Mengenal Lebih Dekat Sosok Andrea Hirata (Wawancara Eksklusif dengan Andrea Hirata 24 Oktober 2008)

“Mahasiswa harus Inisiatif”

-Andrea Hirata-

Tanggal 24 Oktober 2008 merupakan salah satu hari bersejarah bagi IPB karena untuk pertama kalinya Kick Andy Off Air diadakan di IPB tepatnya di gedung Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga-Bogor. Salah satu bintang tamu pada acara tersebut adalah seorang yang sangat fenomenal pada kurun waktu dua tahun terakhir ini. Ia sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia melalui karyanya yang cukup menggebrak dunia sastra, tidak hanya di Indonesia, namun juga sampai mancanegara. Yup, dia adalah Andrea Hirata.

Setelah acara Kick Andy usai, BEM KM IPB diberi kesempatan khusus untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Andrea Hirata, dan berikut ini adalah hasil wawancara yang telah dilakukan.

BEM KM IPB (B): menurut mas Andrea pribadi, makna cinta itu apa?

Andrea Hirata (A): saya pikir saya setuju dengan pandangan bahwa “If you loBe someone, you set him/her free”. Cinta itu adalah pemahaman, toleransi. Jadi sebetulnya kalo kita mencintai seseorang kita memberi orang itu pilihan, itulah bagi saya, jadi saya tidak setuju sebetulnya jika cinta itu adalah fete comply. Cita tu bener-bener harus pengertian tulus.

B: sepanjang hidup mas Andrea sampai sekarang, orang-orang yang mas Andrea cintai siapa aja?

A: sebenarnya ada di buku itu…

B: semuanya?

A: iya semuanya…

B: kalo yang ada di buku itu kan A-ling dan Katya. Kalo A-ling sampai saat ini bagaimana?

A: A-ling, tunggulah ceritanya di Maryamah Karpov, akan terbit Insya Allah akhir November.

B: wah… jadi nggak sabar nih mas nunggu bukunya…ngomong-ngomong masalah buku, buku-buku mas Andrea ini memiliki nilai edukasi tinggi. Apa nggak mencoba untuk kerjasama dengan pihak-pihak depdiknas atau lembaga-lembaga lain biar jadi lebih murah sehingga bisa dijangkau banyak orang dan juga bisa mengurangi pembajakan?

A: kalau ada yang mau mensubsidi, wah saya seneng banget. Tapi kan kita selalu menawarkan, kepada berbagai pihak, termasuk film juga kan kemarin kita punya film yang memiliki nilai edukasi yang baik, kita tahu film ini akan meledak. Tapi tidak semua orang memiliki Visi seperti Anda. Sekarang di India buku itu murah karena memang disubsidi sama pemerintah, di India di Pakistan, nah di Indonesia mana ada subsidi pada buku? Kalaupun ada, subsidinya masih kepada buku pelajaran. Pada buku sastra masih minimal, dan pemahaman kita tentang yang namanya learning. Di kita paradigmanya, otoritas dalam hal ini, tidak melihat sastra sebagai proses pembelajaran. Padahal mungkin apabila seorang anak SMP membaca laskar pelangi mungkin jauh lebih penting dari pada dia membaca buku matematika, karena buku itu akan menerbitkan pemahaman pada dia. Tapi dunia buku kita termasuk cara pandang pemerintah itu masih sangat pragmatis. Mereka tidak melihat bahwa orang dapat belajar banyak dari sastra, dari novel. Novel laskar pelangi memberikan pancing bukan memberikan ikan, dan itu lebih penting sebenarnya daripada, barangkali daripada buku-buku pelajaran itu sendiri karena buku laskar pelangi itu adalah character building, pembentukan karakter. Harusnya buku-buku seperti itu disubsidi, harusnya buku-buku seperti laskar pelangi, tidak harus laskar pelangi ya, buku-buku yang lain juga gitu, harusnya dibaca semua guru dan murid.

B: kalo misalkan usaha dari pihak manajemennya mas Andrea sendiri untuk misalkan ke departemen pendidikan nasional gitu biar buku tersebut disubsidi gimana mas?

M: kami anti proposal

A: tapi kami sebenarnya, kami ini, jadi sebetulnya harusnya inisiatif itu tidak dari kami, karena kami adalah karyawan, orang yang berkarya. Mengenai bagaimana buku itu akan menyebar, bagaimana ia akan menyangkut, agar dia sampai pada masyarakat luas, itu bukan tugas kami sebenarnya

B: kalo misalnya dari pihak Depdiknasnya sendiri nggak ada inisiatif?

A: sekarang Depdiknas ini banyak mendapat sorotan juga dari masyarakat ketika mereka lamban sekali merespon film laskar pelangi misalnya. Jadi baru ketika masyarakat rame-rame, Depdiknas ini adem-adem aja, padahal ini film yang sangat baik gitu ya. Tapi baru belakangan mereka bergerak, jadi katanya sih mereka akan memberikan apresiasi pada para pembuat film itu. Nah, jadi susah juga kita mengharapkan otoritas. Tapi itu memang tipikal di kita. Jadi tipikal di Indonesia itu semuanya nunggu, semuanya nggak ada penggeraknya, cuman konsep-konsep aja, jadi sifatnya reaktif gitu, sudah ada begini baru ia menyesuaikan diri untuk pencitraannya, jadi kita sudah lama ini sebetulnya berkecil hati minta dana.

B: Saya baru seminggu yang lalu nonton laskar pelangi. Dan waktu setelah nonton, terfikir di benak saya nanti kalau sudah keluar CD originalnya pengen beli, dan nanti kalo pulang kampung mau ditonton bareng-bareng sama anak-anak di kampung…

A: itulah yang saya tunggu inisiatif seperti itu. Dan justru itulah esensi dari program saya laskar pelangi in action. Intinya apa, inisiatif. jadi itu kan maksud saya, kita sebagai orang muda kadang-kadang suka terikut-ikut dengan pola yang ada. Jadi kita selalu saja mengharapkan pemerintah berbuat sesuatu. Jadi kita mengharapkan pemerintah, pemerintah nggak akan bergerak. Nah, jadi kita harus membangun suatu mentalitas kayak tadi, ada VCD ya puterin sendiri, walaupun yang nonton cuman 20 orang anak kampung cukup itu, tapi bagaimana kalo semua orang melakukan hal itu? Kita ngarepin Diknas misalnya, kayaknya nggak akan kejadian. Gitu juga saya dan manajemen. Makanya kami nggak pernah minta ke pemerintah agar ini itu, mengajukan proposal agar ini itu. Hati-hati, mahasiswa suka begitu. Apa-apa proposal, apa-apa proposal, memang sih kita kesulitan dana, memang karena kesulitan dana sehingga harus begitu, tapi dengan kreatifitas saya yakin bisa. Lihat laskar pelangi tidak dibantu apapun oleh pemerintah, kan bisa. Saya nggak pernah dibantu apapun oleh pemerintah, kan bisa berbuat sesuatu. Mahasiswa haruslah punya inisiatif, jangan selalu punya mentalitas untuk mengkritik pemerintah saja karena menjalankan pemerintahan itu tidak mudah lho, susah itu berat. Kita harus kreatif cari jalan-jalan lain.

B: tadi mas Andrea sempat bilang laskar pelangi in action, kalau boleh tahu itu mengenai apa?

A: itu merupakan project pribadi saya yang dibiayai oleh royalty fim dan buku untuk membuat sekolah di Belitung.

B: luar biasa sekali visi mas Andrea ini. Trus ini mas, laskar pelangi kan luar biasa sukses. Mas andrea sendiri sudah puas belum dengan kesuksesan yang telah dicapai laskar pelangi?

A: tergantung, dari definisi sukses. Jadi kalau kita mendefinisikan sukses ini sebagai best seller. Laskar pelangi, bukunya itu terlaris dalam sejarah buku sastra Indonesia. Belum pernah terjadi sebelumnya dalam arti novel gitu. Kalo dari definisinya sukses itu ya jelas sudah tercapai. Film juga, 3 juta penonton dalam sebulan, belum pernah terjadi di Indonesia. Namun kan dimensi sukses ini banyak. Misalnya secara pribadi, saya merasa hidup saya makin susah sekarang, karena kan sudah jadi perhatian public. Dan jadi perhatian public itu tidak mudah. Apalagi publik lebih melihat saya sebagai role model. Sebagai orang yang patut diteladani, dan itu tidak mudah.

B: sebenarnya impian mas Andrea saat ini apa?

A: jadi yang jelas saya akan berhenti menulis karena saya ternyata tidak begitu nyaman menjadi orang terkenal, serius ini jujur. Sudah saya unkapkan di berbagai media. Jadi saya ternyata tidak berbakat jadi orang TOP! Dan saya cemas, makin hari perhatian orang makin banyak pada saya dan itu membuat saya tidak nyaman. Saya ternyata lebih senang seperti pak Ahmad Tohari, tinggal di kampung, menulis, tanpa banyak orang tahu, yang orang tahu hanya karyanya saja. Sekarang orang banyak melihat saya secara pribadi. Hingga rencananya, tahun 2009 setelah Maryamah Karpov, saya mau STOP karena rupanya saya tidak terlalu senang menjadi sorotan. 10 tahun yang lalu hidup saya jauh lebih nyaman. Kalau saya ada acara di Jakarta misalnya, orang-orang sudah kayak ngelihat artis panggung gitu. Saya juga heran kok bisa seperti itu kepada seorang novelis. Yang pasti, saya ingin mendefinisikan kembali hidup saya. Dulu nggak dikenal orang hidup saya lebih nyaman, lebih tenang. Saya tidak berbakat untuk menjadi orang terkenal. Rencananya, kalau saya nulis lagi mau pakai nama orang lain.

D: mas nggak takut pembaca atau penggemar kecewa?

A: saya kira apabila mereka melihat buku bukan melihat saya, tidak ada alasan bagi mereka untuk kecewa. Kadang-kadang saya sekarang menyesali gitu mengapa saya tidak menggunakan nama samaran dan tidak tampil sejak awal ya.

B: mas keberatan tidak kalau apa yang sudah mas lakuin baik itu film maupun novel mas ditiru oleh orang lain?

A: monggo, silahkan. Justru saya tunggu gitu. Orang kalo teenlit atau fiksi islami banyak yang meniru, tapi kenapa nggak ada orang yang nulis seperti laskar pelangi. Saya tunggu, saya harap tulisan seperti laskar pelangi itu menjadi tren.

B: mungkin dia belum percaya diri bahwa kehidupan dia itu belum luar biasa.

A: nggak ada hubungannya. Style, writing style yang menentukan. Tidak ada hubungannya buku yang bagus karena peristiwanya hebat. Peristiwa sederhana tentang berkebun bisa menjadi buku yang hebat. Kehidupan yang hebat, kawin-cerai apa belum tentu jadi buku yang bagus. Sastra adalah representasi, soal menampilkan, soal gaya bukan substansi. Bukan inti dari apa yang ditulis. Itulah beda buku sastra dengan buku sains.

B: sejak kapan sih mas Andrea itu mulai nulis?

A: saya bukan penulis, laskar pelangi itu hadiah untuk ibu guru saya. Saya itu secara tidak sengaja terjerumus saya ke dalam dunia novel. Saya tidak pernah bermaksud untuk menerbitkan novel laskar pelangi, tapi setelah itu kemudian muncul ide Sang Pemimpi, Edensor sebagai ide berikutnya.

B: Apa tips-tips dari mas Andrea sendiri sampai impiannya bisa terwujud?

A: tidak pernah berhenti belajar, orang muda itu besar sekali kemampuannya. Kemampuan Anda itu besar sekali, tapi yang nampak hanya 10-15%. Sebenarnya tergantung bagaimana kita mempersepsikan diri kita sendiri. Saya pernah sekolah di luar negeri dan saya lihat orang kita itu sebenarnya tidak benar-benar berusaha menampilkan yang terbaik dari diri kita. Sebenarnya kita jauh lebih mampu daripada yang kita bayangkan. Sebenarnya saya yakin bahwa banyak orang yang mampu menulis lebih dari saya, cuman mentalnya itu nggak terlalu yakin. Saya selalu gitu belajar, bacalah Maryamah Karpov, disana ditulis bagaimana sifat positif itu bisa membuat kita menemui hal-hal yang ajaib, Saya jelaskan dalam Maryamah Karpov bagaimana sifat positif dapat mengantarkan kita bahwa jika kita yakin bisa, ya bisa.

Nah, sudah lebih jelas kan dengan sosok Andrea Hirata, dengan pemikiran sekap serta sifatnya? Jika pembaca masih penasaran dengan Andrea Hirata dan ingin berkomunikasi langsung dengannya bisa mengirimkan email di sangpemimpi@gmail.com.

4 Komentar

  1. harus kreatif…

  2. enonk

    Kalo mau mundur dari hiruk pikuk dunia yang mirip celeb, itu sih hak mas Andrea…. but please…….jangan berhenti menulis, INdonesia masih kekurangan penulis seperti mas Andrea

  3. bad_boy

    mungkin mas andrea sudah kehabisan ide, karena menurut survey, penulis yang menceritakan masa lalunya adalah kurang kreatif, banyak penulis yang seperti itu. berhenti tatkala semua kisah hidupnya telah dituangkan dalam bentuk novel. Huuh!! aku kecewa dengan mas andrea yang menyerah dengan pamoritas, padahal manfaat dari bukunya sangat besar bagi orang banyak.

  4. buat bad boy:
    salah kalau anda bilang mas Andrea udah kehabisan ide karena waktu wawancara beliau bilang bahwa sebenarnya beliau sudah punya beberapa ide novel yang bisa ditulis dengan cepat, namun beliau ingin menarik diri dulu dari publik karena beliau tidak nyaman dengan popularitasnya. bahkan beliau ingin nanti kalau menerbitkan buku baru tidak menggunakan nama andrea hirata (pake nama samaran). Paham?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: