Revitalisasi Khazanah Budaya Indonesia melalui Pengasuhan dalam Keluarga

Revitalisasi Khazanah Budaya Indonesia melalui Pengasuhan dalam Keluarga

Oleh: Okvina Nur Alvita

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana media yang ada (baik cetak maupun elektronik) memberitakan berbagai macam kebudayaan Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, yang terbaru adalah Reog. Reog merupakan salah satu kebudayaan asli Indonesia yang disinyalir oleh Malaysia merupakan kebudayaan asli negaranya. Sebagai bangsa Indonesia tentunya kita tidak rela budaya warisan leluhur diakui oleh negara lain sebagai kebudayaan asli negaranya, apalagi jika negara yang berasangkutan sampai mematenkan kebudayaan itu. Namun, di sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut sampai terjadi karena kelalaian dari masyarakat Indonesia dalam mempertahankan eksistensi kebudayaannya sendiri. Jika kita melihat generasi muda saat ini, hanya sedikit yang benar-benar mau konsisten mempertahankan kebudayaan warisan nenek moyangnya. Sebagian besar dari mereka lebih mengenal kebudayaan asing daripada kebudayaan asli Indonesia, maka tak heran jika negara lain sampai “mengakui” kebudayaan asli Indonesia merupakan kebudayaan negaranya.

Adanya penurunan prioritas kecintaan terhadap budaya Indonesia yang terjadi pada generasi muda Indonesia saat ini dapat dikarenakan generasi muda Indonesia kurang mendapat sosialisasi tentang budaya-budaya asli Indonesia dalam keluarganya. Sejak usia dini, mereka telah terbiasa dengan kebudayaan dari negara lain, misalnya saja lagu-lagu dari luar negeri dan komik dari jepang. Keadaan ini diperparah dengan tuntutan ekonomi yang semakin tinggi sehingga orang tua kurang memiliki waktu bersama anak. Dampaknya, orang tua kurang memiliki waktu lebih untuk bersama-sama anaknya dalam memperkenalkan budaya asli Indonesia. Oleh  karena itu, tidak mengherankan jika generasi penerus bangsa sekarang kurang memiliki pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya kelestarian budaya dan kesenian asli Indonesia.

Fenomena menurunnya kecintaan generasi muda Indonesia saat ini – yang lebih familiar dengan budaya yang berasal dari luar Indonesia – harus segera diantisipasi agar generasi penerus bangsa pada masa yang akan datang tidak kehilangan jati diri asli bangsa Indonesia, yang terefleksikan melalui beranekaragamnya budaya dan kesenian Indonesia. Upaya antisipasi tersebut dapat dilakukan melalui revitalisasi khazanah budaya Indonesia, yaitu melalui pengasuhan dalam keluarga.

Keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak memegang peranan penting dalam internalisasi kebudayaan asli Indonesia dalam dirinya. Dalam hal ini, orang tua sebagai primary caregiver harus mampu menjalankan fungsi dan peranannya semaksimal mungkin. Sebagai agen sosialisasi, orangtua berperanan penting dalam mengembangkan anak dan memiliki identitasnya melalui racial socialization (Hughes, 2003)[1]. Brooks (2001)[2] menyatakan bahwa orang tua harus berperan sebagai buffer antara anak dan lingkungan. Sebagai buffer antara anak dan lingkungan, hal yang dapat dilakukan oleh orang tua adalah dengan mengajarkan nilai dari budaya mereka kepada anak, mengajarkan nilai dari budaya yang umum berlaku pada masyarakat, dan mengajarkan realitas sebagai anggota ras/suku tertentu dan bagaimana mengatasi perbedaan dengan realitas yang ada sehingga diperoleh rasa bangga sebagai suatu suku bangsa bagi perkembangan anak sendiri.

Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke menyebabkan kayanya budaya yang ada di Indonesia. Begitu juga dengan orang tua, orang tua yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dapat menjadi aset yang penting dalam mengajarkan kebudayaan pada anak.

Orang tua yang berasal dari daerah yang berbeda tentunya memiliki kebudayaan yang berbeda, sehingga memang tak dapat dipungkiri jika kadangkala orang tua yang berasal dari kebudayaan yang berbeda memiliki perbadaan dalam hal kebiasaan dan cara mengasuh anak. Namun, hal tersebut bukanlah menjadi penghambat bagi orang tua dalam mengajarkan kebudayaan Indonesia pada anaknya. Justru sebaliknya, orang tua yang berasal dari kebudayaan yang berbeda dapat mengajarkan pada anak lebih banyak ragam budaya yang ada, sehingga anak memiliki referensi lebih banyak tentang kebudayaan yang ada di Indonesia.

Dalam hal mengasuh dan mengajarkan kebudayaan Indonesia serta memasukkan nilai-nilai budaya yang ada pada anak, orang tua harus menyamakan persepsi terlebih dahulu sehingga nantinya dapat meminimalisir kebingungan pada anak dalam mempelajari kebudayaan yang satu dengan yang lainnya. Selain itu, orang tua juga harus menggunakan metode pengasuhan yang bersifat universal, yaitu tidak memihak pada salah satu kebudayaan tertentu, dan mengutamakan kebaikan yang bersifat universal. Hal lainnya yang penting juga dilakukan oleh orang tua adalah menutupi kekurangan yang ada pada satu kebudayaan, dan lebih mengutamakan hal-hal positif yang ada pada kebudayaan tersebut serta mengajarkan atau setidaknya memperkenalkan pada anak seluruh kesenian yang ada pada kebudayaan orang tuanya. Seperti yang diungkapkan oleh Don Antonio Ulloa dalam The Peopling of the Americas: Anglo Stereotypes and Native American Realities (1772)[3] bahwa “orang Indian adalah orang Indian, jika Anda melihat seorang Indian, berarti Anda melihat semua orang Indian”, hal yang serupa seharusnya bisa terjadi di Indonesia jika orang tua mampu mengajarkan pada anak tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia.

Bentuk kongkrit dari pengasuhan orang tua yang dapat menanamkan semua unsur kebudayaan yang ada pada anak-anak mereka adalah sebagai berikut:

· Menerapkan gaya pengasuhan yang demokratis

· Mendongeng pada anak sebelum tidur

· Mendengarkan musik daerah bersama-sama dengan anak

· Mengajarkan bagaimana cara memainkan alat musik tradisional

· Membuat suasana rumah (termasuk perabotan rumah) bernuansa kebudayaan yang ada di Indonesia

· Bertamasya ke tempat-tempat wisata yang sekaligus dapat memberikan pembelajaran pada anak tentang kebudayaan Indonesia (misalnya ke TMII, candi Borobudur, candi Prambanan)

· Memperkenalkan pada anak tentang keanekaragaman budaya Indonesia melalui buku

· Menggunakan internet bersama-sama untuk mencari informasi lebih lengkap tentang kebudayaan yang ada di Indonesia

· Mengenakan pakaian tradisional (batik, songket, kebaya) tidak haya pada acara-acara tertentu saja, namun juga dalam keseharian (bukankah batik saat ini telah diproduksi untuk beragam jenis pakaian)

Indonesia memiliki budaya yang sangat beragam. Keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia merupakan suatu uniqueness capital bagi Indonesia. Namun, hal tersebut tidak akan ada artinya jika tidak dilestarikan oleh generasi penerus bangsa. Keluarga sebagai institusi pertama dan utama dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak memegang peranan penting dalam internalisasi kebudayaan asli Indonesia dalam dirinya. Dalam mewujudkan hal tersebut, maka keluarga terutama orang tua harus menjalankan fungsi dan perannya semaksimal mungkin. Diharapkan dengan pengasuhan yang dilakukan oleh orang tua dan dukungan dari masyarakat dan pemerintah, kebudayaan Indonesia dapat terus eksis sampai kapanpun.


[1] Hughes (2003) dalam Hastuti, Dwi dan Alfiasari. 2007. Pengasuhan Menurut Budaya, Ras dan Bangsa. Modul mata kuliah Pengasuhan, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

[2] Brooks (2001) dalam Hastuti, Dwi dan Alfiasari. 2007. Pengasuhan Menurut Budaya, Ras dan Bangsa. Modul mata kuliah Pengasuhan, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

[3] Don Antonio Ulloa (1772) dalam Hastuti, Dwi dan Alfiasari. 2007. Pengasuhan Menurut Budaya, Ras dan Bangsa. Modul mata kuliah Pengasuhan, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

4 Komentar

  1. Bagus tulisannya, menghubungkan kecintaan terhadap kebudayaan asli indonesia dengan pengasuhan dalam keluarga, dimana kita ketahui pembentukan karakter dan nilai individu pertama2 dalam keluarga.

  2. unang

    Uas 3 minggu..?!,kedengaranya asyik tuh..,jangan lupa bawa obat sakit kepala sama air putih yach,jadi kalu lg nyut..nyutan kepalanya tinggal diminum tuh obat,he.he..he..,have a nice examination

  3. betul vin!!,pengasuhan dalam keluarga itu memang sangat penting dan mayoritas seseorang yang dalam pendidikan didalam keluarganya baik maka akan mejadi orang besar atau sukses contoh yang bisa diambil,Misalnya:

    1.Dari dalam negeri sendiri, kalau tidak salah dia adalah seorang dosen diUGM, dia mempunyai anak dan dia merencanakan masa depan anaknya dengan pendidikan dirumah dan menyesuaikan kurikulum disekolah umum (program home scooling),ketika dewasa sianak disekolahkan dijerman,berita menggembirakan datang dari sianak tersebut yaitu sianak mendapatkan hak patennya dijerman karena dia telah menemukan alat pendeteksi detak jantung dijerman.

    seorang anak apabila tidak diberikan perhatian dari kecil maka lingkungan akan mengambil kedudukan orang tua dalam mendidik anak,apabila lingkungan tidak bagus maka sianak akan terjerumus dalam lingkungan yang hitam.

    2.dari luar negri kita telah mengenal thomas alfa edison dia mendapatkan pengetahuan bukan dari sekolah tapi dari didikan seorang ibu yang sangat sabar dan menyayanginya.

  4. setuju… budaya indonesia eksis…

    I LOVE INDONESIA

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: