PKMM (Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Pengabdian Masyarakat) 2008/2009

BE A CREATIVE YOUTH FOR AGRICULTURE : PROGRAM MENINGKATKAN MINAT DAN KECINTAAN TERHADAP PERTANIAN BAGI PELAJAR SMK DI KOTA BOGOR

Diusulkan Oleh:

Okvina Nur Alvita

Ruri Kurnia Andany

Bayu Isra’ Liswardana

Ayu Fitri K.

Gina Ginanjarsari


I. LATAR BELAKANG MASALAH

Era globalisasi telah membawa berbagai perubahan dalam perkembangan dunia dewasa ini. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut meliputi berbagai bidang, salah satunya adalah dalam bidang ekonomi. Perkembangan ekonomi berjalan sesuai dengan perkembangan zaman, Alvin Toffler dalam Future Shock (1970) dalam Simatupang (2007)[[1]] menyebutkan bahwa peradaban manusia terdiri dari tiga gelombang; era pertanian, era industri, dan era informasi, Presiden Indonesia berpendapat bahwa gelombang peradaban keempat ini adalah era kreatif sebagai kelanjutan dari gelombang ekonomi informasi. Lebih lanjut Presiden juga menyatakan bahwa ekonomi kreatif adalah ekonomi gelombang keempat, yang berorientasi pada kreativitas, budaya, serta warisan budaya dan lingkungan. Ekonomi kreatif adalah ekonomi yang lebih mengedepankan kreativitas, dan inovasi sebagai motor penggerak ekonomi.

Perkembangan zaman yang telah berubah sebanyak empat kali tersebut tentunya juga membawa perubahan pandangan dalam diri manusia. Pada era pertama, manusia mengunggulkan sektor pertanian sebagai ”lahan” untuk bertahan hidup. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, sektor pertanian banyak ditinggalkan oleh sebagian besar manusia karena sudah dianggap tidak menjanjikan serta tidak mampu menghasilkan income yang mencukupi untuk dapat tetap hidup pada era saat ini. Perubahan yang terjadi itu membawa dampak yang cukup mengkhawatirkan bahkan menimbulkan masa depan yang suram bagi perkembangan pertanian, tidak hanya di Indonesia namun juga di seluruh dunia.

Negara agraris merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sebagai negara agraris Indonesia tidak dapat dipisahkan dari aspek pertanian. Perubahan orientasi ekonomi yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya juga memberikan pengaruh bagi perkembangan pertanian di Indonesia. Perubahan yang cukup signifikan terjadi pada adanya penurunan (degradasi) rasa bangga dan cinta pertanian yang dimiliki oleh generasi penerus bangsa, akibatnya minat geerasi penerus bangsa untuk menggeluti bidang pertanian pun mengalami penurunan. Hal tersebut dapat terlihat selama kurun waktu satu tahun yakni pada tahun 2005 sampai Juni 2006 sebanyak 40 fakultas pertanian sudah ditutup ditambah lagi dengan menurunnya keberadaan Sekolah Pembangunan Pertanian – Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPP-SPMA) hingga 55% [[2]]. Keadaan ini dapat memberikan gambaran bahwa hanya sedikit sumberdaya manusia Indonesia yang berkualitas yang nantinya akan memajukan pertanian Indonesia. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan bagi Indonesia karena di era kreatif ekonomi saat ini Indonesia harus mampu bersaing dalam pasar global, namun tetap dengan jati diri bangsa Indonesia sebagai negara pertanian, karena era kreatif ekonomi merupakan suatu era yang berorientasi pada kreativitas, budaya, serta warisan budaya dan lingkungan.

Tantangan yang harus dihadapi oleh Indonesia dalam menghadapi era kreatif ekonomi akan lebih berat jika sumberdaya manusia berkualitas yang ada di Indonesia tidak memiliki jati diri sebagai negara agraris. Jati diri sebagai negara agraris dapat terlihat dengan minat generasi muda yang tinggi terhadap pertanian. Ironisnya, berdasarkan data yang telah disajikan pada paragraf sebelumnya menunjukkan telah terjadi penurunan minat generasi muda untuk menggeluti bidang pertanian. Menurunnya minat terhadap pertanian tersebut dikarenakan oleh kurangnya pengenalan terhadap hal-hal yang menjanjikan dari bidang pertanian. Pengenalan terhadap dunia pertanian selalu identik dengan pak tani di desa yang perkerjaannya mencangkul dengan kehidupan yang miskin dan tidak berkembang. Apabila sejak usia dini anak-anak Indonesia mengenal pertanian seperti ilustrasi itu, maka tidak heran jika generasi muda saat tidak berminat pada sektor pertanian.

Era creative economy sudah didengar gaungnya sejak tahun 2007. Pemerintah melalui Departemen Budaya dan Pariwisata, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian dan Departemen Koperasi dan UKM telah melakukan berbagai strategi untuk menghadapi tantangan di era baru tersebut. Akan tetapi, ada satu hal yang cukup vital yang dilupakan oleh pemerintah, yakni tidak memasukkan Departemen Pertanian dalam koordinasi menghadapi era creative economy, padahal pertanian merupakan jati diri, warisan budaya serta lingkungan yang sebenarnya juga mendukung keberhasilan Indonesia dalam menghadapi era ekonomi gelombang keempat. Oleh sebab itu diperlukan suatu koordinasi yang terintegrasi dalam manghadapi era creative economy tidak hanya dari pemerintahan saja, namun juga dari kalangan akademisi, NGO dan masyarakat. Download makalah selengkapnya DISINI


[1] Pikiran Rakyat. Rabu, 01 Agustus 2007. Gelombang Ekonomi Kreatif

[2] Pikiran Rakyat, 8 Juli 2006. Lembaga Pendidikan Bidang Pertanian Gulung Tikar.

3 Komentar

  1. YOYOK

    Mbak Vina lanjutkan cita-cita untuk menjadi ustadzah yang cerdas dan bermanfaat bagi umat…..

  2. yan

    siip buanget rek tulisan nya buat mbak vina semoga sukses aja yach
    mudah2an cita-citanya kesampaian
    bravo pertanian indonesia

  3. ddeddeg

    good posting

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: