Analisis Sistem Evaluasi Hasil Belajar Siswa yang Menghambat Pengembangan Karakter Siswa SMA

Analisis Sistem Evaluasi Hasil Belajar Siswa

yang Menghambat Pengembangan Karakter Siswa SMA

(Studi Kasus: SMAN 65 Jakarta)

Disusun oleh:

Okvina Nur Alvita


Latar Belakang

Beberapa tahun berturut-turut peringkat Indonesia dalam Human Development Index (HDI) menempati posisi pada urutan bawah. HDI Indonesia tahun 2006 berada pada posisi 108 dari 177 negara (UNDP, 2006). Hal tersebut menunjukkan rendahnya kualitas SDM Indonesia. Salah satu faktor yang menentukan kualitas SDM adalah pendidikan. Kenyataan bahwa Indonesia menempati posisi bawah dalam HDI menunjukkan lemahnya manajemen sistem pendidikan di Indonesia.

Selama berpuluh-puluh tahun banyak kekurangan yang ada dalam  sistem pendidikan di Indonesia. Kekurangan tersebut antara lain: terlalu berorientasi pada aspek akademis, teacher oriented, kurikulum yang terlalu berat, rasio guru dan murid yang tidak sesuai, dan aplikasi metode pendidikan yang digunakan kurang sesuai dengan tahapan perkembangan usia anak (Alvita, 2007). Akibatnya, SDM yang dihasilkan bukanlah SDM yang handal, namun sebaliknya SDM yang dihasilkan adalah generasi yang tidak percaya diri (apalagi kalau divonis dengan sistem rangking di sekolah), tidak bisa bekerja, tidak terampil, dan tidak berkarakter (Megawangi, et. al., 2005). Maka tidak heran jika mutu SDM Indonesia dalam HDI berada jauh dibawah Malaysia, Thailand, Filipina, dan terutama Singapura yang telah masuk dalam kategori high human development (UNDP, 2006).

Rendahnya HDI Indonesia yang berkorelasi dengan adanya kekurangan pada sistem pendidikan di Indonesia harus dibenahi. Selama ini karena tujuan pendidikan diarahkan untuk mencetak anak padai secara kognitif (yang menekankan pengembangan otak kiri saja dan hanya meliputi aspek bahasa dan logis matematis), maka banyak materi pelajaran yang berkaitan dengan pengembangan otak kanan (seperti kesenian, musik, imajinasi, dan pembentukan karakter) kurang mendapatkan perhatian (Megawangi, et. al., 2005). Padahal untuk menghasilkan SDM yang handal, salah satu syaratnya adalah karakter dari masing-masing individu haruslah baik. Hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri bagi sekolah dan guru untuk memasukkan nilai-nilai budi pekerti dalam membentuk karakter yang kuat pada siswanya. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah sistem pendidikan yang ada kurang mendukung keleluasaan guru dalam memasukkan nilai-nilai karakter pada siswanya. Selain itu, keterampilan dan kekreatifan guru dalam memasukkan nilai-nilai karakter melalui pelajaran di sekolah pun patut untuk dipertanyakan karena selama ini guru cenderung hanya menuntaskan materi yang harus diajarkan pada siswa.

Permasalahan yang ada seputar sistem pendidikan yang berlaku di Indonesia telah menjadi suatu bahan yang hangat untuk diperbincangkan, terutama bagi kalangan yang concern pada dunia pendidikan di Indonesia. Selain itu, karena pendidikan memegang peranan penting dalam mencetak kualitas SDM Indonesia, yang nantinya akan menentukan perkembangan bangsa ini. Diperlukan suatu solusi untuk mengatasi permasalahan pendidikan di Indonesia melalui terobosan baru dalam sistem pendidikannya. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Departemen Pendidikan Nasional melakukan beberapa perubahan dalam jangka waktu kurang lebih empat tahun terakhir ini agar dapat memberikan perubahan pada output dari pendidikan yang selama ini hanya mampu mencetak SDM pada posisi bawah HDI.

Perubahan yang dilakukan pada sistem pendidikan di Indonesia dilakukan melalui kurikulum yang berlaku. Sejak tahun 2004 dunia pendidikan Indonesia menerapkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang dipayungi oleh Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). Namun pada tahun ajaran 2006/2007 Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diberlakukan menggantikan KBK 2004 (http://id.wikipedia.org/wiki/Kurikulum_Tingkat_Satuan_Pendidikan).

KTSP yang berlaku sejak tahun 2006 diharapkan dapat menyempurnakan sistem pendidikan yang ada sebelumnya di Indonesia (Kurikulum 1994 dan KBK 2004) serta mampu menjawab permasalahan pendidikan yang selama ini menjadi polemik dalam dunia pendidikan Indonesia. Akan tetapi semua hal tersebut tidak akan berarti jika implementasi di lapangan tidak mengalami perubahan dari sistem pendidikan dan kurikulum yang ada sebelumnya.

Download full paper disini

25 Komentar

  1. unang

    vin artikelnya keren sekali, ini bisa jadi bahan skripsi lho

  2. Artikelnya menarik banget, masalahnya saya dulu ketika SMA Kalau ujian maka sistem ujian dengan tiga bahkan sampai empat mata pelajaran dalam sehari, jadi kirimin donk data terlengkapnxa

  3. aku setuju sekali, kalau masalah karakter jadi bahan pembahasan dan tujuan di sekolah. Karena tanpa adanya karakter yang baik, kita hanya akan melahirkan generasi yang instan, baik dalam cari uang (koruptor), memecahkan masalah (KKN dan Penyuap), serta perilaku buruk lainnya

  4. ass, ku setuju banget dengan adanya pendidika karakter di Indonesia.Seperti yang kita tahu kualitas pendidikan kita ini. Sungguh amat miris..vina boleh nggak aku ngopi buku kamu yang Megawangi, R. 2004. Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat Untuk Membangun Bangsa. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation.

    Megawangi, R., et.al. 2005. Pendidikan Holistik. Cimanggis: Indonesia Heritage Foundation.
    Masalahnya ku pusing nyari buku itu padahal ku penasaran abis tentang isi buku itu apa sama dengan pendidikan holistik untuk life long learner? jawab ke emailku ya… secepatnya

  5. back

    bagus vin,gw suka banget,boleh plug ngga

  6. adhe

    Sumpah keren banget artikelnya, gw jadi terinspirasi ingin punya sekolah yang memiliki kriteria biar nantinya anak didik gw terlahir dengan hasil yang memuaskan

  7. iik

    kEreeeeeeeeeeen…………………………………………… saLut Bgt!!!!!!!

  8. SOFYAN ARLAN

    bagus, salut ats pandangannya. Menilai bukan men-judgemt, tapi memberdayakan

  9. V3a

    wa…h
    artikelnya baguz, gue lagi butuh ni artikel buat tugas mata kuliah gue “pengembangan karakter”, dan…
    studinya tuh pas banget lagi dari hasil penelitian di skul gue sendiri….

  10. fahmi zubir

    Assl.
    Vin… tulisan kamu keren.. kamu suka di pendidikan ya… Aku juga lagi mau bikin tesis tentang TQM bisa kirim2 bahan kali ya…?
    Salam kenal ya…
    Thanks
    Wassl.

  11. tulisannya bagus, salam kenal.

  12. neokorteks

    saya link blog nya ya kk

  13. yanzi

    Asmlkm. Okvina Nur Alvita

    bagus…..
    cita-citanya juga realistis… ditunggu tulisan berikutnya.

  14. fauzan

    Assalaamu’alaikum…..
    syukrn tas tulisanx, bs mnt tlong gak ukh, kalo ntum punya PTK bwat sekolah dasar di muat jg dunk… Jazakumullah khoiron katsirn….

  15. Makasihya tulisan anda dapat membantu saya dalam menulis karya ilmiah. sekali lagi trim. mudah mudahan dikemdian hari lebih lengkap lagi tulisan anda dan dapat jadi niali ibadah bagi teman teman seperti saya yg butuh refrensi.

  16. Bagus, lanjutkan perjuangan kamu dan cita-cita juga bagus, semoga sukses semua keinginannya juga realistis itu bisa dicapai………dengan perjuangan dan doa, kalo ada yang bisa dibantu dari saya silahkan email……….

  17. indra aveiro

    makcih makalahnya..kebetulan lom ngerjain tugas evaluasi hasil belajar ne…lumayan buat referensi….thanks 4 u

  18. ganda yanuar

    isu dan konsep yang ditawarkan bagus sekali, cuma di bagian tujuan penulisan. anda saya kira kurang menggunakan kata-kata operasional. klo mengetahui! saya kira semua pembuatan makalah juga akhirnya untuk mengetahui. tapi apakah tujuannya akan mendeskripsikan, merekonstruksi, menghubungkan atau yang lainnya itu yang tidak ada dalam tujuan penulisan makalah anda.

    • Terima kasih atas sarannya yang sangat mendukung.

  19. L.I. Rilantono

    Dear Alvita, Saya dr. Lily I. Rilantono sedang menyusun buku tentang kwalitas anak. Apakah tulisan ini merupakan bagian dari thesis/Skripsi. Bila demikian, bisakah saya mendapatkan copynya untuk keperluan tersebut. Dapatkah saya menghubungi anda. No. HP anda berapa ?

    Terima kasih.
    (kabarnya ditunggu)

    Lily I. Rilantono
    (0816900678)
    lilyrilantono@yahoo.com

  20. saya mohon ambil data anda untuk pendukung data saya dalam pembuatan skripsi. sebelumnya terima kasih

  21. saya rasa tidak sepenuhnya kesalahan pada jumlah mata ujian yang diujikan dalam sehari. semestinya dipahami, bahwa evaluasi yang dilakukan dalam model ktsp, sangat berbeda dengan kurikulum dibawah/sebelum KBK. perbedaan mencolok dalam sistem evaluasi KTSP adalah, evaluasi pada KTSP dilakukan per kompetensi. setiap satu kompetensi selesai maka dilakukan uji kompetensi. sebenarnya ujian semester sama saja degan ujian harian/uji kompetensi. pada saat ujian semester, materi ujian hanya diambil dari kompetensi yang terakhir yang belum diujikan, bukan mengulang/menguji kembali materi/kompetensi yang telah diuji-kompetensikan sebelumnya. jadi saya rasa itu bukan beban yang akan menjadikan peserta ujian “stress”. Maaf kata stress menggunakan tanda petik. saya tidak setuju jumlah mata ujian perhari menjadi faktor siswa stress. satu mata ujianpun kita semua pasti “stress”(stress = tertekan). kita semua pasti pernah mengikuti ujian kan?
    perilaku siswa yang muncul karena merasa dirinya sendiri “stress” juga tidak dapat dijadikan sumber masalah sehingga mereka berbuat tidak jujur. tetapi ini adalah masalah moral. berapapun jumlah mata ujian yang harus dihadapi perhari, seorang siswa yang telah terbiasa bermoral jujur, tidak akan berbuat curang tentunya.
    Mana dasar bahwa jumlah mata sehari maksimal sekian-dan sekian. satu mata ujian pun pasti kita akan mengalami apa yang namanya stress/tertekan.
    saya SETUJU dengan, dengan pendidikan holistik. pendidikan yang mendidik siswa untuk memiliki kecerdasan yang utuh (tentu dengan kuantitas yang berbeda pada masing-masing orang), sehingga akan tercipta manusia memiliki kepribadian/moral yang utuh.
    INI SULIT DAN MUDAH. Kenapa begitu? SULIT karena memang sulit. Dan akan mudah jika kita mau melakukan. bukankah BERSAMA KESULITAN ADA KEMUDAHAN. so berbuatlah. Saya yakin kita akan menjadi Bisa karena ada orang yang peduli seperti anda.
    mohon maaf.
    wassalam

  22. JAN MUMET MIKIRENA NILAI NE BOCAH SING PADA ENJEL MAU DIBIJI PIRA WONG ENYONG DEWEK KUWE BINGGUNG ?

Trackbacks

  1. Analisis Belajar « Marbawauun’s Weblog
  2. PERAN GURU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER SISWA « Pengetahuanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: