Perspektif Holistik Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia

Kualitas sumberdaya manusia (SDM) suatu bangsa sangat menentukan perkembangan bangsa tersebut. Indonesia sebagai negara yang sedang berkembang melakukan berbagai cara untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusianya dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik.

Perkembangan sains modern yang menggunakan paradigma Cartesian telah mendominasi pemikiran manusia pada beberapa dekade terakhir ini. Dalam pandangan Cartesian segala sesuatu dipandang sebagai bagian yang terpisah satu sama lain. Oleh sebab itu, pendekatan yang dilakukan dalam meningkatkan kualitas SDM pada beberapa negara, termasuk Indonesia, dilakukan secara fragmented, yakni hanya dilihat dari aspek fisik saja. Akibatnya kebijakan yang berlaku terkait dengan peningkatan kualitas SDM hanya didekati melalui perspektif gizi dan kesehatan. Asumsinya adalah, jika gizi dan kesehatan masyarakat baik maka dapat meningkatkan kualitas SDM melalui menurunnya tingkat mordibitas, meningkatnya usia harapan hidup, sehingga jumlah hari kerja meningkat, dan tingkat produktifitas meningkat pula, yang selanjutnya akan memicu pertumbuhan ekonomi.

Peningkatan kualitas SDM yang didekati hanya dari aspek gizi dan kesehatan (fisik) saja tanpa memperhatikan dimensi lain yang ada dalam diri manusia (non fisik: attitude, moral, emosi, sosial, spiritual) telah menunjukkan hasil. HDI Indonesia pada tahun 2003 hanya mencapai posisi 112 dari 175 negara, ironisnya peringkat Indonesia tersebut berada dibawah Vietnam (109).

Menyadari kurang tepatnya pendekatan yang dilakukan dalam peningkatan kualitas SDM sebelumnya, menimbulkan pergeseran paradigma peningkatan kualitas SDM ke arah yang lebih holistik. Pendekatan holistik ini didasari oleh pemikiran Fitjrof Capra mengenai pentingnya melihat segala sesuatu secara keseluruhan. Peningkatan kualitas SDM saat ini tidak hanya dilakukan melalui dimensi fisik saja, tetapi juga menyangkut dimensi non fisik yang meliputi aspek mental (psiko-sosial) dan kecerdasan emosi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aspek non fisik mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan aspek fisik. Berdasarkan hal tersebut maka dalam meningkatkan kualitas SDM, aspek fisik dan non fisik merupakan hal yang tidak dapat terpisahkan. Meningkatkan aspek non fisik yang menyangkut karakter atau watak dapat dilakukan melalui perbaikan pengasuhan anak (parenting education) secara eksplisit. Institusi yang sangat berperan disini adalah keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang membentuk perkembangan kepribadian seseorang melalui pengasuhan yang tepat yang dilakukan oleh orang tua. Institusi lain yang juga penting untuk membangun karakter atau watak anak adalah sekolah melalui pendidikan karakter yang menekankan pada aspek pengetahuan (knowing the good), loving the good dan acting the good. Selain itu, paradigma pendidikan di sekolah harus melibatkan tidak hanya aspek kognitif dan fisik (otak kiri), namun juga melibatkan aspek emosi dan spiritual (otak kanan).

Melalui pendekatan holistik dalam meningkatkan kualitas SDM diharapkan generasi yang terbentuk nantinya dapat berkembang seluruh dimensi kemanusiaannya (fisik, akademik, kreativitas, emosi, sosial, dan spiritual) sehingga dapat menjadikan mereka individu yang memiliki kepedulian dan kasih sayang kepada lingkungan sekitarnya. Hanya dengan pendekatan inilah sebuah dunia yang harmoni dan sejahtera dapat terwujud.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: