beliau diampuni.amin

  2. Jah!! Bijak nian ibu ini. Amiin lah pokoknya. =)

  3. mantabsss… semoga yg lain dpt ambil hikmahnya jg dlm berdedikasi sebuah tanggungjawab, baik di kerja, kuliah, berorganisasi atau bahkan berdedikasi kpd ortu yg mempercayai kita kuliah dan hidup terpisah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: