Seminggu yang lalu saya mudik. Saya mudik menggunakan sarana transportasi kereta api. Saya sangat berharap tidak ada orang yang duduk di sebelah saya di kereta api. Saya berani berharap demikian karena saya mudik 10 hari sebelum lebaran dan jumlah pemudik masih belum padat.
Harapan saya tidak terkabulkan, saya harus mendapati seorang laki-laki setengah baya duduk di sebelah saya dalam perjalanan kereta Jakarta-Surabaya. Namun saya, tak berhenti berharap, saya berharap laki-laki ini tidak bawel dan mengajak saya mengobrol, karena saya saat itu sedang letih sekali dan tidak ingin mengobrol dengan orang yang tidak saya kenal. Alhamdulillah, harapan saya yang kedua dikabulkan Yang Maha Kuasa. Laki-laki itu tidak bawel, dia menghabiskan perjalanan dengan membaca buku dan tidur. Dia tidak mengajak saya untuk ngobrol kecuali saat menanyakan saya turun dimana. Saya jawab ”di Surabaya” dan saya balik bertanya padanya, dia menjawab dia turun di Semarang. Alhamdulillah, saya mendapat ”bonus”! Saya sudah mendapatkan teman duduk yang tidak bawel dan setengah perjalanan Jakarta-Surabaya (Semarang-Surabaya) saya tempuh dengan tidak memikili teman duduk di sebelah saya (kecuali kalau ada orang yang nanti naik kereta ini di Semarang danmenggantikan posisinya, saya berharap tidak ada dan memang tidak ada orang yang menggantikannya, senangnya…
).
Komentar Terakhir