Garuda Indonesia DreamHoliday dari Bali ke Titik 0 Kilometer Sabang

Dari tahun 2012 saya dan istri sudah merencanakan mau ke Titik 0 Kilometer Sabang. Tadinya kami rencana mau berangkat Januari 2013, saat itu anak kami Avi baru berusia 1 tahun 7 bulan. Karena masih bayi maka kami rencana mau menulis buku Traveling with my baby. Hitung-hitung budget untuk 6 bulan perjalanan sekitar Rp. 350.000.000. Wow, besar sekali, mulai mencari sponsor, tapi Alhamdulillah ga dapat. Rencana kami saat itu gagal selain karena masalah biaya, ada masalah lainnya, yakni soal waktu. Ya, 6 bulan meninggalkan pekerjaan benar-benar TIDAK gampang. Rencana di undur sampai Februari 2013, budget mulai di tekan sampai ke angka Rp. 100.000.000. Dan dengan sukses GAGAL lagi. Kami undur ke Maret 2014 dipotong sampai ke 3 bulan perjalanan, dan kembali gagal. Lalu kami rencanakan kembali untuk berangkat November 2014, di tekan sampai ke 2 bulan dengan budget Rp. 60.000.000. Pada saatnya tetap tidak ada sponsor. Dengan alasan tidak ada sponsor dan musim hujan di undur lagi ke Maret 2015. Dan kembali gagal.

Akhir April 2015 saya dan istri ngobrol, ini mungkin waktu kami paling tepat karena 27 Juli 2015 nanti Avi sudah masuk sekolah. Ga terasa anak ini sudah besar, dan ga mungkin kami tulis buku Traveling with my baby. Istri mulai ganti tema jadi, From Bali With Love: A Family Road Trip From Bali To Aceh (Sabang). Kami rencana berangkat 6 Juni 2015, budget di tekan jadi cuma Rp. 30.000.000. Jumlah hari pun di tekan, kami merencanakan berangkat 6 Juni 2015 sampai kembali di rumah tanggal 24 Juni 2015.

1. Foto mobil di Pantai Kuta

Foto mobil di Pantai Kuta

Disaat Sabtu pagi tanggal 6 Juni 2015, barang sudah di mobil dan kami siap berangkat, kami gatau mau bagaimana, karena uang yang kami miliki hanya ada Rp. 500.000. Ya, cuma segitu. Tidak ada uang di rekening. Uang kami benar-benar hanya tinggal segitu. Kami berangkat dari rumah menuju Kuta, karena mau menemui teman istri yang sedang ada di Bali. Saya iseng foto mobil di pintu masuk ke Pantai Kuta. Setelah ketemu temannya Vina, kami berangkat. Kami beli bensin full tank di Pom Bensin Dewi Sartika. Rp. 290. 524.

Struk Bensin

Struk Bensin

Ketapang

Penyebrangan dari Gilimanuk ke Ketapang

Dari Kuta kami langsung menuju ke Pelabuhan Gilimanuk untuk menyebrang ke Jawa (Ketapang) dengan biaya penyebrangan Rp. 148.000. Sampai di Ketapang kami langsung menuju ke Malang. Di Malang tadinya ga ada rencana menginap, tapi disana Avi bertemu dengan Kakeknya hingga akhirnya kami memutuskan untuk menginap malam itu disana. Keesokan harinya disaat kami pamitan, kami di bekali oleh-oleh banyak sekali, dan Avi juga di sangoni Alhamdulillah… Kami bisa melanjutkan perjalanan kembali.

3. Oleh-oleh dan bekal dari Teman dan Saudara

Oleh-oleh dan bekal dari Teman dan Saudara

Di Ngawi, ada teman Vina yang sudah lama tidak ketemu, ngajak ketemuan. Kami di traktir makan, selain itu kami kembali di kasih oleh-oleh. Kembali kami mendapat tambahan bekal untuk perjalanan kami. Dari Ngawi kami menuju Yogyakarta karena disana mau ketemu sama temannya Vina yang lainnya. Dan bisa di tebak, kami kembali mendapat bekal oleh-oleh.

Dari Yogyakarta kami lewat Jalur Selatan, Purwokerto, Tasikmalaya, Bandung dan langsung ke Jakarta. Kami cepat-cepat menuju Jakarta karena tanggal 9 Juni 2015 Vina menjadi salah satu pembicara tentang Traveling ke Kamboja. Yang paling penting bayarannya sangat banyak, jadi kami kembali ada modal untuk melanjutkan perjalanan.

Di Sumatera kami memilih jalur Barat, kenapa kami pilih jalur Barat, karena memang kami mau ke Nagan Raya, Aceh. Kami membaca promo di Garuda Social Miles kalau upload foto tentang Nagan Raya, Aceh akan dapat 15.000 Garuda Social Miles.

Banyak tempat bagus yang kami temui sepanjang perjalan. Tapi yang bikin kami sedih sarana menuju tempat-tempat itu sangat jelek. Jalan rusak, prasarana minim. Saya sampai terpikir, negara kita tanpa hasil tambang, hanya fokus di pariwisata akan bisa banyak menghasilkan uang. Rakyat sekitar di ajarkan bagaimana menghadapi tamu. Ramah ke tamu, tapi tetap tidak lupa sama agama dan juga adat istiadatnya. Sepanjang daerah yang indah itu saya lihat kehidupan penduduk sangat miskin, hingga kami berpikir kalau wajar beberapa teman dan keluarga banyak yang mewanti-wanti bilang Sumatera ga aman, Sumatera ada “bajing loncat” dan sebagainya. Kami akhirnya memilih untuk melakukan perjalanan di siang hari supaya aman, kalau tersesat bisa ada yang di tanya dan yang pasti menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti “bajing loncat”.

4. Nyasar di Muko- Muko

Nyasar di Muko- Muko

5. Nyasar di Maninjau

Nyasar di Agam, Danau Maninjau

Kami hanya mengandalkan Waze, Google Map, dan GPS (Gunakan Penduduk Setempat). Tetapi disaat kami dari Bengkulu menuju ke Padang Sidempuan, kami hanya mengandalkan Google Map dan Waze. Namun ternyata dua aplikasi itu mungkin tidak terlalu update di jalanan pelosok Sumatera hingga beberapa kali kami harus merasa “disasarin”.

Ketika kami nyasar karena Google Map dan bikin jalur baru di Peta Waze

Ketika kami nyasar karena Google Map dan bikin jalur baru di Peta Waze

Sebelumnya kami pernah nyasar saat diperjalanan dari Bengkulu menuju Muko-Muko. Tapi yang paling parah disaat nyasar di Danau Maninjau, jalan yang diarahkan ternyata cuma kali kecil, kami terus maju jalan menanjak sangat curam di kiri jurang dan dikanan rumput-rumput tinggi yang saya gatau apa di balik itu. Kami terus maju dan diujung jalan cuma jalan setapak. Waktu sudah jam 5 sore, dan kami coba memutar, saya takut mobil terguling karena jalannya longsor, tapi pelan-pelan kami coba memutar dan untungnya bisa. Kami kembali ke jalan utama. Setelah sampai ke jalan utama kami coba jalan lurus, hingga di sebelah kanan jalan terlihat indahnya Danau Maninjau. Kami jadi tergoda untuk menikmati keindahan danau Maninjau.

Kantor kami pun pindah ke jalan

Kantor kami pun pindah ke jalan

Akhirnya kami memilih untuk menginap di tepi danau Maninjau. Rencana awal hanya menginap satu malam saja, tapi berkembang sampai 2 malam karena indahnya Danau Maninjau. Selain itu kami juga harus tetap kerja. Jadi selama kami istirahat di Danau Maninjau kami gunakan untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kami, mencuci semua baju kami dan yang paling utama memberikan kesempatan buat Avi bermain-main, karena kebetulan ditempat kami menginap pemiliknya memiliki anak kecil jadi Avi bisa bermain-main disana.

Avi main sepeda di Penginapan di Danau Maninjau

Avi main sepeda di Penginapan di Danau Maninjau

Kami sebenarnya masih betah disana, tapi perjalanan masih jauh, setengah perjalanan juga belum. Selain itu, karena tempat menginap yang kami tinggali saat itu besoknya sudah penuh dipesan orang lain. Jadi mau tak mau kami harus check out. Selama di perjalanan ada hal yang mengecewakan kami. Ternyata, program Nagan Raya dari Garuda Social Miles sudah lama habis. Kami kecewa, karena kami tadinya sangat berharap sama miles yang akan diperoleh untuk kami tukarkan dengan tiket Jakarta-Belitung-Jakarta. Akhirnya Nagan Raya kami ganti, kami ga terus lewat jalur pesisir barat, tapi langsung ke tengah, lewat Bukittinggi dan langsung menuju ke Balige. Besoknya kami kembali melanjutkan perjalanan dan kami melewati kelok 44. Kelok 44 benar-benar jalan yang berbelok-belok dan panjang. Harus benar-benar ekstra hati-hati. Di tikungan harus membunyikan klakson buat tanda kalau kami mau lewat, tanda buat pengemudi yang mungkin akan datang dari depan kami.

Avi coba Flyng Fox di Puncak Lawang

Avi coba Flyng Fox di Puncak Lawang

Di puncak kelok 44, kami menuju ke Puncak Lawang dan disana entah kenapa Avi minta mencoba Flying Fox. Awalnya berdua, tandem dengan sang coach flying fox, tetapi ternyata Avi minta main flying fox lagi. Dan untuk yang kedua kalinya dia mencoba sendiri.

Setelah puas bermain-main kami langsung menuju Bukittinggi lewat Ngarai Sianok. Sore kami sampai di Bukittinggi dan mencari penginapan disekitar Jam Gadang Bukittinggi. Kami menginap semalam disana. Dan di malam hari kami mengajak Avi bermain-main di sekitar Jam Gadang.

Avi di Jam Gadang Bukittinggi

Avi di Jam Gadang Bukittinggi

Target kami buat besok kami harus bisa mencapai Pematang Siantar atau minimal sampai ke Parapat. Tapi sayang, buruknya jalan di Sumatera membuat kami ga bisa berjalan cepat. Kalau saya perhatikan satu hari untuk 12 jam sampai 14 jam mengemudi, kami hanya mampu menempuh 300 kilometer sampai 350 kilometer. Karena kami ga bisa jalan cepat, jalan rusak, jalan kecil, atau harus berjalan pelan di belakang truk.

Jalan Menuju antara Pasaman Balige

Jalan  antara Pasaman menuju Balige

Jalan Sangat Rusak di Sumatera Utara

Jalan Sangat Rusak di Sumatera Utara

Disaat melewati Pasaman Bonjol, kami mewati satu tempat yang dilewati oleh garis Katulistiwa, sempat ngobrol dengan seorang bapak yang mencoba menjajakan batu akik. Saya kembali mencoba menyebarkan Virus Pariwisata, dengan kita fokus ke Pariwisata maka, orang-orang seperti si bapak ini ga perlu repot menjajakan barang-barang.

Garis Katulistiwa di Pasaman Bonjol

Garis Katulistiwa di Pasaman Bonjol

Ibu-ibu bisa membuat cinderamata, anak-anak muda bisa jadi guide atau pengemudi pariwisata, bapak-bapak bisa berjualan cinderamata, oleh-oleh khas atau makanan khas daerahnya. Biarlah Hasil tambang yang akan habis itu menjadi tabungan buat Cucu dan Cicit kita saja.

Monumen Titik 0 Kilometer Sabang

Monumen Titik 0 Kilometer Sabang

4764,9 Km Jarak yang harus kami tempuh dari Bali

4764,9 Km Jarak yang harus kami tempuh dari Bali

Setelah menempuh perjalanan selama 17 hari dan menempuh 4.764,9 kilometer, tanggal 22 Juni 2015 kami akhirnya sampai di titik Kilometer 0 di Sabang. Tempat terluar Indonesia di sebelah Barat. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore lewat saat kami sampai di Sabang, di titik kilometer 0. Kami sangat bahagia ketika itu. Memang banyak sekali halangan yang kami hadapi untuk sampai tempat ini. Kami bukan orang kaya, kami juga tidak punya uang berlimpah, tapi yang kami punya hanyalah niat. Tapi karena niat yang dibarengi dengan ihktiar melakukan yang terbaik, maka kami rasa semesta pun mendukung kami untuk mewujudkan keinginan kami tersebut. Cara semesta mendukung kami bisa kami lihat dengan banyaknya rezeki tak terduga yang kami peroleh saat di perjalanan. Rezeki itu tidak selamanya berupa uang. Tapi bisa saja dengan oleh-oleh sebagai bekal di perjalanan kami yang diberikan oleh orang-orang yang kami temui selama di perjalanan seperti yang telah diceritakan di atas.

Avi, terima sertifikat 0 Kilometer

Avi, terima sertifikat 0 Kilometer diserahkan oleh Bunda Fie Hussein ( hijab warna pink )

Di Sabang, di titik kilometer 0 kami melihat kalau Aceh TIDAK semengerikan, TIDAK seseram apa yang ada di media. Masyarakat Aceh sangat ramah, benar-benar ramah, mereka suka sekali kalau di ajak mengobrol hingga banyak cerita yang saya dengar. Ya, masyarakat Aceh memang hebat, hebat mempertahankan prinsipnya. Esok harinya kami ke kantor Departemen Pariwisata Sabang dan di sana kami di terima sama Bunda Fie Hussein yang memberikan sertifikat Kilometer 0 yang di tanda tangani sama Bapak Walikota Sabang, sebagai bukti kalau kami sudah pernah ke titik Kilometer 0 Sabang.

Tiga hari kami di Sabang dan dengan berat hati kami harus meninggalkan Sabang. Tapi satu hal yang menghibur kami, ternyata Garuda Indonesia sudah membuka penerbangan dari Medan ke Sabang, bukan hanya Medan ke Nagan Raya saja. Hal ini tentu akan mempermudah untuk mengunjungi Sabang bagi wisatawan yang ingin berlibur kesana. Untuk menghemat biaya, karena semakin minimnya dana kami, sangat sering kami menginap di Hotel Merah Putih (sebutan kami untuk Pom Bensin).

Disaat kami tidur di mobil Tidur di Mobil Avi Tidur dibangku tenggah

Disaat kami tidur di mobil

Avi Tidur di Bangku Tengah

Avi Tidur di Bangku Tengah

Tidur di Mobil

Tidur di Mobil

Bangku tengah adalah salah satu tempat favorit di dalam mobil karena dari rumah kami bawa semua bantal kami. Disana kami tumpuk bantal dan juga selimut menjadi seperti kasur. Di bangku tengah itu merupakan tempat favorit Avi disana dia bisa tidur dengan enak dan juga bisa bermain. Sampai Avi menyebut bangku tengah itu sebagai Home nya. Karena disana Avi bisa melakukan banyak aktifitasnya.

Avi beraktifitas dibangku tengah

Avi beraktifitas dibangku tengah

Avi di bacain cerita

Avi di bacain cerita

Avi mewarnai sama Ibu

Avi mewarnai sama Ibu

Kondisi bangku belakang mobil kami

Kondisi bangku belakang mobil kami

Barang-barang kami

Barang-barang kami

Hal sangat mewah kami bisa menginap di Hotel Red Planet Pekanbaru.

Hal sangat mewah kami bisa menginap di Hotel Red Planet Pekanbaru.

Jalur Timur yang dikatakan sebagai jalur utama di Pulau Sumatera ternyata hampir ga ada bedanya bahkan bisa di bilang lebih hancur dari jalur Barat. Sebagian besar jalanan di Sumatera Selatan rusak. Tapi Lampung lebih parah lagi.

Jalan di Lampung rusak dan berdebu.

Jalan di Lampung rusak dan berdebu.

Sepanjang malam mulai masuk Provinsi Lampung banyak sekali jalan rusak yang harus kami lewati. Jam lima pagi kami baru sampai di pelabuhan Bakauheni – Lampung, langsung naik kapal dan nyebrang ke Jawa. Sedih juga meninggalkan pulau Sumatera. Banyak hal yang kami dapat disana. Seburuk apapun pulau ini, saya dan juga Avi ga bisa memungkiri inilah Pulau Nenek Moyang kami para Raja Batak.

Kartu Pos dari Musium kata Andrea Hirata, Belitung.

Kartu Pos dari Musium kata Andrea Hirata

Tanggal 1 Juli 2015 kami sampai di Jakarta. Uang sudah benar-benar menipis (benar-benar menipis, berangkat aja cuma bawa Rp. 500.000) tapi masih ada satu pulau yang belum kami datangi, yakni Belitung. Belitung sangat tidak mungkin lewat jalur darat. Pakai kapal jelas lama dan biaya besar kalau kami memaksakan diri bawa mobil ke pulau tersebut. Saya sudah pesimis bisa ke Belitung dan terfikir untuk membatalkan saja rencana ke Belitung. Tapi kemudian saya mengecek jumlah poin Garuda Miles yang saya dan Vina miliki dan berapa poin yang dibutuhkan untuk penerbangan ke Belitung. Lalu kami kembali ke rencana awal kami, ke Belitung pakai Pesawat Garuda Indonesia. Selama di perjalanan kami mengumpulkan poin Garuda Miles mulai dari review hingga tukar poin yang kami dapatkan di beberapa kartu kredit yang kami miliki.

Kami di depan kantor Garuda di Bogor, setelah mendapat tiket.

Kami di depan kantor Garuda di Bogor, setelah mendapat tiket.

Tiket Garuda Indonesia Vina

Tiket Garuda Indonesia Vina

Tiket Garuda Indonesia Marvin

Tiket Garuda Indonesia Marvin

Tiket Garuda Indonesia Vina

Tiket Garuda Indonesia Vina

Selain itu kami juga upload foto-foto kami di Garuda Social Miles. Tapi tetap Poin Garuda Miles kami masih belum cukup juga masih kurang 812 poin (Sempat terpikir andai kemarin ga ditukar sama Tiket ke salah satu Destinasi Impian kami yaitu Labuan Bajo. Tapi disaat inggat waktu Hari Kebangkitan Nasional kami tukar poin dengan diskount 50% kami kembali terhibur. Bayangkan Denpasar Labuan Bajo karena diskount hanya cukup menukar 4.000 Poin Garuda Miles di tambah administrasi dan Airport Tax. Apa ga asik tuh?), akhirnya kami beli tambahan 1.000 Poin Garuda Miles seharga Rp. 275.000. Untuk satu orang satu kali jalan kami menukar Miles di tambah biaya airport tax (tiap bandara berbeda-beda) dan administrasi kami hanya bayar Rp. 130.000. Akhirnya kami bisa berangkat ke Belitung berkat kebaikan Garuda Indonesia. 

Garuda Indonesia di bandara Tanjung Pandan

Garuda Indonesia di bandara Tanjung Pandan

Tiap naik pesawat yang selalu dilihat Avi Kartu Petunjuk Keselamatan

Tiap naik pesawat yang selalu dilihat Avi Kartu Petunjuk Keselamatan

Nggak tau kenapa Avi selalu punya kebiasaan disaat naik pesawat dia melihat Kartu Petunjuk Keselamatan dan memperhatikan disaat dijelaskan apa yang harus kita lakukan disaat keadaan darurat. Satu lagi kejutan yang Avi dapat, ada kakak mugari yang membagikan boneka dan juga makanan kecil. Selama penerbangan Avi bahagia sekali. Sibuk bermain dan juga menonton film yang bisa dia pilih sendiri benar-benar maskapai yang memberikan Kenyamanan Kelas Dunia.

Avi dapat hadiah dari kakak Mugari Garuda yang cantik

Avi dapat hadiah dari kakak Mugari Garuda yang cantik

Avi dengar lagu di Pesawat Garuda

Avi dengar lagu di Pesawat Garuda

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

Pantai Tanjung Tinggi, Belitung

Avi di Pantai Tanjung Kelayang Belitung

Avi di Pantai Tanjung Kelayang Belitung

Dari Belitung kami ke Rumah Opungnya Avi di Gunung Putri. Sudah hampir 4 tahun Avi tidak bertemu Opungnya. Banyak sekali yang kami dapat di perjalanan ini. Avi bisa tau tempat masa kecil Ibu dan Bapaknya, tempat Ibu dan Bapaknya bertumbuh, tempat asal nenek moyangnya dan yang pasti bersilaturahmi.

Avi Ketemu Opung

Avi Ketemu Opung

Sejak sosial media menjadi salah satu hal yang tak terpisahkan dari kehidupan kita, kita bisa tahu semua perkembangan teman atau saudara melalui sosial media. Akan tapi akan jauh berbeda disaat kita bertemu langsung, kita bisa berbicara langsung dan melihat wajahnya apakah dia bercerita bahagia tapi dengan wajah sedih. Sosial Media memang baik, tapi silaturahmi jauh lebih baik.

Avi bermain sama sepupunya di Bangku belakang

Avi bermain sama sepupunya di Bangku belakang

Dari Gunung Putri kami langsung menuju Cirebon, hitung-hitung mencoba Tol Cipali. Sangat terasa cepatnya. Namun jalan yang bagus sering bikin terlena. Perasaan kaki tidak menginjak gas terlalu dalam, tapi kendaraan terus semakin cepat ga sadar mencapai angka hampir 130 kilometer per jam. Kemudian saya mengangkat kaki dari gas, kendaraan mulai melambat. Begitu terus yang saya lakukan. Saya mau ga mau harus fokus lihat ke jalan dan juga speedometer selama di tol Cipali. Kalau tidak, maka mobil akan terus semakin cepat dan cepat. Hal itu membuat kemungkinan untuk terjadinya kecelakaan akan semakin besar.

Bareng sama Jacqueline

Bareng sama Jacqueline

Avi suka sekali naik becak

Avi suka sekali naik becak

Foto di mobil sama Jacqueline

Foto di mobil sama Jacqueline

Sampai Cirebon, kami langsung menjemput Jacqueline, anak saya dari pernikahan yang sebelumnya yang otomatis Jacqueline adalah kakak Avi. Kami menginap satu malam di Cirebon. Sebenarnya kami ingin sekali Jacqueline bisa bergabung bersama kami di petualangan ini. Tapi mungkin belum saatnya.

Dari Cirebon kami langsung menuju Jember. Disana Avi mau bertemu dengan sepupu, nenek dan juga nenek buyutnya. Tanggal 8 Juli 2015 kami meninggalkan Jember untuk lanjut langsung ke Denpasar.

Avi bertemu Nenek dan Nenek Buyutnya

Avi bertemu Nenek dan Nenek Buyutnya

Sudah 32 hari kami di jalan, jauh melewati rencana semula kami. Disaat kami melangkah banyak ketakutan yang ada di pikiran kami. Dari kami tidak punya uang sama sekali hingga perasaan berat meninggalkan rumah yang nyaman untuk pergi ke tempat yang kami tidak tau apa yang akan kami hadapi didepan sana. Belum lagi ketakutan kami dengan cerita orang tentang Sumatera, terlebih Aceh. Dan saat ini ketakutan kami berganti, kami takut membayangkan harus hidup dengan segala rutunitas yang monoton lagi. Didalam kapal sambil menunggu kapal jalan, Avi menawarkan supaya saya tidur di bangku tengah, tempat favoritnya. Sedangkan Avi menggantikan saya duduk di bangku Supir. Sambil tiduran di bangku tengah saya iseng nulis sesuatu untuk Avi karena saat itu beberapa jam lagi Avi akan berulang tahun yang ke-4.

Dear Avi,

9 Juli 2011, gw sama Vina ke rumah sakit, hanya kami berdua. Ketemu Dr. Eka, wakakak, kami datang pagi-pagi buat hemat biaya, karena rumah sakit ga kayak hotel mereka hitungnya jam 12 malam ( wakakak ribet ya urusan sama gw yang serba ngirit ).

Dan hari ini lo 4 tahun, seperti tahun-tahun sebelumnya, ga ada pesta ultah, badut, balon, undang teman dan lain-lain.

Ultah lo hanya di rayakan sama teman-teman driver, montir, entah kenapa lo dari kecil selalu berurusan sama oli, ban mobil, masuk kolong mobil dan berbagai kegiatan itu. Tapi sukurnya lo ga pernah lupa untuk bergaya sebagai Putri.

Tahun ini ga ada hadiah ultah, kami malah kasih lo hadiah 33 hari di jalan, dari Bali ke Sabang ( titik 0 kilometer ) dan kembali ke Bali.

Gw tau mungkin lo ga akan ingat perjalanan ini, tapi gw berharap satu saat nanti lo bisa mencoba jalur ini, mungkin sendiri, mungkin sama teman lo atau entah siapa, dan kita bisa bercerita dan membahas apa aja perubahan setelah sekian tahun.

Maaf mungkin yang kami berikan ini sangat menyebalkan buat lo, lo ga bisa lihat tontonan lo, lo ga bisa bermain sama kawan-kawan lo. Tapi nak, lo bisa liat tempat-tempat masa kecil gw, masa kecil ibu lo, tempat nenek moyang lo. Lo bisa lihat betapa miskinnya kampung kita. Gw berharap lo akan berjuang keluar dari kemiskinan dan kebodohan, sakit jadi orang miskin, tapi miskin bukan TAKDIR miskin adalah pilihan dan gw berharap lo berjuang keluar dari itu, bukan kaya raya tapi minimal ga jadi beban buat keluarga juga buat negara ini.

Ingat nak ada satu kata mungkin juga huruf Cina RU YI, kira-kira artinya, apa yang kita inginkan atau usahakan harus yakin tercapai. Perjalanan kita ini kira-kira mengambarkan itu, ingat kita pernah susun budget 300juta ditekan sampai 100 juta, tekan lagi sampai 30 juta. Dan akhirnya hanya dengan Rp. 500.000 kita keluar dari rumah, orang akan bilang di rekening kita ada uang tapi lo tau sendiri ( karena lo menjalani bareng kita ) seperti apa kondisi kita. SPONSOR ? Banyak yang bilang kita ada Sponsor, ya benar, kita punya banyak sponsor, mereka teman-teman, keluarga, bahkan orang yang ga kita kenal, mereka banyak membantu kita. Apa kita mengemis? TIDAK.

Gw berharap disaat lo dewasa lo bisa menemuin mereka dan bercerita tentang kami orang tua mu yang mungkin sudah putih rambutnya, dan menambah teman-teman baru.

Selamat Ulang Tahun ya nak, maaf kalau Ulang Tahun lo tahun ini lo dapat hadiah yang sangat aneh.

9 Juli 2015 Ultah Avi ke-4 kami sampai di rumah.

9 Juli 2015 Ultah Avi ke-4 kami sampai di rumah.

Surat dari Vina buat Avi

Dear Avi,

Ibu tau di hatimu, pasti kamu protes karena hampir sebulan ini kamu kami “tenteng” kesana kemari.

Ibu tau, jika boleh memilih pasti kamu akan lebih memilih untuk di rumah saja, bermain dengan teman-temanmu dan nonton tv atau youtube-an sepuasnya.

Ibu tau, kamu suka bete saat sudah dapat teman baru di tempat baru, maka ga lama kami harus membawamu pergi lagi.

Ibu tau dan mengerti apa yang kamu rasakan nak…

Avi sayang, kami membawamu road trip hanya karena ingin menikmati kebersamaan denganmu. Mengapa? Karena saat ini kami masih jadi pusat duniamu.

Mungkin 5, 10, 15, tahun lagi dan seterusnya nanti kamu sudah bisa beradu argumen dengan kami untuk menolak ajakan kami. Di kala itu, kami sudah tak bisa memaksakan kehendak kami karena kamu juga punya hak menentukan apa yang kamu mau.

Kami hanya tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Membuat memori indah masa kecilmu bersama kami. Tapi maaf jika terkadang itu membuatmu tak nyaman.

Belitung, 3 Juli 2015

With love,

Ibu

Dini hari pukul 2:27 WITA, tanggal 9 Juli 2015, setelah menempuh 9.540,3 kilometer dan selama 33 hari di jalan, akhirnya kami sampai di rumah lagi, tepat di hari ulang tahun Avi yang ke-4. Banyak yang bertanya buat apa kami menjalani ini, toh begitu sampai disana kami harus kembali lagi. Disaat kami sampai ke ujung paling barat Indonesia itu hadiah, tapi hadiah terbesar yang kami dapat adalah disaat kami menuju kesana dan juga disaat kembali, itulah HAL YANG SANGAT BERHARGA yang KAMI DAPATI.

4764,9 Km Jarak yang harus kami tempuh dari Bali

9540,3 Kilometer jarak yang harus kami tempuh diperjalanan ini.

Rasanya masih suka nggak percaya kalau kami akhirnya bisa mewujudkan keinginan kami sejak tiga tahun yang lalu. Dulu, sebelum melakukan perjalanan hal yang paling kami takutkan adalah tidak adanya sponsor yang membiayai perjalanan kami ini. Tapi setelah kami jalani, ternyata banyak sponsor kami. Mereka adalah teman-teman lama bahkan teman yang baru kami kenal, saudara, orangtua, dan juga tentu saja Garuda Indonesia.

Last but not least, saya lupa siapa yang mengatakan ini, “Dunia seperti buku, dan buka halaman-halaman buku ini dengan bertualang, melihat tempurung yang lain, pergi mencari ujung dunia dan mengambil guci emas di ujung pelangi”.

Tetap semangat teruslah berjuang dengan segala keterbatasan kita.

Big Hug,

Marvin, Vina & Avi.

Facebook & Twitter kami :

Marvin Sitorus    : https://www.facebook.com/marvinsitorus https://twitter.com/marvinsitorus

Okvina Nur Alvita    : https://www.facebook.com/okvina https://twitter.com/okvina

Marvina Annora Sitorus : https://www.facebook.com/marvinasitorus https://twitter.com/avisitorus

Penulis: Marvin Sitorus

Quick Update

Dear All, dua bulan lebih saya nggak nulis di blog ini… Jadi kangen juga ternyata…🙂

Anyway, mau tahu kabar terbaru saya?

Oke, this is it…

  1. Tanggal 10 Agustus 2010 Rumah Wisata Tour and Travel resmi dibuka. Ini adalah usaha pribadi saya yang pertama.
  2. Sejak tanggal 23 Agustus 2010 saya juga resmi jadi asisten dosen di IKK, one step to be a lecturer!😀
  3. Tanggal 29 September 2010 akhirnya saya diwisuda, so resmi jadi Okvina Nur Alvita, S.Si.
  4. Saat saya menulis update ini saya sedang di Bali… hehehe…😀

Nahh, itu perubahan saya selama lebih dari sebulan ini…

Rencana kedepan?

Satu hal yang pasti saya akan fight untuk scholarship di Europe atau Amrik!

Doakan saya ya…🙂

Ini Lho Saya…

Teori Maslow

Sebagai mahasiswa Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK), saya “dicekoki” teori hirearki kebutuhannya Maslow di beberapa mata kuliah. Tapi teori ini bisa menancap di otak saya saat saya memperoleh mata kuliah Manajemen Sumberdaya Keluarga. Saat itu dosen saya, ibu Alfiasari, menjelaskan bahwa menurutnya hirearki kebutuhan yang dikemukakan oleh Maslow berpuluh-puluh tahun silam sudah tidak valid lagi untuk kehidupan sekarang ini dan cenderung terbalik hirearkinya. Lho, kok? Tenang… saya akan menjelaskan mengapa bisa terbalik hierarkinya.

Menurut teori hirearki kebutuhannya om Maslow, kebutuhan dasar yang harus dipenuhi oleh manusia adalah kebutuhan fisiologis/biologis seperti makan, minum, dan juga seks. Selanjutnya adalah kebutuhan akan rasa aman dan tenteram dan dilanjutkan dengan kebutuhan untuk dicintai dan disayangi. Pada level berikutnya, manusia memiliki kebutuhan untuk dihargai. Lalu pada level tertinggi setelah semua kebutuhan itu terpenuhi, maka manusia akan memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Itulah menurut om Maslow tahapan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh manusia. Sayangnya teori ini mungkin hanya cocok untuk kondisi berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Lalu untuk kondisi sekarang bagaimana?

Menurut dosen saya dan juga berdasarkan hasil pengamatan saya sendiri, teori om Maslow ini terbalik. Saat ini sebagian orang berlomba-lomba untuk mengaktualisasikan dirinya. Satu sama lain saling berusaha untuk bisa “dianggap” oleh dunianya. Satu sama lain juga ingin dilihat kalau dia ada, semua ingin eksis. Untuk bisa memenuhi kebutuhan yang paling tinggi ini (berdasarkan teorinya om Maslow), tak jarang dari mereka yang melupakan atau mengenyampingkan kebutuhan-kebutuhan sebelumnya. Contohnya begini, tak jarang dari kita sampai lupa makan atau sengaja men-skip waktu makan kita demi melakukan sesuatu yg bisa membuat kita lebih eksis, ya kan? (saya juga sering melakukan hal ini soalnya…hihihi…pegakuan dosa! :p). Atau ada beberapa orang yang dengan terang-terangan menyebut dirinya nggak butuh seorang pendamping, setidaknya untuk saat ini mereka nggak memikirkan hal ini. Mereka tidak terlalu memusingkan tentang seseorang yang bisa diajak untuk berbagi, dicintai dan disayangi demi mencapai apa yang mereka inginkan, demi untuk mengaktualisasikan dirinya. Atau ada seseorang yang masa bodo dengan apa pendapat orang lain, masa bodo dengan apakah ia dihargai atau tidak oleh orang lain, yang penting bisa mengaktualisasikan diri, bisa eksis… Padahal menurut om Maslow, seseorang baru bisa mengaktualisasikan dirinya jika ia sudah bisa memenuhi kebutuhan-kebutuhan sebelumnya dengan layak. Namun yang terjadi saat ini justru kebalikannya.

Baca lebih lanjut

Nggak Enaknya Jadi “Bayang-Bayang”

“Bayang-Bayang” itu…

Bayang-bayang adalah sesuatu yang selalu mengikuti kita kemanapun kita pergi. Tanpa disadari, sebagian orang menjadi bayang-bayang dari orang lain. Biasanya orang yang membayangi kita itu merupakan bagian dari keluarga kita sendiri. Bisa jadi ayah, ibu atau kakak. Kalau adik, saya rasa jarang sekali orang yang merasa di bawah bayang-bayang adiknya.

Mengapa kita sampai memiliki bayang-bayang? Karena orang yang lebih dahulu dari kita memiliki karakteristik khusus yang berbeda dengan kita. Dan mereka lebih dulu dikenal daripada kita.

Di Bawah Bayang-Bayang Kakak

Jujur saya pun jadi bayang-bayang. Saya punya kakak kandung perempuan yang lumayan extraordinary (menurut saya). Namanya Ninda. Saya dan Mbak Ninda satu tempat ngaji, satu TK, satu SD, satu SMA dan satu Universitas! Hanya SMP saja yang berbeda. Pastinya orang mengenal kakak saya terlebih dahulu daripada mengenal saya. Hal ini berimplikasi pada label “Oh, adiknya Ninda ya…” atau “Kok beda ya sama kakaknya?”.

Aaarrrgggghhhh…. Sungguh, bukan hal yang cukup menyenangkan saat mendengar kalimat-kalimat itu…

Ingin rasanya membalas kalimat itu dengan jawaban “Iya, saya adiknya Ninda. Iya, saya berbeda dengan dia. Karena saya Vina bukan Ninda!”

Fiuuuuhhhh….

Label “adiknya Ninda” itu membuat saya selalu di bawah bayang-bayang kakak saya. Rasanya ada “tekanan” kalau apapun yang saya lakukan harus lebih baik dari kakak saya. At least, sama lah… Namun, parahnya untuk beberapa hal saya kalah jauh dengan kakak saya. Inilah yang terkadang membuat saya agak tertekan.

Baca lebih lanjut

Karena Kita Berbeda

Suatu hubungan khusus antara laki-laki dan perempuan, baik itu pacaran ataupun suami-istri, seringkali bersinggungan dengan yang namanya pertengkaran. Setelah saya mengamati dan menganalisis dari pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang diceritakan pada saya, saya berkesimpulan bahwa hal itu terjadi hanya karena perbedaan antara laki-laki dan perempuan.

Memang, semua orang juga tahu bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda, tapi apakah semua orang dapat memahami bahwa perbedaan itu sangat besar pengaruhnya pada pemikiran serta perilaku laki-laki dan perempuan? Saya rasa hanya segelintir orang yang bisa memahaminya.

Baca lebih lanjut

Tips Sederhana Blokir Situs Porno & Judi Online

Maraknya pornografi telah membuat resah para orang tua ( seberapapun parah nilai-nilai yang dianutnya ). Karena kejahatan pornografi tidak hanya menghajar  orang-orang dengan latar belakang tertentu saja.

Karena itu pornografi adalah musuh bersama, apapun ideologi, profesi dan status sosial ekonomi.

Meski kita tetap menyuarakan agar pemerintah menindak TEGAS, dan menutup situs-situs yang tak tayak moral dan tak layak didik untuk anak-anak kita, namun kita tetap bisa melakukan hal-hal sederhana yang InsyaAllah berguna untuk melindungi anak-anak dan keluarga kita dari racun porno dan judi di internet. Caranya sangat mudah, praktis dan gratis.

Inilah langkah-langklah sederhana itu :
Untuk Windows XP :

1. Pilih control panel dari start menu
2. Klik Network Connections yang ada di control panel.
3. Pilih koneksi yang ada dari jendela Network Connections.
4. Klik tombol Properties.
5. Pilihlah Internet Protocol ( TCP/IP ) dan klik ” Properties “
6. Klik radio button pada USE the following DNS server addresses, dan ketikkan alamat DNS Nawala pada kolom Preferred DNS server dan Alternate DNS server.
– Alamat DNS Nawala : 180.131.144. 144 dan 180.131.145. 145 lalu klik OK.

Mohon kawan-kawan berkenan  sebarkan info yang saya dapatkan dari psikolog  Ibu Elly Risman ini.
Semoga Allah memudahkan perjuangan untuk menjadikan Bangsa ini lebih baik.
Terimakasih Banyak.

Lebih dari Sekedar Cinta, Apalagi Suka

Seumuran kita gini apalagi yang mau dikhawatirin kalo nggak 2 MO.

Yup, 2 MO.

Nggak ngerti ya apa itu 2 MO?? Nggak gaeoul banggetz sihh?? Hahaha…😀 *maaf,isengnyakumat*.

Jadi, MO itu singkatan. Ada dua singkatan: Money Oriented dan Married Oriented.

Sekarang sudah mengerti? Pinteerr… :p

Saya nggak akan membahas tentang singkatan pertama, yang ingin saya bahas disini adalah tentang singkatan kedua dari MO, Married Oriented.

Trending Topic *minjem istilah twitter*

Saya rasa saya perlu membahas tentang hal ini karena saya teramat sangat gerah dengan top of the top trending topic FIMer’s saat ini. Selain itu saya juga ingin melanjutkan tulisan bunda Tatty Elmir yang judulnya “Mudah Hadir, Mudah pula Sirna”.

Ya, seringkali saya mendengar, membaca dan ngobrolin kalau si A naksir U, si M lagi pedekate sama si G, si L pengen nikah sama si K, dan seterusnya dan seterusnya. Hmmm,, entah berita itu benar atau tidak, hanya mereka sendirilah yang tahu.

Wajar sih kalau FIM juga dijadikan salah satu ajang untuk mencari pasangan hidup. Karena menurut saya di forum ini kita menemukan banyak sekali orang yang “satu frekuensi” dengan kita😀. Hal inilah yang membuat beberapa orang menjadikan FIM sebagai salah satu alternatif “match selection”.

Baca lebih lanjut

Another Sides of Vina

Vina

Ini adalah daftar beberapa hal dari diri saya yang (mungkin) ingin anda ketahui:

  • Saya paling sensitif dengan asap rokok dan pemanis buatan
  • Saya biasa tidur di atas jam 12 malam
  • Saya sangat tidak suka dengan makanan apapun yang ber-flavor strawberry, karena bagi saya kalau makan sesuatu yang ber-flavor strawberry itu seperti makan pasta gigi anak-anak
  • Saya suka hot chocolate
  • Saya suka makan French fries pakai saus Mc.Flurry, sensasi antara manis dan asin plus dingin dan panas bikin… hmmm, tak terkatakan deh! Yummy…🙂
  • Bagi saya, respek itu tingkatannya jauh di atas cinta
  • Saya benci sekali dengan serangga, terutama yang namanya kecoa
  • Saya ingin punya 5 anak dan semuanya laki-laki😀 Baca lebih lanjut

Maaf, Saya Tidak Bermaksud Mengkhianati Produk Indonesia

Aku Cinta Indonesia

I Love Indonesia! Sesuai dengan konsep saya tentang cinta bahwa cinta itu tidak perlu banyak kata, tapi hanya perlu bukti kongkret. Maka sejak September 2009 saya telah berjanji pada diri saya sendiri untuk menggunakan produk Indonesia untuk apapun yang saya pakai, mulai dari kosmetik, perlengkapan toiletries, pakaian dan kalau bisa gadget yang saya punya juga harus produk Indonesia. Selain itu saya lebih memilih produk Indonesia kalau saya membeli sesuatu.

Mengapa saya melakukan hal itu? Karena saya ingin mengapresiasi produk Indonesia. Kalau bukan kita yang pakai produk Indonesia, lalu siapa lagi? Menurut saya, produk Indonesia harus menjadi raja di negaranya sendiri. Gimana produk Indonesia bakalan maju dan bisa bersaing dengan produk luar negeri kalo kita sebagai orang Indonesia aja enggan pakai produk Indonesia? Maka, saya memulai dari diri saya sendiri.

Bedak saya yang awalnya Oriflame, saya ganti jadi pakai Caring Colours dari Martha Tilaar untuk compact powder. Sedangkan untuk loose powder, yang awalnya Oriflame saya ganti pakai produknya La Tulipe dari PT. Rembaka (hayoo, siapa yang baru tahu kalau La Tulipe itu produk Indonesia?? :D). Facial foam yang biasanya saya pakai itu clear and clean, lalu saya menggantinya dengan facial foam dari sariayu. Saya juga mencoba untuk memakai produk Citra dan Sariayu untuk toiletries (sabun, shampoo, dan kawan-kawannya). Kalau misalnya ada handphone produk Indonesia asli, saya juga bersedia lho ngeganti handphone saya dengan handphone merk Indonesia. Laptop merk z*rex itu produk Indonesia asli kan ya? Saya ingin ganti laptop saya dengan merk itu, tapi sayangnya masih belum ada rezeki lebih untuk ganti laptop… hehehe…😀. Oh iya, tas yang sering saya pakai juga produk Indonesia lho! Salah satu produk dari Batik Keris dan Eiger. Indonesia banget tuh…🙂 (what? Baru tahu kalau Eiger itu produk Indonesia?? Kemana aja selama ini…?? :P) Baca lebih lanjut

Tentang Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK)

“IKK? Belajar apaan disana?”

“IKK apaan sih?”

“Ilmu Keluarga dan Konsumen? Baru denger. Emang ada ya?”

“Terus di IKK ngapain aja tuh?”

Sungguh, saya teramat sangat kenyang ditanya seperti itu dan saya juga sudah over exhausted untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Makanya saya berinisiatif untuk menjelaskan Departemen saya dan apa saja yang saya pelajari di sana melalui tulisan.

Okay, saya mulai dari sejarah IKK ya.

Sejarah IKK

Dosen IKK

Jaman dahulu kala (haduh, kok kayak mo ngedongeng sih?? :P), IKK itu namanya juga IKK (lho, kok?). Iya, sama IKK juga, tapi kepanjangannya yang beda. Kalau IKK yang jaman dulu itu singkatan dari Ilmu Kesejahteraan Keluarga, sedangkan kalau yang sekarang Ilmu Keluarga dan Konsumen. Nah, pada tahun… (tahun berapa ya? Maaf saya lupa…), IKK (Ilmu Kesejahteraan Keluarga) berganti nama menjadi GMSK, singkatan dari Gadis Manis Santapan Kehutanan, ups salah, Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga maksudnya, hehehe…😛 Baca lebih lanjut

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.